Tradisi Maulid Nabi Muhammad dari Masa ke Masa

0
12

BincangSyariah.Com – Ada berbagai versi yang menyebutkan tentang tradisi Maulid Nabi Muhammad. Banyak juga beragam versi pelaksanaan Maulid Nabi Muhammad yang tercatat dalam diskursus sejarah Islam.

Dalam buku Perayaan Hari Lahir Nabi Muhammad SAW: Asal Usul dan Penyebaran Awalnya; Sejarah di Magrib dan Spanyol Muslim sampai Abad ke-10/ke-16 (1994), Nico Kaptein mencatat tradisi Maulid Nabi dari masa ke masa sebagai berikut:

Pendapat paling banyak adalah yang mengatakan bahwa perayaan Maulid Nabi dimulai sejak masa Perang Salib. Konon, Perang Salib ada untuk memperebutkan Yerusalem dengan umat Kristen Eropa.

Nico Kaptein mencatat bahwa pembacaan diba dicetuskan oleh panglima perang Salahudin al-Ayyubi yang terinspirasi dari perayaan natal pada masa itu.

Untuk membakar semangat pasukan Muslim, maka diadakanlah perayaan Maulid yang di dalamnya dibacakan cerita-cerita perang Nabi Muhammad Saw. Pembacaan tersebut membuat semangat kaum Muslim kembali berkobar.

Pada waktu itu, pasukan kaum Muslim bangkit dengan motivasi tinggi untuk mengusir pasukan Kristen. Kemenangan pun akhirnya berpihak pada kaum Muslimin. Pembacaan tersebut memiliki pengaruh positif.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa awal mula Maulid Nabi diselenggarakan oleh penguasa Syria bernama Nur ad Din yang hidup pada abad 511 H atau 1118 M sampai 9 H atau 1174 M.

Riwayat Maulid Nabi di Syria ada berdasarkan apa yang disebutkan dalam tiga buah syair yang digubah oleh Abu Syamah yang hidup sekitar 599 H atau 1203 M sampai tahun 665 H atau 1268 M. Syair-syair tersebut termuat dalam kitab berjudul ar-Raudatain fi Akhbar ad Daulatain.

Sejarah yang berdekatan dengan masa Nuruddin adalah Daulah Fathimiyyah. Daulah Fathimiyyah juga memperkenalkan perayaan-perayaan Maulid Nabi dan menjadikan Maulid Nabi sebagai satu dari enam Maulid yang dirayakan oleh umat Islam.

Baca Juga :  Hukum Mengadakan Peringatan Maulid Nabi

Catatan tersebut ada dalam karya Ibn Zafir yang hidup sekitar 613 H atau 1216 M. Catatan merujuk pada karya Ibnu alMakmun. Lima maulid lain yang dirayakan Daulah Fathimiyyah adalah maulid dari Fathimah az Zahro al Hasan al Husain Ali dan khalifah yang sedang berkuasa.

Selanjutnya, Nico Kaptein mencatat perayaan maulid di Mosul, Irak oleh Umar al Malla. Sumber riwayat ini adalah tulisan dari Imad ad Din al-Isfahani dalam buku al-Barq as Syami. Buku tersebut menunjukkan bahwa perayaan Maulid Nabi kemudian berlanjut ke wilayah Irbil yang diprakarsai oleh seorang penguasa bernama Muzaffar ad Din Kokburi.

Ibnu Khallikan menuturkan bahwa perayaan di kota yang terakhir disebutkan di atas selalu ramai. Ada banyak tamu berdatangan dari berbagai wilayah. Saat para tamu tersebut pulang, mereka pun menggagas perayaan Maulid Nabi di wilayah masing-masing. Maka, perayaan Maulid Nabi Muhammad pun akhirnya menyebar dengan cepat.

Data sejarah yang menuliskan tentang pelaksanaan Maulid Nabi Muhammad di berbagai tempat di belahan dunia bukan hal yang mudah untuk ditelusuri. Banyak rangkaian upacara dan beragam ritual atau bacaan yang dilantunkan dalam perayaan Maulid Nabi sehingga menjadi aspek sejarah yang tidak mudah diketahui.

Menurut Nico Kaptein, catatan-catatan tersebut menunjukkan satu hal yang pasti yakni bahwa Maulid Nabi selalu berisi jamuan pada para tamu. Selain itu, Maulid Nabi juga dirayakan oleh penguasa, kaum sufi, rakyat, dan pastinya selalu dilaksanakan di bulan Rabiul Awal.[] (Baca: Bentuk Perayaan Maulid Nabi di Indonesia)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here