BincangSyariah.Com – Banyak sekali bahasa Indonesia yang diserap dari bahasa Arab. Hal ini mungkin dikarenakan orang Indonesia mayoritas beragama Islam atau dipengaruhi kontak budaya selama islamisasi di Indonesia oleh ulama dan pedagang yang berkebangsaan Arab/timur tengah. Bahkan sebagaimana yang informasikan di laman wikipedia menyebutkan bahwa sekitar 2000-3000 kata bahasa Indonesia diambil dari bahasa Arab. Meskipun demikian frekuensinya tidak terlalu besar.

Secara relatif diperkirakan jumlah ini antara 10 % – 15 %. Diantara contohnya adalah kata kursi, ikhlas, sabar, wajib, ulama, ilmu, abad, kitab dan lain sebagainya. Namun, dewasa ini ada kata-kata yang diambil dari bahasa Arab dan sering dikatakan oleh sebagian bahkan mayoritas orang Indonesia tetapi sebenarnya kurang tepat bahkan menjadi salah kaprah. Kata-kata apa sajakah itu? berikut penjelasannya.

Pertama, mahram bukan Muhrim

Mahram dan muhrim adalah berasal dari kosa kata arab yang terdiri dari tiga huruf asli yakni ha’ ra’ dan mim, dan tulisan arabnya pun sama  hanya saja ketika sudah diberi harakat akan berimplikasi pada berubahnya arti. Jika mahram adalah berarti orang atau sesuatu yang diharamkan.

Biasanya kata ini identik dengan sebutan saudara atau sanak famili yang haram untuk dinikahi, seperti ibu, adik kandung adalah mahram, dan jika bukan keluarga maka disebut bukan mahram seperti teman, atau sahabat yang tidak ada hubungan darah. Sementara itu, muhrim adalah orang yang sedang menunaikan ihram ibadah haji atau umrah.

Namun, banyak dikalangan orang Indonesia justru ketika menyebut orang yang bukan saudaranya (yakni yang boleh untuk dinikahi) dengan sebutan muhrim, bahkan pernah dijadikan judul film layar lebar 99% muhrim get merried 5. Padahal isi filmnya sama sekali tidak menunjukkan tentang ihram haji atau umrah, sehingga dapat dipastikan bahwa maksud film tersebut adalah mahram, bukan muhrim.

Baca Juga :  Pandangan Ibnu Khaldun mengenai Igauan Para Sufi

Kedua, lailatul Qadar bukan Malam Lailatul Qadar. Bahasa Arabnya malam adalah lailatun. Dan Allah Swt telah menyediakan satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan di bulan Ramadan yang disebut dengan lailatul qadar atau malam kemuliaan. Sebagaimana firman Allah di dalam surah al Qadar ayat 3

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.

Maka, tidak perlu menyebutkan malam lailatul qadar, karena lailah sudah berarti malam, cukup menyebutkan lailatul qadar saja. Sehingga jika menyebutkan malam lailatul qadar maka memiliki arti malam malam kemuliaan. Padahal Allah Swt hanya menyediakan satu malam saja di bulan Ramadan.

Ketiga, idulfitri bukan Hari raya Idulfitri. Setiap umat beragama pasti memiliki hari raya keagamaan yang diperingati setiap tahunnya. Idul fitri adalah salah satu hari raya bagi umat Islam yang diperingati setelah menjalankan ibadah puasa selama satu bulan. Dan bahasa arab dari hari raya adalah id. Sehingga ketika berlebaran maka cukup mengucapkan selamat idulfitri, bukan selamat hari raya idulfitri.

Keempat, hafidzakumullah bukan rahimakumullah. Bagi seorang pendakwah atau setiap orang yang sedang mengisi suatu acara kebanyakan tidak akan terlepas dari menyapa para hadirin dengan mendoakan rahimakumullah yang berarti semoga Allah merahmati kalian. Padahal di dalam dunia timur tengah sebagaimana yang telah disampaikan oleh K.H. Ali Mustafa Yaqub.

Ulama ahli hadis Indonesia yang pernah belajar di Arab Saudi itu mengatakan bahwa istilah rahimakumullah adalah untuk orang yang telah meninggal dunia. Maka tidak heran jika orang yang sudah meninggal disebut almarhum yang artinya orang yang dirahmati Allah. Sedangkan doa yang dipanjatkan untuk orang yang masih hidup khususnya ketika menyampaikan pidato di depan para hadirin maka doanya adalah hafidzakumullah yang artinya semoga Allah menjaga kalian semua bukan rahimakumullah.

Baca Juga :  Abdullah bin Arius, Sosok Pimpinan Sekte Kristen yang Masih Bertauhid

Kelima, waalaikumussalam bukan waalaikum salam. Salah satu adab seorang muslim ketika menjumpai muslim lainnya adalah dengan mengucapkan salam. Dan menjawab salam adalah berhukum wajib bagi muslim yang mendapatkan salam dari saudara muslim lainnya. Namun, sering kali orang-orang Indonesia menjawab salam dengan mengatakan wa alaikum salam.

Padahal jawaban tersebut kurang tepat karena menurut gramatikal/tata bahasa Arab kata salam harus berupa makrifat yang ditandai dengan al karena ia menjadi mubtada’ yang diakhirkan. Sehingga jawaban yang tepat adalah waalaikumussalam bukan wa alaikum salam.

Keenam, ustadz bukan pak ustadz. Di Indonesia sudah banyak menjamur sekolah-sekolah bukan pesantren tetapi mengatasnamakan berbasis agama. Seperti sekolah islam terpadu dan lain sebagainya. Biasanya murid-muridnya memanggil gurunya dengan sebutan ustadz untuk guru laki-laki dan ustadzah untuk guru perempuan. Karena memang bahasa arab dari pak guru adalah ustadz dan bu guru adalah ustadzah. Maka, ketika memanggil gurunya cukup dengan kata ustadz atau ustadzah, bukan pak ustadz atau bu ustadzah.

Ketujuh, Surah Luqman bukan Surah Alluqman. Kitab suci Alquran terdiri dari 114 surah dengan nama-nama yang berbeda. Namun, di kalangan masyarakat awam Indonesia masih banyak yang beranggapan bahwa nama surah-surah Alquran itu pasti didahului dengan Al.

Padahal tidak semua surah di dalam Alquran di dahului dengan Al, khususnya surah-surah yang terdiri dari sebuah nama seperti surah Luqman bukan Alluqman, Yunus bukan Alyunus, Yusuf bukan Alyusuf, Muhammad bukan Almuhammad, Nuh bukan Annuh, Quraisy bukan Alquraisy dan surah Maryam bukan Almaryam. Surah yasin, thaha, fathir, saba’, fussilat, hud, qaf, dan abasa juga tidak perlu ditambahi Al didepannya. Wa Allahu A’lam bis Shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here