Tribalisme Mayarakat Arab Pra-Islam

0
14

BincangSyariah.Com – Tribalisme adalah kesetiaan penuh pada suatu suku, klan atau keluarga baik dalam posisi zalim atau terzalimi. Dalam pengertian lain, tribalisme adalah kesadaran dan kesetiaan atas kesukuan. (Baca: Akibat Fanatik Kesukuan, Wabah Penyakit Menjangkiti Arab Masa Jahiliah)

Pada masa pra Islam, masyarakat Arab memiliki solidaritas kesukuan yang sangat kuat, yang terkadang menimbulkan konflik dan perang antar suku atau terkadang seseorang tebunuh hanya karena menjadi bagian dari suku tertentu.

Masyarakat Arab pra-Islam merupakan masyarakat kesukuan baik yang tinggal di pedalaman maupun yang tinggal diperkotaan. Mereka diatur oleh hukum dan adat istiadat yang menjamin keberlangsungan suku tersebut, oleh karenanya, fanatisme menjadi sikap hidup yang menyebar luas pada saat itu, dan fanatisme tersebut diidentifikasi berdasarkan garis keturunan kelompok tempat mereka berasal.

Garis keturunan atau nasab menjadi salah satu dasar yang menyatukan suku Arab, menguatkan relasi, saling memberikan perlindungan, serta saling menjaga hak, kehormatan dan jiwa (Khaldun, Muqaddimah: 102). Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah SAW:

تَعَلَّمُوا مِنْ أَنْسَابِكُمْ مَا تَصِلُونَ بِهِ أَرْحَامَكُمْ…

Pelajarilah dari nasab kalian sesuatu yang bisa kalian gunakan utuk menyambung tali silaturrahmi…”. (HR. Turmudzi).

Masing-masing kabilah meyakini bahwa mereka menjadi bagian keluarga yang berasal dari nenek moyang yang sama, bahkan seluruh kabilah berasal dari satu orang ayah yang kemudian berkembang menjadi kelompok masyarakat besar.

Akan tetapi sebagian sejarawan meragukan pertalian nasab tersebut, karena tidak mudah mengetahui nenek moyang pertama dari sebuah keluarga yang hidup sejak ratusan tahun lalu (Syarif, Makkah wa al-Madiinah fi al-jahiliyyah wa ‘Ahdi ar-Rasul: 80).

Salah satu sejarawan yang skeptis terhadap pertalian nasab suku-suku Arab adalah sejarawan Iggris, Robertson Smith dalam bukunya Kinship and Marriage in Early Arabia sebagaimana dikutip Syarif.

Baca Juga :  Sejarah Malam Lailatul Qadar

Menurut Smith, suku-suku Arab terbentuk bukan karena faktor kekeluargaan, akan tetapi karena pembauran manusia, sebagaimana masyarakat lain yang tidak diikat oleh hubungan nasab, akan tetapi diikat oleh interkoneksi dan solidaritas, serta ikatan agama primitif yang disebut dengan Totemism yang biasa dipeluk oleh masarakat primitif. Agama primitif ini selalu ditemukan pada suku-suku yang jauh dari peradaban di Afrika, Asia, dan Amerika.

Totem biasanya adalah entitas hewan, tumbuh-tumbuhan atau benda alam yang secara spiritual mewakili sebuah kelompok orang yang saling memiliki hubungan seperti suku. Totem disembah oleh kabilah-kabilah tersebut, dan mereka percaya bahwa mereka berasal dari totem tersebut melalui cara yang misterius dan rumit. Mereka juga percaya bahwa darah totem tersebut mengalir dalam diri mereka.

Menurut Smith sebagaimana dikutip Syarif (1965: 81), totemisme memiliki tiga ciri dasar: Pertama, adanya suku-suku yang menggunakan nama hewan, tumbuh-tumbuhan atau benda. Kedua, suku-suku tersebut meyakini bahwa mereka berasal dari makhluk tersebut. Ketiga, mereka menyembah makhluk tersebut.

