Ulama-Ulama yang Wafat Akibat Wabah Penyakit

1
2730

BincangSyariah.Com – Dalam dunia medis, wabah merupakan penyakit yang dapat berpindah dari satu individu ke individu lainnya, baik itu pada manusia maupun hewan. Wabah ada yang sifatnya ringan atau bisa sembuh dengan sendirinya dan ada yang sifatnya mematikan, seperti yang saat ini tengah melanda penduduk dunia, Coronavirus. Di Indonesia khususnya, penyakit tersebut tercatat sudah memakan korban sebanyak 55 orang (25/03/20). (Baca: Mengenal Subaiah Al-Aslamiyah; Sahabat Nabi Perempuan yang Wafat Terkena Wabah)

Wabah bukan hanya dialami oleh orang-orang saat ini, namun orang-orang zaman dahulu pun merasakannya. Bahkan, di dunia Islam, wabah juga disinggung di berbagai literatur, seperti hadis dan sejarah. Dari mulai masa Nabi hingga abad ke-10 H, persoalan wabah merupakan pembahasan yang cukup menarik bagi mereka, mengingat dampak dari wabah yang mampu menewaskan sanak-keluarga, kerabat, dan kawan.

Sebagaimana yang pernah menimpa 3 putri Ibn Hajar al-Asqalani (w. 852 H). Mereka adalah ‘Aliyah dan Fathimah yang wafat di tahun yang sama, yaitu 819 H dan Zen Khatun yang wafat pada tahun 833 H. Ketiganya wafat akibat keganasan wabah Tha’un. Para ulama terdahulu tidak mempunyai istilah spesifik untuk menyebut macam-macam wabah menular. (Baca: Doa Nabi Saw Ketika Madinah Terserang Wabah)

Umumnya, jika itu penyakit menular, maka disebut Tha’un. Namun, ahli medis hari ini mengartikan Tha’un dengan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri/kutu-kutu yang berasal dari hewan (umumnya tikus, dikenal dengan pes), kemudian berpindah ke manusia. Penyakit ini menyebabkan pembengkakan dan demam yang sangat tinggi. Para peneliti Arab menduga, bahwa kewafatan ketiga putri Ibn Hajar merupakan sebab dirinya menulis karya Badzl al-Ma’un fi Fadhl al-Tha’un (Pertolongan maksimal dalam mengatasi Tha’un).

Baca Juga :  Sejarah Bulan Ramadhan: Ali bin Abi Thalib Mengislamkan Yaman

Di samping keganasan wabah Tha’un yang mampu merenggut nyawa sanak-keluarga Ibn Hajar, ternyata Tha’un juga menewaskan sejumlah ulama-ulama Islam terdahulu. Berikut sebagian ulama yang wafat akibat wabah penyakit Tha’un.

Pertama, Abu Aswad al-Duali (w. 69 H)

Abu Aswad al-Duali merupakan pencetus ilmu Nahwu dan pakar tata bahasa Arab, bahkan ia dijuluki bapak bahasa Arab. Dalam kitab Siyar A’lam al-Nubala karya al-Dzahabi (w. 748 H) dan Mu’jam al-Buldan karya Yaqut al-Hamawi (w. 622 H), dinyatakan bahwa ia wafat akibat keganasan wabah Tha’un yang pernah terjadi pada tahun 69 H atau 670 M.

Kedua, Taj al-Din al-Subki (w. 771 H)

Ia adalah seorang ulama di bidang fiqh mazhab Syafi’i, sejarah dan Qadhi di Damaskus. Al-Subki memiliki karya mengenai wabah yang dikenal dengan Juz fi al-Tha’un (Diskursus Tha’un). Hal yang mengejutkan dari dirinya adalah ia wafat akibat wabah Tha’un, senada dengan pembahasan Tha’un yang pernah ia tulis.

Ketiga, Ibn Abi Hajlah al-Tilmisani (w. 776 H)

Ia adalah seorang sastrawan dan penyair Arab. Semasa hidupnya, ia pernah menulis kitab tentang wabah, al-Thib al-Masnun fi Daf’ al-Tha’un (Pengobatan yang direkomendasikan untuk mencegah Tha’un). Pada waktu kewafatannya, ia divonis terkena wabah Tha’un senada dengan wabah yang pernah ia singgung dalam karyanya.

Demikianlah beberapa ulama yang wafat akibat wabah penyakit. Keistimewaan mereka tampak begitu menakjubkan. Seolah-olah mereka mampu mendeteksi apa yang akan terjadi di akhir hayat mereka, seperti al-Subki dan al-Tilmisani. Di samping itu, ikatan batin antara ayah dan anak, menginspirasi Ibn Hajar untuk membuat karya tentang wabah, sebagai bentuk kecintaan dan kerinduan bagi anak-anaknya. Wallahu A’lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here