Tujuh Ulama yang Dipenjara Era Khalifah Islamiyah

1
41

BincangSyariah.Com – Masa Khilafah Islam tak semuanya sempurna.  Pada periode itu banyak ulama yang dipenjara. Tersungkur dalam gelapnya jeruji besi. Cambuk dan penjara merupakan momok yang sering menjadi langganan cendikiawan Islam pada era ini.

Alkisah, seorang laki-laki digiring oleh dua pria bertubuh kekar. Kedua tangannya diikat. Lelaki malang itu lantas disandarkan pada sebuah pasak. Di sekitaran kayu itu, digali lubang seukuran tiga hasta. Konon, agar tiang sandaran itu makin kokoh.

Di tanah lapang itu  telah berdiri belasan ribu orang. Mereka mengelilinginya. Ada yang merasa iba hati.  Ada pula yang memandang dengan air mata bercucuran. Tentu ada juga yang merasa tak peduli. Banyak kian  orang yang hadir  untuk menengok ‘aksi’ dari seorang algojo  yang akan melancarkan aksi bengisnya itu.

Algojo mengangkat cambuk setinggi yang ia bisa lalu dengan sekuat tenaga, lalu melentingkannya pada laki-laki yang terikat pada pasak itu. Ia yang sedang terikat tidak dapat menyembunyikan rasa sakitnya. Satu lengkingan keluar dari mulutnya yang kebas. Namun kulit manusia tidak punya kuasa seperti baja. Dalam hitungan detik, darah merah segar bermuncratan dari sela-sela kulit, bekas terkena sabetan cambuk si algojo.

Tak berselang lama, pria ini pun digiring ke lubang tahanan. Ia dipenjara, tanpa persidangan. Ia dihukum. Ia diasingkan di balik jeruji. Dalam salah satu riwayat dijelaskan penjara itu berupa lubang—mirip sumur—yang digali.

Saya tak pernah menyaksikan hukum cambuk. Tapi yang saya tahu itu terjadi. Peristiwa nyata adanya. Dicatat dalam lembar sejarah Islam. Tahukah Anda, siapa yang dituduh pendosa itu? terbayangkah di kepala Anda, siapa sosok yang dijerumuskan ke penjara itu?  Tahukah Anda kapan peristiwa nahas itu terjadi?

Dia adalah Nu’man bin Tsabit bin Zufi At-Tamimi—nama populernya Imam Abu Hanifah—. Seorang ulama karismatik dalam bidang yurisfrudensi Islam. Di samping menganut aliran rasional, Abu Hanifah dikenal sebagai pribadi wara dan takwa.  Dalam perjuangannya dalam menggali ilmu, sang Imam Mazhab ini, acap kali melakukan pengembaraan dari satu negeri menuju daerah lain, guna memperoleh hadits.

Dalam kitab Ta’rikh Baghdad, karya Khatib al- Bagdadi dikisahkan pencambukan dan hukuman terhadap Abu Hanifah dikarena beliau menolak menjadi Qadhi. Ia menolak jabatan yang ia anggap tak kompeten untuknya. Ia tak membayangkan sebelumnya, penolakan ini akan membawa kepada malapetaka.

Siapa yang punya kuasa untuk memerintah hukuman? Dia adalah al-Mansur dari Bani Abbasiyah. Seorang yang mendaku diri sebagai “amirul mukminin”.  Dan juga seorang menggemborkan diri, yang oleh Abu A’la Al Maududi disebut dzillulloh fil ard (bayangan atau wakil Tuhan di Bumi).

Sejarah mencatat, hukuman cambuk terhadap Abu hanifah, tak hanya terjadi di masa khalifah Abbasiyah. Jauh sebelumnya, di era masa Marwan bin Muhammad pun sang Imam dijatuhi hukuman cambuk. Sebab menolak untuk dijadikan hakim.

Sisi kelam Khilafah al-Mansur pun berlanjut. Si tangan besi itu pun kembali menelan mangsa. Dalam Kitab, Tarikh Khulafa,  karya Imam As-Suyuthi, menjelaskan bahwa Imam Malik bin Anas pun sempat dicambuk oleh al-Manshur. Ia menjadi korban fitnah. Isu bahwa ia mengeluarkan fatwa terlarang. Bunyinya;  boleh memberontak  terhadap khilafah.

