Traveling Mencari Ilmu ala Ahmad bin Hanbal

1
612

BincangSyariah.Com – Imam Ahmad bin Hanbal adalah diantara ulama besar yang hidup di sekitar abad ke-2 Hijriah. Pandangan serta riwayat-riwayat hadis Nabi Saw. beliau belakangan membuat muridnya memapankan itu semua menjadi sebuah mazhab yang hari ini dikenal sebagai Mazhab Hanbali. Salah satu karyanya yang terbesar adalah menuliskan kitab Musnad Ahmad, sebuah kumpulan hadis yang seluruhnya beliau riwayatkan dan jumlahnya mencapai 40.000 hadis. Hadis tersebut beliau selesai semua tuliskan di tahun 227/228 H. Nah, sekarang mari kita lihat traveling mencari ilmu beliau mengumpulkan riwayat-riwayat itu semua dengan belajar ke berbagai tempat yang cukup jauh.

Seperti dikutip dalam Shofahat min Shobr al-‘Ulama’ karya Syaikh ‘Abd al-Fattah Abu Ghuddah, Imam Ahmad bin Hanbal (l. 164 H – w. 241 H) memulai perjalanan pertamanya belajar dan mencari riwayat hadis pada usia 16 tahun. Kota pertama yang dituju adalah Kufah, pada tahun 183 H. Kemudian, beliau pindah lagi ke Bashrah di tahun 186 H. Di tahun 187 H, beliau menemani Sufyan bin ‘Uyaynah (kalau dalam hirarki generasi pasca Nabi, beliau disebut Tabi’ at-Tabi’in/muridnya murid sahabat Nabi) untuk pergi ke Mekkah. Dan itulah tahun pertama beliau pergi haji, di usia sekitar 23 tahun. Sepuluh tahun kemudian, beliau pergi ke Shan’a (kini adalah ibukota Yaman) pada tahun 197 H. Dan bersama beliau dalam perjalanan itu, Yahya bin Ma’in (juga ulama besar di bidang hadis, teman terdekat Imam Ahamd bin Hanbal).

Menurut Syaikh Ahmad bin Hamdan al-Hanbali, Imam Ahmad bin Hanbal sendiri pernah mengatakan: “perjalanan saya mencari ilmu dan sunnah (riwayat-riwayat terkait dengan Nabi Saw) sudah sampai ke perbatasan-perbatasan (at-tsughuur); wilayah Syam; pantai-pantai; wilayah barat (al-maghrib, untuk menyebut wilayah yang sekarang menjadi negara Tunisia, Maroko, dan Aljazair);  al-Jazair; Mekkah; Madinah; Hijaz; Yaman; Irak; Persia; Khurasan; wilayah-wilayah pegunungan; wilayah ujung; lalu saya kembali ke Baghdad.

Bagaimana, jauh sekali bukan traveling mencari ilmu beliau? Nanti ada lagi kisah ketika murid beliau yang tinggal di Naisabur (sekarang: Nisapur, masuk wilayah kota Iran) harus kembali lagi ke Baghdad karena sang Guru, Ahmad bin Hanbal ingin merevisi pendapat beliau terkait persoalan fikih.

1 KOMENTAR

  1. […] Kedua, melalui lisan, yaitu mengimlakan (dikte) ilmu tersebut kepada orang lain. Ketiga, melalui akal-pikiran seperti ilmu (pengetahuan) yang muncul dari pikiran berupa penemuan-penemuan. Pengetahuan semacam ini termasuk ke dalam makna ayat “Dia Mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya” al-‘Alaq (96): 5 (Tafsir at-Tahrir wa at-Tanwir, 1984, XXX: 441). (Baca: Traveling Mencari Ilmu ala Imam Ahmad bin Hanbal) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here