Ulama yang Membuat Istri Mereka Cemburu pada Buku

0
19

BincangSyariah.Com – Cemburu merupakan perasan natural yang mungkin pernah dialami oleh siapapun, termasuk juga pasangan yang terikat dalam tali pernikahan. Biasanya perasaan cemburu muncul ketika ada pihak ketiga yang datang dan dirasa dapat menganggu kestabilan hubungan cinta yang sedang dijalin. Namun pernahkah Anda membayangkan bila yang menyebabkan cemburu pada buku?

Beberapa ulama tempo dulu sangat memperhatikan buku mereka, sehingga perhatian yang besar ini membuat istri mereka dihinggapi perasaan cemburu. Saking besarnya perasaan cemburu tersebut, sampai-sampai mereka melakukan tindakan di luar batas kewajaran. Berikut kisah para ulama yang membuat istri mereka cemburu pada buku:

Kisah pertama datang dari Imam Ibnu Syihab Az-Zuhri (671-741 M).  Dalam kitab al-Manhaj As-Sawy (halaman 403) disebutkan bahwa Imam Ibnu Syihab Az-Zuhri setiap kali duduk di rumah, pasti di sekitar beliau terdapat banyak buku. Ketika membaca buku-buku tersebut, pasti beliau lupa akan segala urusan dunia. Sampai-sampai istrinya cemburu dan berkata, “Demi Allah! Buku-buku itu lebih aku cemburui dibanding jika beliau menambah 3 istri lagi!”

Kisah beliau tak jauh beda dengan kisah Imam Sibawaih (760-796 M), pakar gramatika bahasa Arab yang sangat berpengaruh di dunia Islam dan murid kesayangan Imam al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi. Dalam kitab al-Fushush (5/8), Imam Shaid al-Baghdadi menceritakan kesibukan Imam Sibawaih yang mencurahkan waktunya untuk membaca dan menulis. Jadi beliau termasuk ulama yang produktif. Namun karya beliau yang sampai pada kita hanya tersisa satu kitab yang berjudul ­al-Kitab. Inipun yang memberi judul bukan beliau namun orang yang menemukannya

Hilangnya kitab beliau bukan tanpa sebab. Imam Sibawaih mempunyai istri yang sangat mencintai beliau. Namun istri beliau ini dilanda rasa cemburu terhadap buku-buku yang telah mengalihkan perhatian suaminya tersebut. Kesempatan untuk melampiaskan perasaan cemburu tersebut datang ketika Imam Sibawaih tidak ada di rumah karena beliau sedang berbelanja di pasar. Oleh sang istri, buku-buku yang ada di perpustakaan dibakar, berikut pula naskah awal kitab yang sedang beliau karang.

Saat kembali dari pasar, Imam Sibawaih pingsan saat mendapati buku-bukunya hangus. Ketika sadar kembali, beliau langsung menceraikan istrinya tersebut. Akhirnya beliau menulis lagi buku gramatika bahasa Arab yang diberi judul al-Kitab li Sibawaih oleh penemunya dan sampai di tangan kita.

Nasib serupa dialami oleh Imam al-Laits bin Al-Mudhaffar al-Kanani, sahabat dari Imam al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi. Imam Suyuthi dalam kitab al-Muzhir fi Ulum al-Lughah wa Anwa’iha (1/62) menceritakan bahwa Laits menerima hadiah khusus dari al-Khalil berupa manuskrip naskah kamus yang baru ia susun. Kamus itu berjudul al-‘Ain yang merupakan kamus bahasa Arab pertama di dunia. saat itu belum ada naskah salinannya sehingga naskah yang diberikan kepada Laits adalah satu-satunya naskah kamus al-‘Ain. Laits begitu bahagia mendapatkan naskah tersebut dan berupaya menggantinya dengan uang 100 ribu dirham.

Siang dan malam perhatian Imam Laits tidak lepas dari kamus al-‘Ain. Beliau menghabiskan waktunya untuk menghapal kamus tersebut. Setengah dari isi kamus tersebut berhasil beliau hapalkan. Namun perhatian yang besar ini menuai kecemburuan istrinya, selain juga karena budak cantik yang baru dibeli suaminya.

Saat ada suatu kesempatan dimana Imam Laits keluar, sang istri mengambil kamus tersebut dan membakarnya. Imam Laits mengetahui hal tersebut setelah kembali ke rumahnya dan sangat menyayangkan kembali tindakan istrinya. Sebab naskah al-Ain yang dibakar adalah naskah satu-satunya dan belum disalin, sedangkan penulisnya, Imam al-Khalil, sudah meninggal dunia. Akhirnya Imam Laits berinisiatif menulis kembali setengah dari isi kamus dengan bermodalkan hafalannya, sedangkan sisanya disempurnakan oleh hasil ijtihad para sastrawan Arab pada zaman itu.

Wallahu A’lam…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here