Pesan Simbolik dalam Tradisi Islam Nusantara

2
984

Masyarakat Nusantara sejak zaman dulu, terutama di era para wali, memiliki kerangka berpikir unik yang cukup maju. Kemajuan berpikir ini dibuktikan dari kemampuan mereka dalam memahami segala sesuatu bukan hanya melihat dari apa adanya, namun juga dari mempertimbangkan bagaimana sesuatu itu bisa ada. Keunikan ini tercermin dalam konsep Islam Nusantara.

Mereka memahami fenomena diri, manusia, alam dan lain-lain berangkat dari cara berpikir yang melihat sampai ke akar-akarnya dan mereka berpikir secara substantif. Itulah ciri kekhasan masyarakat kita terdahulu, masyarakat yang berpikir secara mendalam dan tidak terjebak kepada simbol-simbol formalis. Cara berpikir seperti ini muncul dengan sangat menonjol di era para wali, yang menjadi rujukan utama bagi Islam Nusantara.

Karena itu, ketika Islam datang dengan membawa tradisi literasinya (baca Alquran dan hadis), masyarakat Nusantara dengan gaya berpikir yang melihat sampai ke akar-akarnya tersebut, mampu memahami ajaran-ajaran Islam secara unik dan tidak melulu harus sesuai dengan pakem formal yang ditentukan oleh tanah kelahirannya, Timur Tengah. Masyarakat Nusantara memahami Islam berangkat dari kekayaan pengalaman yang dimilikinya sendiri bukan berangkat dari pengalaman budaya Arab.

Berangkat dari sini, wajah Islam Nusantara merupakan wajah Islam yang genuine, yang mampu menghadirkan wajah Islam sesuai dengan sabda Nabi: “Ajaklah manusia berpikir sesuai dengan kadar intelektual mereka.”

Tentu kadar intelektual suatu masyarakat ditentukan oleh prasyarat objektif seperti kondisi budaya, alam dan latar sosialnya. Dengan kata-kata lain, menghadirkan Islam di tengah-tengah manusia Nusantara berarti menghadirkan Islam sesuai dengan budaya, latar sosial dan cara berpikir masyarakat Nusantara.

Namun dewasa ini, model pemahaman Islam Nusantara yang melihat persoalan secara substansial ini tergerus oleh model pemahaman yang formalis. Jika yang pertama ingin menghadirkan Islam di Indonesia menurut kerangka pandang Nusantara (khotibunnas biqadri uqulihim), sementara yang kedua ingin menghadirkan Islam menurut kerangka pandang yang sesuai dengan pakem budaya Arab (khotibunnas biqadri uqul al-arab).

Baca Juga :  Karamah Said bin Musayyab; Dengar Azan dari Dalam Kuburan

Menghadirkan Islam dengan model pemahaman yang pertama tentu membuat Islam sendiri hadir bukan sebagai agama milik orang Arab saja, tapi juga agama yang menjadi milik Nusantara.

Sementara model pemahaman yang kedua, menghadirkan Islam dalam kerangka budaya Arabnya berarti menghadirkan wajah Islam yang asing yang tak dikenal oleh masyarakat Nusantara dan itu artinya tidak mempertimbangkan hadis, “Ajaklah manusia berbicara sesuai dengan kadar intelektualnya”.

Berangkat dari penjelasan di atas, tentunya kedua model pemahaman ini sangat berbeda titik tolaknya dan tidak nyambung. Bagi model pemahaman kedua, ijtihad apa pun yang dihasilkan oleh model pemahaman Islam Nusantara yang pertama akan dianggap sebagai penyelewengan dari asalnya yang murni.

Sebagai contoh sederhana, seringkali kita menganggap tradisi yang dipraktikkan leluhur kita terkait dengan ritual-ritual tertentu sebagai takhayul, khurafat, dan bidah jika dibaca dengan model pemahaman yang kedua. Padahal kita tidak tahu betul apa makna sebenarnya di balik praktik tersebut.

Lebih parah lagi sebagian kita mencapnya sebagai syirik. Padahal kalau ditelisik lebih jauh, ternyata praktik tersebut merupakan kreativitas masyarakat Nusantara berbasis pemahaman subtantif terhadap sunah Nabi saw. Sayangnya, kebanyakan orang kurang memahami atau bahkan dengan argumen modernitas, mereka anggap tradisi itu kuna.

Ketika membangun rumah, misalnya, secara adat kita diwajibkan untuk menancapkan janur kuning pada bagian atas rumah. Itu diyakini dapat mendatangkan kebaikan dan menolak bala. Sebagian orang menganggap praktek ini sebagai syirik. Apa benar praktik seperti ini bertentangan dengan misi tauhid Islam?

