Tradisi Masyarakat Arab Jahiliah di Bulan Sya’ban

0
1643

BincangSyariah.Com – Al- Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani mengatakan dalam kitabnya Fathul Baari Syarh Shahih al-Bukhari bahwa ada dua kemungkinan bulan Sya’ban dinamakan Sya’ban. Pertama; karena pada saat penamaannya, bulan ini bertepatan dengan berpercarnya orang-orang Arab kesana-kemari dalam rangka mencari air. Kedua; orang-orang Arab sangat menghormati bulan Rajab sehingga di bulan ini mereka sepakat untuk tidak melakukan pertengkaran dan peperangan.

Bahkan, saking hormatnya mereka pada bulan Rajab ini, bisa jadi dua orang yang saling bermusuhan dan hendak saling bunuh, bisa melakukan perjalanan bersama-sama tanpa ada kekhawatiran akan dibunuh oleh yang satunya. Namun, menjelang memasuki bulan Sya’ban, mereka mulai berpencar mencari musuh-musuh mereka. Berpencar, baik dalam rangka mencari air atau mencari musuh, dalam bahasa Arab diistilahkan dengan tasya’ba-yatasya’bu. Dan kata Sya’ban terambil dari kata tasya’ba-yatasya’bu ini.

Selanjutnya, orang-orang Arab menambahkan satu sifat al-asham untuk bulan Rajab sehingga mereka menyebutnya bulan Rajab al-asham. Mereka mensifati demikian, di mana arti al-asham sendiri secara bahasa adalah tuli, dikarenakan di bulan Rajab ini mereka tuli alias tidak mendengar bunyi pedang yang berkecamuk karena peperangan.

Berbeda dengan bulan Sya’ban, mereka menambahkan satu sifat lain pada bulan ini dengan sebutan al-‘azil. Kemudian mereka menyebutnya sebagai bulan Sya’ban al-‘Azil. Mereka sifati demikian, yang secara bahasa  al-‘Azil adalah celaan, dikarenakan mereka mencela siapa saja yang tetap berdiam diri di rumahnya di dalam bulan Sya’ban ini, padahal pada saat itu sedang musim perang dan terjadi saling serang-menyerang antara satu suku dengan lainnya.

Akan tetapi setelah diutusnya Nabi Saw sebagai pembawa ajaran agama islam, Allah tetap menjadikan bulan Rajab sebagai bulan yang terhormat beserta tiga bulan lainnya, Dzu al-Qa’dah, Dzu al-Hijjah dan Muharram. Lalu kemudian empat bulan ini di dalam islam dikenal dengan sebutan al-asyhur al-Hurum, bulan-bulan terhormat dan dimuliakan sehingga diharamkan menodai keempat bulan ini dengan perbuatan nista semisal peperangan.

Lantas bagaimana dengan bulan Sya’ban? Apabila orang-orang Arab menjadikan bulan Sya’ban sebagai bulan kembalinya musim perang, musim melakukan pembalasan, tidak demikian setelah Allah mengutus Nabi Saw. Melalui Nabi Saw kegiatan yang seharusnya dilakukan di bulan Sya’ban bisa berubah, dari kejahatan berubah kebaikan, dari musim perang berubah menjadi musim perdamaian. Bulan Sya’ban berada di antara dua bulan Rajab dan Ramadhan. Maka sebagaimana Allah memerintahkan untuk menghormati bulan Rajab dan Ramadhan, begitu pula menghormati bulan Sya’ban merupakan salah satu perintah-Nya.

Bahkan, Sayyid Muhammad bin Abbas al-Maliki dalam kitabnya Ma Dza Fi Sya’ban menyebut bulan Sya’ban dengan sebutan syahrun barakatuhu masyhurah, bulan yang keberkahannya sudah diketahui banyak orang. Tentu sebutan ini tidak berlebihan mengingat ada salah satu ayat al-Qur’an yang menjelaskan tentang keberkahan bulan Sya’ban ini.

Menurut Fauzi Muhammad Abu Zaid dalam kitabnya al-Khuthab al-Ilhamiyah, ayat al-Qur’an yang menjelaskan keberkahan bulan Sya’ban termasuk ayat Sharih al-Qur’an, ayat sharih/jelas yang tidak perlu ditafsirkan.

Ayat dimaksud adalah firman Allah dalam surah al-Dukhan ayat 3;

اِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِيْ لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ    (الدخان : 3)

Artinya; sesungguhnya kami menurunkan (al-Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi”

Sebagian ulama’ menafsirkan lalilatin mubarakah, yang secara bahasa adalah suatu malam yang diberkahi, dalam ayat tersebut di atas dengan malam Nisyfu Sya’ban. Sebelum al-Qur’an diturunkan ke langit dunia, terlebih dahulu al-Qur’an disalin oleh malaikat al-Safarah al-Kiram dari Lauh Mahfudz selama empat puluh hari dimulai sejak malam Nisyfu Sya’ban. Setelah proses penyalinan selama empat puluh hari selesai, kemudian diturunkan ke langit dunia di malam lailatul qadar bulan Ramdhan. Baru kemudian malaikat Jibril menurunkan al-Qur’an dari langit dunia kepada Nabi Saw secara berangsur-angsur dan bertahap.

Dengan demikian, ada tiga tahap proses penurunan al-Qur’an. Pertama; dari Lauh Mahfudz dengan disertai proses penyalinan selama empat puluh hari oleh malaikat al-Safarah al-Kiram. Ini terjadi di bulan Sya’ban, tepatnya malam Malam Nisyfu Sya’ban. Dalam ayat 3 surat al-Dukhan di atas, malam Nisyfu Sya’ban ini disebut lailatin mubarakah, malam yang diberkahi. Dengan ini menjadi jelas bahwa bulan Sya’ban merupakan bulan yang diberkahi, terlebih lagi malam Nisyfu Sya’ban. Kedua; penurunan al-Qur’an ke langit dunia pada malam lailatul qadar bulan Ramadhan. Ketiga; dari langit dunia kepada Nabi Saw secara bertahap melalui perantara malaikat Jibril.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here