Umar al-Khayyam; Matematikawan yang Masyhur Sebagai Sastrawan

1
139

BincangSyariah.Com – Umar al-Khayyam merupakan ilmuan Persia yang ahli dalam berbagai bidang, diantaranya matematika, astronomi, filsafat, sejarah, fiqih, bahasa, dan sastra. Al-Khayyam lebih terkenal sebagai penyair dengan karyanya yang berjudul Ruba’iyyat. Sajak-sajak empat baris dalam buku Ruba’iyyat telah diterjemahkan dari bahasa Persia ke berbagai macam bahasa dunia, seperti bahasa Inggris, Arab, Perancis, Italia, Jerman, Turki, Rusia, dan masih banyak lagi. Terjemahan Ruba’iyyat atau quatrains yang dibuat oleh Edward Fitzgerald semakin membuat nama al-Khayyam dikenal dunia.

Berggren dalam bukunya Episodes in the Mathematics of Medieval Islam (h. 14) mengatakan bahwa ketenaran al-Khayyam di luar dunia Islam sebagai seorang penyair mengalahkan ketenarannya sebagai matematikawan, padahal kontribusinya terhadap bidang matematika dan astronomi lebih besar.

Profil al-Khayyam

Al-Khayyam adalah ilmuwan muslim yang bernama lengkap Ghiyats ad-Din ‘Umar al-fath bin Ibrahim al-Khayyam. Lahir 18 Mei 1048 di Nishapur (Naisabur), daerah bagian Iran yang kemudian dikenal sebagai daerah Khurasan. Kelahirannya tak lama sebelum matematikawan bernama al-Biruni wafat.

Al-Khayyam berasal dari bahasa Arab yang berarti pembuat tenda. Nama al-Khayyam disematkan kepadanya karena leluhurnya merupakan seorang pembuat tenda. Meskipun keislaman al-Khayyam sempat diragukan, namun sejarah mencatat bahwa al-Khayyam pernah melaksanakan haji ke Mekah. Fakta tersebut semakin meyakinkan bahwa ilmuan yang satu ini merupakan seorang muslim.

Kecerdasan yang dimiliki oleh al-Khayyam sungguh luar biasa. Dikisahkan ia mampu menghafal seluruh isi buku setelah tujuh kali membacanya. Ahmad Romi dalam muqadimah terjemahan Ruba’iyyat dengan judul Ruba’iyyat al-Khayyam (hal. 11) menceritakan bahwa al-Khayyam membaca suatu buku di Ishfahan sebanyak tujuh kali, menghafalnya, lalu kembali ke Naisabur dan menulis ulang isi buku tersebut berdasarkan daya ingatnya.

Baca Juga :  Mengenal al-Khawarizmi: Membawa Konsep Angka 0 ke Dunia Islam

Beberapa karya al-Khayyam sudah diterjemahkan, sehingga kontribusinya terhadap ilmu pengetahuan bisa kita nikmati sampai saat ini. Mohaini Mohamed dalam Great Muslim Mathematicians menyebutkan bahwa sedikitnya 10 karya al-Khayyam ada di The Catalague of the Persian and Arabic Manuscript. Karya-karya tersebut diantaranya The Rubaiyat, Demonstrations of Algebraic Problems, Some Dificulties of Euclid’s Definitions, The Ziji malik Shahi, A handbook on Natural Science, al-Kaun wa at-Taklif, al-Wujud, Nizam al-Mulk, Lawazim al-Amkina, dan The Exactude of the Indian Method of Extracting Squares and Cube Roots.

Kebanyakan ilmuan meyakini bahwa al-Khayyam wafat pada usia 83 tahun, yaitu sekitar tahun 1131. Sebelum wafat, al-Khayyam berharap agar dimakamkan di Ishfahan (masuk wilayah Negara Iran). Baginya, di sana angin akan meniupkan aroma bunga di atas kuburnya. Keinginannya pun tercapai dan hingga kini makam matematikawan tersebut ada di Ishfahan.

Kontribusi al-Khayyam untuk Matematika

Penerjemah karya al-Khayyam, yaitu Rashdi Khalil dalam pendahuluan buku Algebra wa Al-Muqabala; An Essay by the Uniquely Wise ‘Abel Fath Omar Bin Al-Khayyam on Algebra and Equations mengatakan bahwa setelah membaca teorema dan pembuktian yang ditulis oleh al-Khayyam, membuatnya yakin bahwa al-Khayyam merupakan matematikawan hebat. Bidang matematika yang al-Khayyam geluti terdiri dari aritmatika, aljabar, dan geometri. Ketertarikan al-Khayyam terhadap matematika dimulai ketika ia berada di Samarkand. Di sana ia mulai menulis tentang aljabar dan aritmatika.

Karya al-Khayyam tentang aljabar mulai dikenal dunia Barat pada tahun 1742. Sayangnya, karya tersebut dikenal setelah al-Khayyam wafat. Meskipun namanya tak seharum nama Diophantus dan al-Khawarizmi, kepintaran al-Khayyam di bidang aljabar pantas untuk diacungi jempol. Al-Khayyam secara sistematis mempelajari semua persamaan kubik serta menggunakan bagian kerucut untuk menentukan akar-akar persamaannya sebagai segmen garis yang diperoleh dari perpotongan kurva. Selain itu, al-Khayyam juga menggunakan pendekatan geometri dalam menyelesaikan permasalahan aljabar.

Baca Juga :  Keutamaan dan Intisari Surat An-Nisa

Kehebatan al-Khayyam terlihat pada buku Algebra wa Al-Muqabala; An Essay by the Uniquely Wise ‘Abel Fath Omar Bin Al-Khayyam on Algebra and Equation. Dalam buku tersebut, al-Khayyam membuat klasifikasi persamaan yang terdiri dari 6 persamaan sederhana dan 19 persamaan gabungan. Al-Khayyam juga membagi persamaan tersebut menjadi persamaan yang dapat diselesaikan menggunakan metode numerik, persamaan yang memerlukan metode kerucut, dan persamaan yang memerlukan metode geometri.

Jika direpresentasikan dalam bentuk simbol modern, persamaan sederhana yang dimaksud oleh al-Khayyam adalah x = c; x2 = c; x3 = c; x2 = cx; x3 = cx2 dan x3 = cx. Salah satu contoh dari bentuk x2 = cx adalah jika diketahui suatu persamaan x2 = 5x, berapakah nilai ?

Jika dipecahkan menggunakan metode numerik, kita dapat membagi kedua ruas dengan x, sehingga nilai x = 5. Pembuktian secara geometri yang dilakukan oleh al-Khayyam adalah membuat suatu persegi yang luasnya sama dengan 5 kali panjang sisinya. Hasilnya akan sama dengan cara numerik, yaitu x = 5 karena 52 = 5×5.

Teori Persamaan rumusan Omar al-Khayyam
Teori Persamaan rumusan Omar al-Khayyam

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here