Imam al-Ghazali: Salah Satu Tujuan Menikah itu Melatih Kesabaran

0
21

BincangSyariah.Com – Menikah sejatinya bukan hanya diartikan sebagai berkumpulnya dua raga semata, melainkan dalam pernikahan juga melibatkan perkongsian antara dua jiwa manusia. Oleh karenanya, yang perlu dipersiapkan sebelum pernikahan bukan hanya persiapan secaraca zahir saja, tetapi yang lebih penting dari itu ialah melatih kesabaran dan kesiapan batin dari masing-masing jiwa yang akan berkumpul menjadi satu itu.

Selain bertujuan untuk menjalankan ajaran agama, dalam pernikahan sejatinya terdapat banyak sekali faidah yang disampaikan oleh ulama. Disebutkan oleh Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’ ‘Ulumiddin, di antara faidah dari menikah ialah memperoleh keturunan, membentengi diri dari godaan setan, memperingan pekerjaan rumah tangga, memperbanyak saudara, dan melatih kesabaran jiwa serta bersungguh-sungguh dalam merawatnya. Untuk poin terakhir yang disebutkan oleh Imam al-Ghazali ini memang sering kali kurang disadari, bahwa salah satu faidah pernikahan ialah untuk melatih kesabaran.

Bahkan sebagian ulama salaf juga ada yang menyebutkan bahwa kesusahan dan kesabaran seorang hamba dalam merawat keluarganya dapat menjadi pelebur dosa-dosanya. Keterangan tersebut didasarkan pada keterangan yang terdapat dalam sebuah hadis yang dikutip oleh Imam al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumiddin, sebagai berikut:

إِذَا كَثُرَتْ ذُنُوْبُ العَبْدِ ابْتَلَاهُ اللهُ بِهَمِّ العِيَالِ لِيُكَفِّرَهَا عَنْهُ

“Tatkala telah banyak dosa-dosa seorang hamba, maka Allah mengujinya dengan kesusahan atas keluarganya, untuk melebur dosa-dosa darinya.” (H.R. Ahmad)

Menjelasakan pentingnya melatih kesabaran dalam berumah tangga, Imam al-Ghazal menukil sebuah kisah tentang Nabi Yunus bersama Istri beliau. Kisah ini terjadi ketika Nabi Yunus sedang berada di rumah, beliau didatangi sekumpulan orang yang hendak menceritakan masalahnya. Setelah mempersilakan mereka, Nabi Yunus pun tersibukkan seorang diri untuk memberikan suguhan kepada para tamu beliau.

Tak lama berselang, terdengar suara amukan seorang perempuan dari dalam rumah–yang tidak lain ialah istri Nabi Yunus–, karena geram melihat suaminya keluar masuk rumah dan sibuk mengurusi orang lain. Saking terlatihnya Nabi Yunus dalam melatih kesabaran, para tamu pun merasa heran kepada Nabi Yunus yang tetap diam saja meski istrinya berlaku demikian.

Belum sampai mereka menyampaikan kekagumannya, Nabi Yunus mengimbau mereka supaya tidak perlu heran atas kejadian yang baru saja mereka saksikan. Nabi Yunus kemudian menceritakan bahwa beliaulah yang meminta kepada Allah supaya diberikan ujian di dunia saja, bukan di akhirat.

Allah mengijabahi permintaan Nabi Yunus, sekaligus memberikan informasi bahwa ujian dunia yang akan dihadapi Nabi Yunus ialah berupa seorang perempuan yang menjadi teman hidup beliau. Mengetahui hal tersebut, Nabi Yunus senantiasa bersabar sebagaimana yang dilihat oleh para tamu beliau.

Kejadian hampir serupa juga dapat dijumpai ketika kita membaca kisah Khalifah Umar bin Khattab dalam kitab Al-Kabair yang ditulis oleh Imam al-Dzahabi. Suatu hari, Sayyidina Umar didatangi oleh seorang lelaki yang hendak menceritakan keburukan akhlak istrinya. Belum sampai mengetuk pintu, ia mendengar suara kemarahan istri Sayyidina Umar.

Menghadapi keadaan tersebut, Sayyidina Umar tetap diam dan tak kembali memarahi istrinya. Begitu Sayyidina Umar keluar, dan menjumpai seorang tamu, beliau lantas menjelaskan dan justru membela perlakuan istrinya. Mendengar penjelasan Sayyidina Umar, seorang lelaki itu pun mengurungkan niatnya untuk menceritakan keburukan perilaku istrinya di rumah.

Sayyidina Umar memang terkenal tegas dan sangat pemberani, meski demikian beliau senantiasa nenanamkan kesabaran dan bersikap lemah lembut terhadap keluarganya. Oleh karenanya, dapat dimengerti bahwa, ketegasan dan keberanian bukan berarti menjadi alasasan hilangnya kesabaran dalam berumah tangga. Karena di antara faidah pernikahan–sebagaimana disampaikan oleh Imam al-Ghazali–ialah untuk melatih kesabaran masing-masing pasangan.

Menanggapi hal demikian, Hujjatul Islam Imam Abu Hamid al-Ghazali mengatakan:

وَفِي الصَّبْرِ عَلَى ذَلِكَ رِيَاضَةُ النَّفْسِ وَكَسْرُ الغَضَبِ وَتَحْسِيْنُ الخُلُقِ. فَإِنَّ الـمُنْفَرِدَ بِنَفْسِهِ أَوِ الـمُشَارِكَ لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُهُ لَا تَتَرَشَّحُ مِنْهُ خَبَائِثُ النَّفْسِ البَاطِنَةِ وَلَا تَنْكَشِفُ بَوَاطِنُ عُيُوْبِهِ. فَحَقٌّ عَلَى سَالِكِ طَرِيْقِ الآخِرَةِ أَنْ يُجَرِّبَ نَفْسَهُ بِالتَّعَرُّضِ لِأَمْثَالِ هَذِهِ الـمُحَرَّكَاتِ وَاعْتِيَادِ الصَّبْرِ عَلَيْهَا، لِتَعْتَدِلَ أَخْلَاقُهُ وَتَرْتَاضَ نَفْسُهُ وَيَصْفُوْا عَنِ الصِّفَاتِ الذَّمِيْمَةِ بَاطِنَهُ.

 Sabar terhadap hal itu (perilaku buruk istri maupun suami) terdapat riyadhah (melatih) hati, memecah amarah, dan memperbaiki akhlak. Sebab orang yang selalu menyendiri, atau orang yang selalu bersama orang-orang baik akhlaknya tidak akan bercucuran darinya sifat-sifat buruk yang ada di dalam hati dan tidak akan tersingkap darinya aib-aib yang tersembunyi.

Maka sudah sepantasnya bagi orang-orang yang menempuh jalan menuju akhirat untuk menguji dirinya dengan menghadapi keadaan ini dan membiasakan diri menyabarinya, supaya akhlaknya seimbang, hatinya terlatih, dan batinnya bersih dari akhlak-akhlak tercela.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here