Tradisi Nyadran, Bagaimana Hukumnya?

0
299

BincangSyariah.Com – NU sebagai jam’iyah maupun sebagai penganut paham dalam Islam yang mengikuti sistem mazhab empat selalu mendapat serangan bertubi-tubi dan tak ada habisnya.

Kali ini ada ustaz dalam suatu pengajian berupaya membenturkan pimpinan NU dengan hasil keputusan muktamar. Yaitu soal tradisi yang berkembang di masyarakat yang masih dijadikan budaya, seperti nyadran, sedekah bumi, syukuran hasil panen dan sebagainya. Dia kemudian mencantumkan hasil keputusan muktamar di era awal berdirinya Nahdlatul Ulama.

Ustaz tersebut tidak faham bahwa di NU sudah ada keputusan terbaru tentang masalah ini. Substansi sama jika tidak sesuai dalam aturan Islam. Namun jika sudah diselipkan ajaran Islam seperti membaca Alquran, sedekah, shalawat, doa dan lainnya maka jelas diperbolehkan. Kalau masih ada beberapa hal yang belum sesuai, tinggal kita dakwahkan secara bertahap supaya sesuai dengan ajaran Islam.

Sesajen

Nyadran tidak dapat serta merta dihukumi syirik, sebab kita tidak pernah tahu niatan pelakunya. Oleh karena itu para ulama Syafi’iyah memerinci perbuatan tersebut berdasarkan niat.

Di zaman ulama terdahulu bentuk nyadran ini sudah ada kemiripan dalam bentuk menyembelih hewan. Salah satu ulama ahli tarjih dalam mazhab Syafi’i, Imam Ibnu Hajar Al Haitami berkata:

ﻭﻣﻦ ﺫﺑﺢ ﺗﻘﺮﺑﺎ ﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻟﺪﻓﻊ ﺷﺮ اﻟﺠﻦ ﻋﻨﻪ ﻟﻢ ﻳﺤﺮﻡ، ﺃﻭ ﺑﻘﺼﺪﻫﻢ ﺣﺮﻡ

“Barang siapa menyembelih hewan untuk mendekatkan diri kepada Allah agar terhindar dari gangguan jin, maka tidak haram (boleh). Atau menyembelih dengan tujuan kepada jin maka haram” (Tuhfatul Muhtaj 9/326).

Nyadran yang Menjurus Syirik

Syekh Abu Bakar Dimyati Syatha (banyak ulama Indonesia berguru kepada beliau di antaranya KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU) berkata saat mensyarahi ungkapan Ibnu Hajar di atas yang dikutip oleh muridnya dalam Fathul Mu’in:

ﺑﻞ ﺇﻥ ﻗﺼﺪ اﻟﺘﻘﺮﺏ ﻭاﻟﻌﺒﺎﺩﺓ ﻟﻠﺠﻦ ﻛﻔﺮ

Baca Juga :  Benarkah Bingkisan Berkat Tahlilan Haram Dimakan?

Bahkan jika menyembelih hewan dengan tujuan mendekatkan diri dan ibadah kepada jin maka ia telah kafir (Ianatuth Thalibin 2/397).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here