Menurut Koentjaraningrat dalam buku antropologinya yang berjudul Ritus Peralihan, masyarakat Nusantara, dalam sistem kebudayaannya, yakni, ketika memiliki maksud atau hajat dalam hidup, memiliki tradisi penyajian makanan atau benda-benda tertentu yang sangat unik. Semua unsur sajian itu pada hakikatnya, kata Koentjaraningrat, jika dilihat dari aspek nama, bentuk, sifat atau warnanya mengandung makna dan lambang tertentu.

Baca Juga :  Lima Surah Ini Diakhiri dengan Ayat Anjuran Ibadah

Tiap-tiap benda itu, menurutnya, mengutarakan harapan tertentu. Misalnya, janur (daun kelapa muda) singkatan dari kata jatining nur yang berarti “cahaya yang hakiki”. Cengkir (kelapa muda) singkatan dari kata kencenging pikir yang berarti “ketetapan hati”. Tebu singkatan dari anteping kalbu berarti “kehendak yang kuat.” Kupat luwer berasal dari kata laku papat dan luwar, empat jalan menuju kebebasan.

Pisang ayu suruh ayu, ayu adalah rahayu yang berarti “selamat” dan “sejahtera”. Penyajian janur kuning, cengkir, tebu, kupat, pisang rahayu dan lain-lain ini seolah mengharap kepada Tuhan agar rumah yang ditempati penuh dengan cahaya (janur) sebagai simbol turun rahmat-Nya dan bagi yang tinggal di dalamnya memiliki keteguhan hati (cengkir), kehendak yang kuat (tebu), bebas dari belenggu (kupat), selamat dan sejahtera (pisang).

Contoh lain dari tradisi semacam ini ialah kebiasaan orang-orang Jawa dalam membagikan kue apem, ketan, dan kolak.  Bagi masyarakat Nusantara, Jawa terutama, makanan tersebut memiliki makna tersendiri.

Misalnya apem diasosiasikan orang Jawa sebagai kata yang berasal kata Arab afwun yang artinya “minta maaf”; Ketan dihubungkan sebagai kata Arab khata’an yang berarti “kesalahan”; Kolek meski melenceng dari pelafalan yang sebenarnya, diasosiasikan dengan kata Arab kholiq yang artinya “pencipta.”

Dengan demikian, membagi-bagikan sajian dengan ketiga jenis makanan tadi mengandung arti meminta ampun kepada Allah atas kesalahan yang telah diperbuat.

Sayangnya, menurut Koentjaraningrat, orang-orang saat ini tidak memahami lagi makna-makna simbolis yang tersembunyi di balik nama makanan dan benda-benda tersebut.

Proses penyajian di atas sejatinya mengingatkan kita pada ajaran Rasulullah Saw., yang disebut Ali Mustafa Yaqub sebagai ad-du’aa bi al-Rumuuz, berdoa secara simbolik, praktik doa yang tidak hanya sekadar mengangkat kedua tangan, namun juga doa yang disimbolkan melalui praktik tertentu yang seolah bukan praktik berdoa namun jika dipikir secara mendalam praktik tersebut mengandung unsur doa.

Baca Juga :  Prof. Dr. K.H. Muhammad Tolhah Hasan: Wafatnya "Imam Ghazali Indonesia"

Praktik ini kita temukan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Misalnya, ketika Rasul Saw. berdoa agar diberi hujan, surban beliau diputar, yang kanan diputar ke kiri, yang atas diputar ke bawah. Proses tersebut menyimbolkan perubahan keadaan, dari masa tandus ke masa subur, dari masa kering ke masa hujan dan sebagainya. Bahkan ketika kita menadahkan kedua telapak tangan kita ke atas setiap kita berdoa, juga merupakan simbol meminta kepada Allah Swt.

Contoh lain ketika Rasul saw. melewati kuburan, beliau mendengar suara rerintihan yang muncul dari dua kuburan yang dilewatinya. Akhirnya, beliau memotong dua pelepah kurma dan menancapkannya di atas dua kuburan tersebut.

Rasul saw. berharap dua ahli kubur tadi diringankan siksaanya dan dimintakan ampunan selama dua pelepah kurma tersebut tertancap. Karena itu, proses menancapkan pelepah kurma merupakan doa secara simbolik untuk memintakan ampunan bagi kedua ahli kubur tadi.

Sebagai kesimpulan, praktik penyajian makanan dan benda-benda ketika memiliki hajat tertentu seperti telah dijelaskan di atas merupakan satu dari sekian kreativitas Islam Nusantara yang patut dibanggakan. Fenomena tersebut merupakan ijtihad para leluhur kita yang memahami Islam secara substantif dan tidak serba formalis seperti kita sekarang.

Karena itu stigma khurafat, bidah, dan takhayul yang dilekatkan pada tradisi menancapkan janur kuning pada bagian atas rumah dan tradisi-tradisi lainnya yang sesuai dengan semangat keislaman tidak memiliki dasar sama sekali. Tradisi ini berangkat dari kerangka pikir yang melihat persoalan itu dengan menimbang aspek semangat dan tujuannya, itulah cara berpikir yang maqasidi.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here