Tujuh Hikmah Shalat Harus Menghadap Kiblat

1
53

BincangSyariah.Com – Salah satu syarat agar shalat menjadi sah adalah menghadap kiblat. Nah, selain menjadi syarat keabsahan shalat, ternyata terdapat sejumlah hikmah mengapa kita  diwajibkan menghadap kiblat. Berikut ini merupakan ulasan mengenai tentang hikmah shalat harus menghadap kiblat sebagaimana disampaikan Syekh Ali Ahmad al-Jurjawi dalam kitabnya Hikmat at-Tasyri’ wa Falsafatuhu:

Terdapat tujuh hikmah di balik shalat harus menghadap kiblat, yakni:

Pertama, menghidupkan sunah Nabi Ibrahim dan putranya yakni Nabi Ismail. Hal ini disebabkan karena keduanya merupakan penyebab dibangunnya Kakbah yang mulia. Keduanya sampai-sampai tidak berhenti selalu dikenang seluruh umat muslim. (Baca: Salah Menghadap Kiblat, Apakah Shalat Harus Diulang?)

Kedua, menghadap kiblat melatih seorang Muslim untuk fokus dan memalingkan segala hal yang membuatnya tidak konsentrasi. Dengan ini diharapkan tertanam benih tumakninah, khusyuk  dan kemantapan iman di hati seorang Muslim. Oleh karena itu orang muslim tidak akan berpaling lagi dari pintu rahmat Allah dan tidak terjebak pada lembah-lembah kebingungan, waswas dan hawa nafsu.

Ketiga, sudah merupakan karakter manusia untuk menentukan waktu dan tempat yang menjadi pusat kegiatan (amal) mereka untuk menunaikan kewajibannya, oleh karena itu seandainya rangkaian (susunan) kegiatannya rusak, maka akan rusak juga hidupnya. Hal ini disebabkan mereka menjalankan aktifitasnya dengan keadaan bingung dan tidak konsisten.

Begitu juga apabila manusia tidak memiliki arah yang pasti dalam melaksanakan rutinitas ibadah, sehingga hatinya berpindah dari satu arah ke arah yang lain. Hal itu dapat menyebabkan hati mereka kehilangan keistimewaan ikhlas dan itu membuat mereka tidak berhak menerima pahala lantaran tidak menunaikan kewajiban, sebab Allah menjadikan kiblat supaya umat  muslim tahu arah yang harus  diikuti agar amalnya  diterima.

Baca Juga :  Fenomena Akhir Zaman Sebelum Kemunculan Dajjal

Keempat, menghadapnya kaum muslim secara keseluruhan ke arah kiblat baik dari arah timur ataupun barat merupakan kebahagiaan yang hakiki, karena dengan demikian mereka bisa memberitahukan bahwa mereka adalah sesama saudara yang tersambung hatinya  (bersatu), sama niatnya serta menghadap ke suatu hal (perkara) yang sama yakni Kakbah yang mulia.

Kelima, ketika manusia ingin menampakkan rasa ikhlas dalam beribadahnya menggunakan suatu tanda (simbol) khusus yang bisa diindera (konkret) maka mereka akan mengarahkan terhadap sebuah tempat yang dapat menjadi pengaruh (pendorong)  kepada sifat  kedekatan (ketersambungan) dan keikhlasan.

Keenam, seseorang yang menghadap kiblat ketika dipanggil dengan kalimat “hayya ‘ala as-shalah” (azan) lalu ia segera memenuhi panggilan tersebut, itu merupakan bukti ketaatan kepada Allah. Di sisi lain Kakbah merupakan tempat (daerah) dimana Rasulullah  tumbuh, sehingga sebagai bentuk penghormatan maka orang muslim menghadapkan wajahnya ke Kakbah lantaran Kakbah adalah tempat paling mulia di muka bumi.

Ketujuh, dengan menghadap kiblat, hal itu mengingatkan kaum muslim terhadap kecintaan Allah kepada Rasul-Nya. Ini karena ketika Rasulullah melihat bahwasanya menghadap ke Kakbah itu lebih baik daripada Baitul Maqdis maka Allah menganugerahkan Kakbah sebagai kiblat selaku bentuk kecintaan kepada Rasul-Nya. Wallahu  a’lam

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here