Tujuh Peninggalan Peradaban Islam di Granada Spanyol

0
1329

BincangSyariah.Com – Granada merupakan wilayah Islam terakhir yang berkuasa di Spanyol. Saat berada di bawah kekuasaan Muslim, Granada telah berhasil membangun peradaban maju. Tidak hanya berkonsentrasi pada bidang militer saja, pemerintah saat itu sangat memperhatikan sisi pendidikan sehingga mampu memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk mengembangkan sektor pertanian dan infrastruktur.

Sayangnya, tidak banyak peninggalan Islam yang tersisa di bumi Granada sebab pasca kekalahan umat Muslim, banyak diantara bangunan bersejarah umat Islam dihancurkan atau dirubah menjadi bangunan modern Eropa.

Muhammad Abdullah Annan dalam karyanya Atsar Andalusiah Al Baqiyah fi Isbania wa Portugal menjelaskan beberapa peninggalan peradaban Islam yang masih bertahan di Granada Spanyol. Berikut pemaparannya.

  1. Istana Al Hambra

Istana Al Hambra awalnya hanya berupa sepetak tanah di kota Al Hambra atau yang dikenal dengan Qasbat Al Hambra. Istana ini dibangun oleh Abdurrahman an Nasir dan putranya Hakam Al Mustansir di pertengahan abad empat hijriah.

Kota Al Hambra terletak di sebuah bukit yang cukup tinggi. Keindahan alamnya sangat menawan dan jarang ditemui di wilayah lain. Konon, dulu disini terdapat saluran air bernama Al Hambra sehingga istana ini diberi nama seperti nama saluran air tersebut.

Dari masa ke masa istana Al Hambra terus mengalami perbaikan, termasuk pendirian masjid dan menara pelindung. Istana Al Hambra mencapai puncak kemegahannya di era Yusuf Abu Hujaj.  Ia membangun ruangan dan aula raja di dalam istana dan juga membangun Bab Syariah, pintu utama istana Al Hambra.

Muhammad Abdullah Annan membagi area Istana Al Hambra kedalam dua area. Pertama, area Qumarisy. Area ini dibangun oleh Abu Walid Ismail di awal abad ke 8 H. Kemudian disempurnakan oleh anaknya Sultan Yusuf Abu Hujaj.  Area ini berukuran cukup besar, terbuka  dihiasai  pancuran air dan pohon – pohon rindang di tengahnya.

Baca Juga :  Ibnu Masarrah dan Gerakan Kebatinan di Andalusia, Spanyol

Di dalam nya terdapat dua ruangan besar, Fanna Al Barakah (Patio de Al Berca) dan Fanna Rayhan (Patio de los Arrayanes). Selain itu, disini terdapat juga ruangan Sufara (Salon de Embajadores) yang merupakan ruangan termegah dilihat dari luas dan tinggi kubah yang mencapai 23 meter.

Konon kubah ini masih asli seperti saat pertama kali dibangun. Ukiran – ukiran indah berupa ungkapan – ungakapan Arab, syair, qasidah dan ayat Al Qur’an terlihat menghiasi bagian kubah, pintu dan dinding ruangan.

Kedua, area Aswad atau Patio de los Leones yang dibangun oleh Muhammad Al Ghani Billah saat memerintah pada tahun 1354 M. Area ini merupakan area terindah di istana Al Hambra. Terlihat dari keindahan dan kemegahan arsitekturnya. Area ini berbentuk lahan terbuka dengan tinggi mencapai 35 meter dan panjang 20 meter yang di kelilingi oleh bangunan indah lainnya.

Disini terdapat ukiran berbentuk khat Kufi yang tertulis di dinding, kubah, pintu dan tiang bangunan. Juga terdapat ruangan ruangan dengan nama khusus  seperti ruangan Bani Saraj (Sala de los Abencerrajes), ruangan Muluk (Sala de los Reyes) dan ruangan Mandzarah Linnadrakha (Mirador de Lindaraja).

Untuk menuju ke istana ini, terdapat tiga akses jalan utama. Pertama di sebelah kanan menuju menara istana. Kedua di tengah menuju istana  Jannat Arif dan ketiga di sebelah kanan menuju Bab Syariah, pintu pertama sekaligus pintu utama istana Al Hambra.