Gubernur Madinah, tempat ia tinggal, lantas menangkap dan melaksanakan hukuman cambuk. Dalam riwayat lain diceritakan, kabar miring ini dihembuskan oleh Ja’far bin Sulaiman. Ia merasa iri terhadap Imam Malik. Lantas meniupkan isu palsu tersebut.

Noda hitam sejarah Islam pun semakin menggegerkan pada masa khalifah al-Makmun dan dua khilafah penerus tahtanya. Peristiwa berdara itu dikenal dalam Islam dengan sebutan mihnah kholaq Alquran—suatu bentuk  ujian tentang kemakhlukan al-Qur’an. Konsep ini merupakan cobaan dan paksaan dari penguasa terhadap pejabat negara, ulama fiqih, dan para ahli hadist.

Upaya ini dilakukan oleh khalifah untuk menggembosi kekuatan oposisi. Ia membunuh perlawanan para cendikiawan Islam populer ketika itu.  Ia, lantas menulis surat kepada gubernur Bagdad,  Ishaq bin Ibrahim, yang berisi ancaman;  cambuk, penjara, dan hukuman mati bagi yang menolak gagasan itu.

Menariknya, kaum Mu’tazilah dikambing hitamkan atas aksi bejat ini. Sejatinya, desain konflik ini untuk menyibukkan para intelektual dalam konflik, sedangkan kekuasaan negara semakin tak terbentuk.

Ahmad bin Hanbali merupakan sosok yang mendapatkan hukum akibat mihnah.  Ia disiksa dan dicambuk. Dalam Tarikh Thabari, pencetus mazhab Hanbali ini menegaskan Alquran sejatinya bersifat qadim, bukan makhluk.  Imbas pendapat ini, ia dipenjara selama 30 tahun. Bayangkan saja, betapa nahasnya nasib ulama masyhur ini.

Tak saja ahli fiqih yang terkena imbas mihnah, Imam al-Darimi—pakar hadist—, pun terkena imbas dari khilafah Abbasiyah. Ia pun dipenjara layaknya ulama yang lain. Dalam Tesis, Muhammad Qosim Zaman,  Early Abbasid  religious Policies and the Proto Sunni Ulama  menyingkap bahwa mihnah  merupakan insiator dari al-Makmunlah inisiator yang mengusulkan untuk mepertanyakan keortodokan yang dimiliki ulama ahl sunnah.

Guru Imam Hanbali, sekaligus pencetus Mazhab Syafi’i, Abdulah Muhammad bin Idris, pun pernah merasakan pengapnya udara dari balik jeruji. Peristiwa itu terjadi pada khalifah Harun Al-Rasyid. Adalah Mutharrif bin Mazin yang membuat fitnah besar ini.

Imam Syafii pun sempat diseret dengan posisi kedua tangan dirantai besi. Ia diseret dari daerah Yaman sampai ke Bagdad dengan posisi demikian. Betapa tersiksanya. Sesampai di Bagdad, Imam Syafii  membuat pledoi yang membebaskannya dari tuduhan tersebut.

Soal penyiksaan berupa hukuman cambuk dan penjara, tak bisa lepas dari Ibn Taimiyyah. Ia pun mati di balik jeruji  besi. Dalam Kitab Bidayah wa al Nihayah , tercatat  tak kurang dari 12 kali sudah ia keluar-masuk penjara.

Meskipun dipenjara, Ibn Taimiyah merupakan sosok yang sangat produktif dalam berkarya.  Meskipun terkadang fatwa-fatwanya kontroversial. Selain jago dalam menulis, Ibn Taimiyah juga seorang yang hebat dalam ilm jadali (berdebat) dan tentu saja ilmu logika.

Demikianlah daftar panjang ulama yang dipenjara pada masa khalifah Islam. Kisah dan daftar ulama yang dipenjara ini,  menjadi lampu penerang bagi kita, sejatinya politik Islam itu tak selamanya moncer. Banyak intrik dan duri yang mengorinya.

(Baca: Merupakan Akhlak Tercela, Ini Kisah Ulama yang Ingin Selalu Dihormati)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here