Ulama yang Mendapat Gelar Sultan

1
13

BincangSyariah.Com – Gelar sultan al-ulama adalah gelar yang istimewa, tak setiap ulama mampu menyandang gelar itu. Dari artinya saja, cukup membuat kita terkesima kala mendengarnya. Apalagi sampai menyaksikan dan berhadap-hadapan dengan sang penyandang gelar.

Sulthan al-ulama merupakan gabungan dari dua kata, yaitu sulthan yang berarti raja dan ulama yang dalam gramatika bahasa Arab adalah bentuk plural dari kata alim, berarti para ulama. Jadi, arti dari gelar tersebut adalah rajanya para ulama. Tiada yang tak takut dan takluk kepada sulthan al-ulama. Jangankan rakyat biasa, para penguasa saja tunduk.

Bukan hal mudah memperoleh gelar itu. Menyimak kisah perjalanan mereka, sepertinya yang menjadi syarat mutlak untuk menyandangnya adalah berhasil menaklukkan penguasa, dengan makna kemampuan mengatur mereka, di saat semua orang sedang di bawah aturan mereka.

Barangkali, ada baiknya kita langsung menyimak kisah seorang ulama dengan gelar sulthan al-ulama berikut; dialah imam Malik bin Anas. Sang pendiri mazhab Malikiyah. Beliau berhasil menyandang gelar itu karena mampu menundukkan raja Harun ar-Rasyid, pemerintah daulah Abbasiyah.

Suatu ketika, kala tersiar berita bahwa imam Malik telah membacakan kitab monumentalnya, al-Muatta’ kepada masyarakat, raja Harun ar-Rasyid memerintahkan perdana menterinya, al-Barmakiy untuk menghadap sang imam agar berkenan membawa dan membacakan kitab itu juga kepada sang raja. Kemudian dengan penuh wibawa, imam Malik menjawab;

أقرئه السلام وقل له إنّ العلم يزار ولا يزور وإنّ العلم يؤتى ولا يأتي

“Sampaikan salam kepadanya (Harun ar-Rasyid), dan katakan, ‘ilmu itu dikunjungi bukan mengunjungi dan didatangi bukan mendatangi”.

Singkat cerita, ketika berita penolakan itu tersebar ke seluruh penduduk Irak, saat sang raja berhasil betemu sang imam dan menyoal penolakan tersebut, Harun ar-Rasyid pun akhirnya harus menakar hujan nasehat imam Malik di hadapan banyak orang yang nyaris membasahi pakaian kebesarannya.

Baca Juga :  Habib Idrus bin Salim Al-Jufri dan Syair Kemerdekaan Indonesia

Setelah diserang nasehat yang bertubi-tubi, tumbuhlah benih kesadaran raja Harun dan seketika juga beranjak dari duduknya, lalu berangkat bersama imam Malik menuju kediaman sang imam untuk mendengar kitab al-Muatta’ dibacakan. Sesampainya di sana, raja Harun tidak bagai layaknya murid yang hendak mengaji, ia juga duduk di kursi seperti imam Malik. Sesaat sebelum raja Harun ar-Rasyid membaca kitab itu, ia menyempatkan diri menawar;

تقرؤه عليّ؟

“Maukah engkau membacakan kitab ini padaku?”

Ucapnya santun. Imam Malik pun menjawab;

يا أمير المؤمنين ما قرأته على أحد منذ زمان

“Wahai amirulmukminin, aku belum pernah membacakan kitab ini kepada siapapun sejak lama”.

Tampak imam Malik terus mendesak sang khalifah, namun sepertinya ia malu akan membaca kitab al-Muwatta’ di hadapan orang-orang di sana. Sehingga ia merayu lagi;

فيخرج الناس حتى أقرأه أنا عليك

“Bagaimana kalau orang-orang di sini keluar dahulu, sehingga saya dapat membaca kitab ini untuk engkau”.

Dengan tandas dan bijaksana imam Malik menasehati;

إن العلم إذا منع من العامة لأجل الخاصة لم ينفع الله به الخاصة

“Ilmu itu ketika hanya dikhususkan untuk seseorang dan ditutup rapat-rapat untuk yang lain, maka Allah tak akan pernah mengguyurkan manfaat ilmu bagi seseorang tersebut”.

Karena memahami besar malu yang dirasa sang raja, imam Malik lantas menyuruh Ma’in bin Isa al-Qazzaz membaca al-Muatta’ untuk rajanya. Saat baru mulai membaca, imam Malik lagi-lagi dengan penuh wibawa memberinya satire, ia berkata;

يا أمير المؤمنين أدركتَ أهل العلم ببلدنا وإنهم لا يحبون التواضع للعلم

“Wahai amirulmukminin, engkau tahu sendiri bagaimana kondisi ahli ilmu di negeri kita, mereka tidak suka tawaduk kepada ilmu”

Ucap sang imam memberi nasehat. Seketika juga Harun ar-Rasyid, sang raja Abbasiyah yang terhormat itu turun dari kursinya dan dusuk bersimpuh di hadapan imam Malik bin Anas, rajanya para ulama.

