Tuduhan-Tuduhan Batil Terhadap Tradisi Maulid Nabi

0
32

BincangSyariah.Com – Alhamdulillah kita sudah memasuki bulan Rabiulawal, bulan hijriyah ketiga yang diperingati sebagai bulan kelahiran baginda Nabi Muhammad. Umat Islam bersuka cita memperingati hari kelahiran Nabi dalam bentuk shalawat, dibaan, sedekah, pembacaan sirah nabawiyah, dan lain sebagainya. Tak hanya di masjid atau musala, umat Islam juga mengadakan acara maulid di rumah sendiri, beberapa bahkan menyediakan berkat yang relatif mewah untuk ukuran masyarakat menengah ke bawah. Semuanya dilakukan tak lain sebagai bentuk ekspresi kebahagiaan akan lahirnya nabi Muhammad di muka bumi ini.

Meskipun begitu, ada saja golongan kecil dari umat Islam yang menolak tradisi maulid Nabi ini. Alih-alih berargumen kuat nan ilmiah, mereka malah menudingkan tuduhan-tuduhan tak mendasar dan batil terhadap tradisi maulidan yang sudah berlangsung secara turun-temurun selama beberapa abad ini. Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani (wafat tahun 2004), salah seorang tokoh besar ahlussunnah waljamaah di Mekkah, mencatat beberapa tudingan batil terhadap tradisi maulidan beserta tanggapan beliau yang terangkum dalam kitab beliau Haula al-Ihtifal Bizikra Maulid an- Nabi asy-Syarif (halaman 31-33) sebagai berikut:

Tuduhan pertama: Orang-orang yang merayakan maulid Nabi menganggap tradisi ini sebagai hari raya ketiga

Tuduhan ini sama sekali tidak sesuai dengan fakta. Sebab bila ada yang menganggap demikian, tentunya acara maulid Nabi memiliki pakem dan format baku yang harus selalu diikuti oleh semua orang. Nyatanya format acara maulidan tak selalu sama di suatu tempat dengan tempat yang lain.

Sayyid Muhammad menegaskan bahwa melaksanakan maulidan bukanlah hal yang wajib. Namun kegiatan ini lahir sebagai bentuk dari ekspresi kebahagiaan dan suka cita umat Islam dalam menyambut kelahiran baginda Nabi.

Sama halnya dengan penduduk Madinah yang mendendangkan pujian sebagai ekspresi kebahagiaan mereka menyambut kedatangan Nabi di kota mereka.

Baca Juga :  Dajjal Makhluk Fiktif atau Nyata?

Dengan demikian, ini hanya murni masalah tradisi dan kebiasaan dan tidak ada kaitannya dengan  menjadikan maulid sebagai hari raya baru bagi umat Islam.

Jikapun ada yang menolak tradisi maulid karena terdapat penyimpangan yang dilakukan oleh sebagian kecil umat Islam semisal adanya percampuran laki-laki dan perempuan tanpa tabir atau penghalang, tentu saja adanya penyimpangan ini tidak bisa dijadikan argumen untuk melarang tradisi maulidan.

Tidak bisa dimungkiri bahwa berkumpulnya orang banyak berpotensi munculnya oknum yang memanfaatkan kesempatan untuk melakukan kemungkaran dalam kesempitan.

Tidak hanya di tempat biasa, bahkan bisa saja terjadi dalam suatu kegiatan ibadat di tempat yang dimuliakan, seperti saat shalat hari raya di masjid, wukuf di Arafah, atau saat melempar jumrah di Mina.

Bila kelompok penolak maulid Nabi bersikeras dengan argumennya itu, seharusnya mereka juga konsisten melarang kegiatan-kegiatan ibadah yang disebutkan di atas demi mencegah potensi adanya maksiat. Dan tentu saja hal ini mustahil.

Maka yang seharusnya kita lakukan adalah melakukan upaya pencegahan semaksimal mungkin agar kemungkaran dan kemaksiatan tidak menginfiltrasi tradisi maulidan yang sebenarnya memiliki tujuan sangat mulia ini.

Tuduhan kedua: Merayakan tradisi maulid Nabi berarti menambah hal baru dalam syariat. Sebab seandainya kegiatan ini baik, tentu saja nabi akan melakukan serta memeritahkannya saat beliau hidup

Tuduhan ini menurut Sayyid Muhammad sangatlah cacat. Sebab tidak ada satupun orang awam-apalagi kalangan ulama- yang meyakini bahwa maulid Nabi adalah syariat baru. Dan  semua hal yang tidak dilakukan oleh nabi dan golongan salaf, kemudian dilakukan oleh generasi berikutnya, belum tentu dikatakan sebagai pelengkap syariat.

Lantas bagaimana dengan ribuan hasil ijtihad ulama yang lahir setelah generasi salaf?apakah hasil-hasil ijtihad mereka akan dituduh juga sebagai pelengkap syariat?Jika hasil-hasil ijtihad tersebut dituding sebagai pelengkap atau hal baru yang kemudian dimasukkan syariat, berarti Nabi dan generasi salaf telah luput, lupa, enteng, atau bodoh karena telah membiarkan ribuan permasalahan agama lepas dari perhatian mereka. Tentu tuduhan ini merupakan dusta yang besar.

