Travelling dalam Islam

0
1554

BIncangSyariah.Com – Travelling merupakan hobi anak zaman now. Selain melepas penat pekerjaan dan menghabiskan waktu liburan, travelling juga berguna bagi kesehatan pola pikir kita. Nah apa iya? Yupz benar sekali. Dari perjalanan seseorang banyak mendapatkan ilmu baru yang dapat mengubah pola pikirnya.

Selain itu, travelling bisa menjadi sarana dakwah bagi pemuda-pemudi. Sebagaimana Alquran menjelaskan banyak tentang ayat travelling. Tujuannya adalah agar manusia bersyukur dengan kelimpahan rezeki di bumi, dan juga bisa mengambil pelajaran dari umat terdahulu. tersurat dalam QS Almulk ayat 15:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ ۖ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan”.

Adalah Ibnu Batutah yang dikenal sebagai tokoh pengembara legendaris pada abad ke-14. Beliau lahir pada 1304 M dan wafat pada 1369 M. Usianya diisi dengan melakukan pengembaraan ke berbagai pelosok bumi. Muslim asal Maroko ini diakui sebagai penjelajah nomor wahid abad ke-14. Seorang Marcopolo pun tak layak disetarakan dengan beliau. Terlebih dalam hal angka perjalanan, Ibnu Batutah jelaslah juara tak terkalahkan.

Travelling pun bisa menjadi sarana untuk berburu pahala, asalkan dilakukan dengan niat. Bahkan travelling ini bisa menjadi washilah (perantara) dalam rangka mendukung amal saleh. Sebagaimana hadits Nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim:

إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِى بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلاَّ أُجِرْتَ عَلَيْهَا ، حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِى فِى امْرَأَتِكَ

Sesungguhnya engkau tidaklah menafkahkan suatu nafkah dalam rangka mengharap wajah Allah melainkan akan diganjar dengan usaha itu sampai pun sesuap makanan yang engkau masukkan dalam mulut istrimu.” (HR. Bukhari, no. 6373 dan Muslim, no. 1628).

Baca Juga :  Ciri Tawakal dan Kisah Bisyr al-Hafi Saat Naik Haji Tak Membawa Bekal

Dari hadits tersebut dapat kita ambil kesimpulan bahwa dengan niat yang baik mengharap ridha Allah, suatu perbuatan yang asalnya mubah dan bukan bernilai ibadah menjadi baik dan berpahala. Selain itu, Allah juga menjelaskan bahwa perbuatan yang non-ibadah pun bisa menjadi perantara pada ketaatan, sehingga dapat bernilai pahala.

لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar” (An-Nisa ; 144)

Dalam travelling sambil berburu pahala, hendaknya tidak melakukan sesuatu yang diharamkan oleh agama. Misalnya mimun khamr atau mencuri pada waktu kepepet. Seyogianya menyelipakan dzikir dan banyak doa di dalam perjalanan. Dan satu lagi, jangan melewatkan shalat sunah yang biasa dilakukan tiap harinya. Karena istiqamah (kontinyu) itu lebih baik dari seribu karamah.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here