Baca Juga :  Pembentukan Karakter Santri Melalui Jadwal yang Padat

Pada tahun 577 atau 578 dalam riwayat yang lain, kota Damaskus yang kini adalah ibu kota Suriah, basah dengan tetesan hujan rahmat dan terang dengan seberkas cahaya yang sejukkan jiwa. Karena tahun itu adalah tahun di mana sang rajanya para ulama dilahirkan. Dialah syekh ‘Izzuddin Abdul Aziz bin Abdussalam.

Keilmuan, kewarakan, terutama keberaniannya menyampaikan kebenaran membuatnya dikenal di mana-mana. Namun, tidak semata keberanian, lantas masyarakat luas mengaguminya, tetapi lebih dari itu, yakni keberanian dengan penuh etika. (Baca: Tiga Akhlak terhadap Sesama Menurut Ibnu Taimiyah)

Mesir adalah tanah baru baginya setelah hijrahnya dari tanah kelahiran, Damaskus. Dan di sanalah ia memperoleh gelar sultan al-ulama. Adapun sebabnya, adalah berawal dari kedai seorang perempuan yang menjual berbagai macam minuman keras serta menyediakan fasilitas untuk kemungkaran lainnya.

Karena tahu itu, segera syekh ‘Izzuddin bin Abdussalam mendatangi seorang raja Mesir bernama Najmuddin Ayyub yang menjadi penguasa di masanya. Di hadapan bala tentaranya yang berbaris rapi, raja Ayyub yang penuh wibawa dengan baju kebesaran ala raja mesir yang dikenakannya, saat para pemerintah bawahan raja berdatangan memberi hormat, sampai nyaris menciumi tanah, saat itu pula sang sultan al-ulama meneriakinya dengan suara lantang;

يا أيوب، ما حجتك عند الله إذا قال لك: ألم أبوّئ لك ملك مصر ثم تبيح الخمور؟

“Wahai Ayyub, apa Jawabanmu nantinya, kalau Allah menyoalmu dengan pertanyaan ‘bukankah aku telah jadikan kamu sebagai raja Mesir, lalu kau legalkan khamar di mana-mana?”.

Raja Mesir pun tercengang mendengar suara lantang itu, lalu dengan penuh kebingungan ia bertanya;

هل جرى ذلك؟

“Benarkah hal itu terjadi?”.

Tanyanya perlahan mengeja. Syekh ‘Izzuddin pun menjawab seraya menjelaskan apa yang tengah terjadi di kehidupan masyarakatnya;

Baca Juga :  Ibnu Khaldun dan Khilafah Islamiyyah

نعم، الحانة الفلانية فيها الخمور وغيرها من المنكرات وأنت تنقلب في نعمة هذه المملكة

“Iya, benar. Di kedai si Fulanah terdapat banyak khamar dan fasilitas-fasilitas kemungkaran lainnya. Sementara kau hanya berkutat di tengah kenikmatan serta kemewahan kerajaan ini”.

Tegas sultan al-ulama dengan berapi-api di hadapan raja dan bala tentaranya. Mendengar penjelasan itu, sang raja berusaha mengemis ampun dengan berkata;

يا سيّدي، هذا أنا ما علمته هذا من زمان أبي

“Wahai tuanku, ini sama sekali saya tidak tahu-menahu, ini sudah ada sejak zaman bapakku”.

Tuturnya menjelaskan dengan penuh melas. Syekh ’Izzuddin dengan cepat menimpali;

أنت من الذين يقولون: إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلىٰ أُمَّةٍ

“Kamu termasuk dari orang-orang yang berkata: (Bahkan mereka berkata), sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut satu agama, (dan kami mendapati petunjuk untuk mengikuti jejak mereka)”.

Pungkas beliau di hadapan banyak orang. Dan seketika juga raja Ayyub menulis surat penutupan kedai remang-remang itu.

Hikmah yang menarik dan patut dicontoh dari kisah ini adalah keberanian syekh ‘Izzuddin bin Abdussalam yang penuh etika. Hal ini tercermin dari sikap beliau yang tidak mengobrak-abrik kedai remang-remang si Fulanah yang dijadikan sebagai pusat kemungkaran di daerah itu. Melainkan, dengan langsung menuju ke akar masalahnya, yaitu raja.

Dan kerennya, beliau mampu menaklukkan itu seorang diri, tanpa bantuan ulama lain. Beliau bersikap elegan begini, lantaran ia paham bahwa masalah yang diselesaikan dengan masalah, tak akan pernah berbuah kemaslahatan dan kedamaian. Dan sikap inilah yang sangat langka sekarang. Lalu pertanyaannya, masih adakah kini, para sultan al-ulama di bumi tercinta kita, Indonesia?. Wallahua’lam.

Wallahua’lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here