Tradisi Khalwat; Sunah Nabi yang Terlupakan

0
2518

BincangSyariah.Com – Khalwat adalah tradisi dalam tarekat untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan cara menyepi. Mereka yang menjalani khalwat adalah para pelaku suluk, meskipun esensinya harus dilakukan oleh umat Islam dan kaum beriman secara keseluruhan.

Khalwat secara bahasa berasal dari akar kata khala yang berarti ‘sepi’, dan dari akar kata ini dibentuklah kata khalwah, dan diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi khalwat. Praktik khalwat adalah praktik menyepi atau mengasingkan diri untuk mendekatkan diri kepada Allah. Salah satu rujukan yang sering digunakan untuk praktik khalwat adalah kitab-kitab sufi yang dikaji di pesantren, seperti Ihya’ Ulumuddin dan Minhajul `Abidin karangan Imam al-Ghazali, ar-Risalah al-Qusyairiyah karangan Imam Abul Karim Hawazin al-Qusyairi; dan kitab-kitab lain dari para imam tarekat.

Praktik khalwat dalam bentuk pengasingan diri dan menyepi secara fisik ini, dalam tradisi pesuluk di kalangan masyarakat biasanya dilakukan beberapa hari, minimal ada yang 3 hari, 7 hari, 40 hari, dan lain-lain. Karenanya, tetap saja praktik pengasingan diri secara fisik bukan praktik permanen, karena dilakukan beberapa hari seperti disebutkan. Dengan khalwat maka akan  memperoleh hakikat hening dan persambungan kepada Allah: menyepi dari perilaku tercela dan mengisinya dengan perilaku yang baik.

Dengan keheningan dalam khalwat dan uzlah, tidak jarang muncul musyahadah dan pengalaman-pengalaman spiritual yang menambah kukuhnya pesuluk untuk terus menapaki jenjang berikutnya menuju Allah dan bersama-Nya. Itulah pencerahan Ruhani yang didambakan oleh setiap pejalan ruhani.

Tradisi Khalwat itu mengikuti tradisi Nabi Muhammad yang mana beliau sering melakukan khalwat di Gua Hira sebelum beliau diutus menjadi Rasul, begitu juga pernah dikerjakan beliau beberapa kali setelah beliau diangkat menjadi Rasul. (Baca: Kondisi Nabi Saat Terima Wahyu di Gua Hira)

Baca Juga :  Inilah Tujuh Nama dari Golongan Jin yang Pertama Masuk Islam

Sayang sekali tradisi Khalwat yang sunnah ini tidak dikerjakan oleh ummat Islam. Justru yang digaungkan adalah nikah lebih dari satu adalah Sunnah Nabi, tapi mereka tidak pernah berdakwah dan menganjurkan bahwa  khalwat itu adalah sunnah Nabi.

Jika para ulama itu mengitu tradisi Nabi Saw. dengan melakukan khalwat, maka mereka tidak akan mudah menyessatkan dan mengafirkan orang lain yang beda mazhab dan aliran.

Sehingga dalam membimbing umatnya akan mengerti dan memahami karakter dan sifat. Bukan hanya sekedar ceramah saja melainkan membentuk karakter ummatnya sehingga tercerahkan dari belenggu hawa nafsu.

Khalwat itu sifatnya sementara tidak menetap  selamanya, khalwat itu sebagai pendidikan ruhani dan pelatihan jiwa. Jika sudah selesai khalwatnya maka dilanjutkan dengan Khalwat  di keramaian itulah yang disebut dengan Topo Ing Ramai.

Orang yang seperti ini harus kukuh dan berdiri di barisan masyarakat untuk mencerahkan dan membimbing mereka, tetapi hatinya harus tetap bersama Allah. Inilah yang disebut sebagai kemampuan untuk khalwat atau tajrid (menyepi) yang sukar dilakukan oleh orang, yaitu menyepi dan uzlah di tengah keramaian.

Topo Ing Ramai ini sangat sukar dilakukan, karena seorang pesuluk yang menjalaninya, fisiknya bersama masyarakat dan orang ramai, tetapi hatinya bersama Allah terus-menerus. Mereka inilah Cahaya-Cahaya Allah di bumi, jika semakin sedikit jumlah mereka, maka rusaklah dikalangan masyarakat tersebut.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here