Tinggi pintu ini mencapai lima belas meter dihias dengan ukiran Arab yang menjelaskan tentang pendiri pintu beserta rincian tanggal pembuatannya. Tertulis juga tujuan penamaan Bab Syariat yaitu agar Syariat Islam bisa berdiri tegak. Pintu ini didirikan oleh Sultan Yusuf Abu Hujaj pada tahun 1348 M. Ia merupakan salah satu raja terhebat yang pernah dimiliki Granada.

Baca Juga :  Jejak Islam di Andalusia

Di sebuah ruangan di belakang Bab Syariah terdapat  sejenis papan bertuliskan kekalahan sekaligus penyerahan Granada kepada raja Katolik bertanggal 2 Januari 1492 M. Istana ini memiliki menara bernama Burj Harrasah atau Torre de la Vela. Menara ini merupakan menera termegah istana Al Hambra. Dan di menara ini lah Spanyol menempatkan Salib pertama saat berhasil mengalahkan Muslim Granada.

  1. Desa Baidin

Saat Islam berkuasa, desa Baidin merupakan desa terbesar dan terpenting di Granada. Desa ini ditempati oleh orang – orang ekonomi menengah ke atas. Saat masa kemunduran tidak jarang mereka melakukan pemberontakan untuk merebutkan posisi raja Granada. Ketika Spanyol menguasai wilayah ini, mereka pergi meninggal kan Baidin, sehingga hanya menyisakan sedikit orang.

Arsitektur bercorak Arab banyak ditemukan di wilayah ini, khususnya di bangunan umum seperti rumah, jendela dan tempat pemandian umum. Selain itu di desa Al Baidin terdapat tiga benteng bercorak Islam yaitu Puerta de Albaidin, Puerta de Fajalauza, dan Puerta de las Pesas.

  1. Lapangan Bibramla

Lapangan ini merupakan lapangan terpenting di Granada milik umat Islam. Lapangan ini adalah tempat untuk berkumpul untuk melaksakan suatu acara masyarakat.  Beberapa jalan disekitarnya diambil dari nama nama Islam seperti jalan Zacatin (Salatin) dan Boabdil (Abu Abdillah).

4. Madrasah Nashriyyah dan Penginapan Al Hadid

Madrasah Nahsriyyah merupakan madrasah terkenal di Granada. Madrasah ini dibangun oleh Sultan Abu Hujaj tahun 1349 M. Bangunan madrasah sudah hancur dan hanya tersisa beberapa bagian saja. Adapun hiasan berupa ukiran ukiran Arab dipindahkan ke musium arkeologi Granada.

Selain madrasah terdapat juga penginapan dengan arsitektur Arab. Seperti yang ada di penginapan C. Mariana Pineda.  Penginapan ini didirikan di akhir masa Dinasti Nashriyyah yang difungsikan untuk para pedagang.

Baca Juga :  Tirulah Sayyidah Aisyah, Wanita yang Tak Merasa Paling Suci

Dulu penginapan itu dinamakan Funduk Al Hadid (Alhondiga Guedida). Kemudian penginapan ini beralih fungsi menjadi tempat penyimpanan arang bernama Casa del Carbon. Di dalam bangunan ini ditemukan  khot Kufi bertuliskan surat Al Ikhlas dan beberapa kaligrafi Arab lainnya.

  1. Benteng Pelindung

Dulu Granada memiliki 20 pintu, yang hanya menyisakan beberapa saja termasuk tiga pintu, Puerta de Albaidin, Puerta de Fajalauza, dan Puerta de las Pesas. Selain itu, ada juga benteng peninggalan Islam lainnya di wilayah Barat Laut dan di Timur Granada. Dulu benteng – benteng ini digunakan umat Islam untuk melindungi Granada dari serangan musuh.

7. Masjid dan Menara

Saat Islam berkuasa Granada termasuk wilayah yang memiliki cukup banyak masjid. Namun sayangnya setelah Granada runtuh, beberapa masjid beralih fungsi menjadi gereja seperti yang terjadi pada masjid Jami Granada yang beralih  gereja San Salvador, masjid Murabitun menjadi gereja San Jose dan masjid Taibin menjadi gereja Juan de los Reyes.

Selain itu ada juga gereja San Luis yang berada di dekat Puerta de Fajalauza berdiri di atas tanah yang dulunya merupakan tanah bangunan masjid. Untuk menara masjid ada beberapa yang  tidak diruntuhkan namun direnovasi dan kemudian dijadikan menara lonceng gereja.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here