Tujuh Wasiat Nabi Muhammad kepada Abu Dzar

0
631

BincangSyariah.Com – Jundub bin Junadah bin Sakan atau lebih dikenal dengan nama Abu Dzar al-Ghifari atau Abizar al-Ghifari adalah sahabat Nabi Muhammad. julukan Al-Ghifari disematkan dari suku asal beliau yang dikenal sebagai salah satu suku arab yang terkenal senang bepergian menempuh perjalanan jarak jauh tiada tara.

Abu Dzar terkenal dengan wataknya yang menentang kebatilan, karena itu ketika ia mendengar tentang Rasulullah, Abu Dzar menempuh jarak ribuan kilo dan akhirnya mengucapkan kalimat syahadat di hadapan beliau. Abu Dzar merupakan salah satu sahabat yang pernah diberikan wasiat oleh Rasulullah dalam sebuah dirawayat diceritakan

عن عمران بن مسلم قال بلغني أن أبى ذر قال: أوصاني خليلي صلى الله عليه وسلم لم أتركهن، أوصاني بحب المساكين والدنو منهم، وأن أنظر إلى من هو أسفل مني ولا أنظر إلى من هو فوقي، وأن أصل رحمي وإن أدبرت وقطعت، وإن أستكثر من قول لاحول ولا قوة إلا بالله، وإنها من كنوز الجنة، وأن لا أسأل الناس شيئا، وأن لا أخاف في الله لومة لائم، وأن أقول الحق وإن كان مرّا

Dari Amran bin Muslim berkata, sesungguhnya Abu Dzar berkata, “Telah memberikan wasiat kepadaku kekasihku Muhammad Saw yang tidak akan aku meninggalkannya; beliau bewasiat untuk mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka, agar aku melihat kepada orang-orang yang lebih bawah dariku dan tidak memandang orang-orang yang berada di atasku, agar aku menyambung tali silaturahim meski ia menolak dan memutus silaturahim, memperbanyak zikir laa haula wa laa quwwata illa billah karena itu adalah harta karun surga, agar tidak meminta kepada manusia, agar aku tidak takut celaan orang-orang yang suka mencela karena Allah, dan agar aku mengatakan yang benar walaupun itu pahit. (HR. Ahmad & Tirmizi)

Baca Juga :  K.H. Turaichan Adjhuri: Ulama Ahli Falak dari Kudus

Abu Laist As-Samarqandi dalam Tanbihul Ghafilin, kualitas hadis di atas hasan shahih. Maksudnya shahih berdasarkan salah satu sanadnya dan hasan berdasarkan sanad yang lain. Sebagaimana diketahui hadis di atas juga diriwayatkan oleh Thabrani dalam Mu’jam Khabir, Abu Nu’aim dalam Al-Hulliyah, serta Baihaqi dalam Syu’b al-Iman dan Sunannya. Ibnu Katsir juga memasukkan hadis di atas untuk dalam penjelasan surat Al-Maidah ayat 54 dalam tafsirnya.

Abu Laist menceritakan karena sangat inginnya Abu Dzar menjalankan wasiat yang diberikan Rasulullah kepadanya, suatu kali pernah ia mendapati pecut kuda yang ia pegang lepas dari genggamannya tapi ia tidak suka menyuruh orang lain untuk memungutkan pecut itu untuknya. Berikut ini tujuh wasiat Rasulullah kepada Abu Dzar:

Pertama, mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka. Menurut Abu Laist dalam salah satu riwayat, Rasulullah pernah menyebutkan bahwa orang-orang miskin adalah kaum yang paling Allah cintai.

Kedua, agar melihat kepada orang-orang yang lebih bawah dan tidak memandang orang-orang yang berada di atas. Hal tersebut agar kita qanaah dan bersyukur terhadap apa yang telah Allah anugerahkan kepada kita dan terhindar dari sikap iri dan dengki.

Ketiga, menyambung tali silaturahim kepada sanak saudara dan sahabat meski di antara mereka ada yang menolak dan memutus silaturahim.

Keempat, memperbanyak zikir laa haula wa laa quwwata illa billah karena itu adalah harta karun surga yang tidak banyak orang mengetahuinya.

Kelima, larangan meminta kepada manusia. Hal tersebut merupakan akhlak yang dicontohkan Nabi Muhammad, beliau adalah sosok yang tidak akan menyuruh atau meminta orang lain melakukan pekerjaannya selama beliau mampu mengerjakannya sendiri, seperti pernah diriwayatkan bahwa beliau tidak segan menjahit bajunya sendiri atau pekerjaan rumah lainnya.

Baca Juga :  Maulana Rumi dan Eksistensi Tarian Sufinya

Keenam, tidak takut celaan orang-orang yang suka mencela. Sebab kita seharusnya hanya takut kepada Allah bukan dengan apa yang orang bicarakan tentang kita.

Ketujuh, agar aku mengatakan yang benar walaupun itu pahit. Hal ini meskipun sekilas gampang namun jika dipraktekkan sungguh berat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here