Menurut Smith ketiga ciri tersebut ada dalam suku-suku Arab. Misalnya, Bani Kalb, Bani Namir, Bani Asad adalah suku yang menggunakan naman hewan. Bani Handhalah menggunakan nama tumbuhan. Sedangkan Bani Shakhr dan Bani Jandal menggunakan nama benda.

Ciri kedua dibuktikan dengan adanya jukulan (kunyah) yang ada dalam nama suku. Misalkan suku Kalb dan suku Asad, maka mereka dipanggil dengan julukan Bani Kalb dan Bani Asad. Julukan ini menunjukkan adanya kepercayaan, bahwa suku-suku tersebut memiliki kesamaan asal usul dengan makhluk tersebut.

Kemudian ciri ketiga dibuktikan dengan kepercayaan sebagian suku Arab kuno yang mengeramatkan atau mengkuduskan hewan atau tumbuhan. Artinya mereka mengharamkan hewan dan tumbuhan tertentu, tidak boleh memakannya. Ketika hewan tersebut mati, maka mereka bersumpah akan menguburkannya.

Baca Juga :  Tafsir Surah al-Waqi’ah Ayat 4 – 6: Pada Hari Kiamat Semuanya Luluh Lantak

Selain itu, juga dibuktikan dengan sesembahan Arab primitif. Di antara sesembahan mereka ada yang memiliki citra seekor singa dan elang. Mereka juga meyakini bahwa Uzza menempat di tiga batang pohon. Sehingga ketika Islam datang, Nabi memerintahkan agar tempat pemujaan Uzza dihancurkan sekaligus pohon tersebut di tebang.

Menurut Syarif, pendapat Smith di atas tidak sesuai dengan realitas masyarakat Arab yang sebenarnya. Karena nama-nama suku sebagaimana disebutkan di atas adalah nama-nama orang, bukan nama sebuah simbol atau totem. Masyarakat Arab juga percaya, bahwa mereka bukan keturunan dari hewan, tumbuhan atau benda.

Bani Asad misalkan, mereka percaya bahwa mereka adalah keturunan dari seorang laki-laki yang bernama Asad (:Singa), bukan keturunan dari hewan singa atau singa yang menjadi simbol ‘tuhan’ atau totem.

Suku-suku Arab juga tidak menyembah patung dengan nama-nama dan citra singa, burung elang, atau hewan-hewan lain. Bani Kalb misalkan, mereka tidak menyembah patung dengan citra kalb atau anjing. Bahkan mereka menyembah patung yang berbentuk manusia.

Untuk mengetahui garis keturunan suku-suku Arab memang sulit, karena masing-masing suku tidak hidup soliter dan saling berjauhan, akan tetapi mereka saling berinteraksi karena kebutuhan sosialisasi, ekonomi, bahkan politik, sehingga nasab mereka menjadi tumpang tindih.

Di sisi lain, tidak ditemukan catatan-catatan nasab yang ditulis pada masa Jahiliah, meskipun ada orang-orang yang terkenal mempuni dalam masalah Nasab, seperti Abu Bakar bin Shiddiq dan yang lain.

Pencatatan nasab baru mulai ada pada masa kepemimpinan Umar bin Khaththab untuk mencatat nama-nama pasukan beliau, akan tetapi catatan tersebut tidak sampai pada kita. Dan pada masa berikutnya para ulama banyak yang berkonsentrasi menulis nasab-nasab suku Arab semisal ash-Shahawi yang menulis buku al-Ansaab, Umar Ridha menulis Mu’jam Qabaaili al-Arab al-Qadiimah wa al-Hadiitsah dan lain-lain.

Baca Juga :  Ini 6 Sifat Arab Jahiliah yang Bisa Kita Teladani

Dari catatan-catatan buku tersebut kita bisa meyakini bahwa tribalisme atau solidaritas kesukuan masyarakat Arab Pra Islam memang dibangun atas dasar kesamaan garis keturunan. Tidak seperti rumusan yang di sampaikan Smith di atas.

Tribalisme pada saat itu kemudian menjadi kekuatan yang mengikat masing-masing pribadi dalam sebuah kelompok sehingga mereka kehilangan hak individu dan kebebasan personal, dan kelompok lain yang tidak segaris keturunan dianggap sebagai musuh.

Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here