Baca Juga :  Amalan-amalan untuk Merayakan Maulid Nabi

Tuduhan Ketiga: Tradisi Maulid Nabi Adalah Bidah yang Diprakarsai Oleh Syiah Ekstrim (Rafidhah)

Orang-orang yang melontarkan tuduhan ini mengatakan bahwa yang melaksanakan tradisi maulidan pertama kali adalah orang-orang dinasti Fatimiyah yang memeluk teologi syiah. Menurut mereka, pernyataan ini berdasarkan keterangan Imam Ibnu Katsir dalam kitab beliau al-Bidayah wa an-Nihayah (11/172) bahwa Dinasti Fatimiyah yang pernah berkuasa di Mesir di tahun 357-567 H mengadakan banyak perayaan, salah satunya adalah perayaan kelahiran Nabi.

Namun Sayyid Muhammad menemukan bahwa keterangan Ibnu Katsir  yang mereka rujuk ini sama sekali tidak ada dalam kitab beliau. Tentu saja ini adalah bentuk hoaks dan kebohongan ilmiah yang berani mereka lakukan semata demi membenarkan pendapat mereka. (Baca: Siapakah Orang yang Pertama Kali Memperingati Maulid Nabi?)

Padahal keterangan yang ada dalam kitab al-Bidayah wa an-Nihayah (13/136) berlawanan sekali dengan apa yang mereka tuduhkan. Ibnu Katsir berkata:

قُلْتُ أَمَّا صَاحِبُ إِرْبِلَ فَهُوَ:المـَلِكُ الـمُظَفَّرُ أَبُوْ سَعِيْدٍ كُوْكُبُرِيْ ابنُ زَيِنِ الدِّيْنِ عَلِيْ بْنِ بُكْتِكِيْنْ أَحَدُ الـأَجْوَادِ وَالسَّادَاتِ الْكُبَرَاءِ وَالـمُلُوْكِ الأَمْجَادِ، لَهُ آثارٌ حَسَنَةٌ وَقَدْ عَمَّرَ الجَامِعَ الـمُظَفَّرِيَّ بِسَفْحِ قَاسِيُوْنَ، وَكَانَ يَعْمَلُ الـمَوْلِدَ الشَّرِيْفَ فِيْ رَبِيْعٍ الأَوَّلِ وَيَحْتَفِلُ بِهِ احْتِفَالًا هَائِلًا، وكَانَ مَعَ ذَلِكَ شَهْمًا شُجَاعًا فَاتِكًا بَطَلًا عَاقِلًا عَاِلمـًا عَادِلًا رَحِمَهُ اللهُ وَأَكْرَمَ مَثْوَاهُ.

“Aku berkata: Penguasa Irbil adalah Raja Mudhaffar Abu Sa’id Kuukuburi bin Zainuddin  Ali ibn Buktikin, salah seorang raja yang mulia, agung, dan dermawan. Dia juga memiliki rekam jejak yang bagus dan beliaulah yang meneruskan pembangunan Masjid Al-Mudhaffar di kaki Gunung Qasioun. Ia melaksanakan maulid Nabi dan merayakannya secara besar-besaran. Ia merupakan sosok yang gagah berani, tegas, pahlawan, bijak, alim, adil. Semoga Allah merahmatinya dan memuliakan tempatnya”

Dalam bab sebelumnya, Abuya Sayyid Muhammad menjelaskan bahwa segala bentuk kebaikan yang dilakukan setiap tahun sebagai bentuk syukur atas nikmat kelahiran nabi, maka hal itu sudah mencapai esensi tujuan dari maulid Nabi.

Baca Juga :  Tiga Keutamaan Surah Al-A’la; Pembacanya Dicintai Nabi Muhammad

Dengan demikian, bila mengikuti konsep perayaan maulid beliau di atas, maka lebih pas dikatakan bahwa Raja al-Mudhaffar merupakan orang yang pertama kali mengemas perayaan maulid dalam balutan acara formal yang “resmi”. Dengan tegas Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki  menyatakan bahwa orang yang pertama kali merayakan maulid Nabi adalah Rasulullah sendiri! Salah satu dalil yang menunjukkan hal itu adalah hadits riwayat Imam Muslim yang menjelaskan bahwa Rasulullah mensyukuri hari kelahirannya dengan berpuasa:

عَنْ أَبِيْ قَتَادَةَ الأَنْصَارِيِّ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم سُئِلَ عَنْ صَوْمِ الإِثْنَيْنِ فَقَالَ: فِيْهِ وُلِدْتُ وَفِيْهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ

Diriwayatkan dari Abi Qatadah al-Anshari bahwa Rasulullah pernah ditanya tentang puasa hari senin, beliau menjawab,”Pada hari itulah aku dilahirkan dan wahyu diturunkan.”

Akhirul kalam, Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani sebenarnya tidak berkenan menulis permasalahan ikhtilaf yang selalu dibahas berulang-ulang setiap tahun, seperti permasalahan tradisi maulid nabi ini. Namun karena banyak sekali kebohongan, hoaks, dan pemutarbalikan fakta yang dilakukan oleh penentang tradisi maulid Nabi, sehingga beliau perlu mengklarifikasi dan meluruskannya melalui tulisan ilmiah.

Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here