Tradisi Indah di Mesir; Warga Mesir Terbiasa Dengarkan Lantunan Al-Qur’an

0
1366

BincangSyariah.Com – Salah satu tradisi indah di Mesir adalah kesukaan beberapa warganya dalam mendengarkan Al-Qur’an. Di angkotan umum, di toko, di tremco, dan di tempat-tempat lainnya akan kita temukan betapa rekaman Al-Qur’an seringkali diputar.

Dari kebiasaan tersebut, mereka pasti seringkali mendengar Al-Qur’an. Ketika demikian, sedikit demi sedikit Al-Qur’an akan masuk ke flashdisk otak mereka.

Saya sering menyaksikan beberapa orang-orang awam Mesir, yang tidak mengecap pendidikan di al-Azhar, luar biasa hafalan Al-Qur’an-nya. Bahkan, bisa dikatakan menandingi para pelajar.

Di asrama buuts, saya pernah menyaksikan pekerja yang mendapat tugas menuangkan sayur pada saat para thalib  (mahasiswa) akan makan, komat-kamit. Ternyata ia sedang murajaah Al-Qur’an dan yang dimurajaah termasuk juz-juz atas.

Di sebuah kantin, saya pernah melihat pegawainya sedang mendengar rekaman Al-Qur’an, lalu ia mengikuti dengan lancar secara bersamaan apa yang didengar. Sekali lagi, yang didengar juz-juz bagian atas.

Itu orang-orang awamnya lo. Bagaimana warga Mesir yang terpelajar? Bagaimana dengan masyaikhnya (para syekh)?

Orang-orang Mesir yang belajar di al-Azhar, diharuskan menyelesaikan keseluruhan Al-Qur’an ketika ingin lulus S1, baik jurusan umum maupun agama. Standar yang lumayan berat. Entah apakah hal itu telah berubah atau tidak hingga sekarang. Adapun yang jurusan agama, biasanya mereka telah menyelesaikan Al-Qur’annya di Kutaib (istilah buat tempat menghafal) dan di usia belasan hingga dua puluh tahun. Jadi di usia selanjutnya, tinggal mempelajari perangkat-perangkat untuk memahami Al-Qur’an.

Jika awamnya seperti itu, bagaimana terus masyaikhnya?

Syaikh Musthafa Imran, salah satu guru syaikh Azhar, Ahmad Thayyib, dan masyaikh Azhar lainnya, – sebagaimana dikisahkan murid nan kinasih (kesayangan) beliau, syaikh Husam – memiliki kebiasaan nderes (murajaah) 5 juz sehari. Dari sejak muda hingga tua, kebiasaan itu beliau jalani. Dari saking lancarnya hafalan beliau, sampai pernah mengatakan:

Baca Juga :  Abbad bin Bisyr; Sahabat Nabi yang Wafat Dinaungi Cahaya Allah

“Jika ada salah kesalahan dari bacaan saya, perbaiki mushafnya!” Tentu bukan berarti ada kesalahan di mushafnya, tapi memang dari saking seringnya membaca Al-Qur’an, kesalahan jarang sekali terjadi. Al-Qur’an keseluruhannya seakan-akan satu Alfatihah di hadapan beliau.

Syaikh Isa Ma’sharawi, syaikh Maqari (ahli bacaan Al-Qur’an) Mesir, selama 50 tahun tidak pernah lagi memegang mushaf ketika membaca Al-Qur’an. Al-Qur’an telah mendarah daging dalam diri beliau; merekat dengar erat dan sulit terpisah.

Dan banyak lagi ketakjuban yang akan dijumpai ketika menilisik kehidupan mereka dengan Al-Qur’an.

Apa gunanya menghafal Al-Qur’an kalau gak paham dengan apa yang dibaca?

Coba ubah pertanyaannya. Ketika selesaikan menghafal Al-Qur’an, kenapa tidak dilanjutkan dengan memahaminya? Bukanlah lebih baik dibandingkan sekedar menyepelekan orang yang menghafal meski tidak paham.

Kata syaikh Yusri (bil-makna), Al-Qur’an pertama-pertama akan diangkat maknanya, sehingga tidak ada yang mampu memahami Al-Qur’an. Setelah itu, yang diangkat lafadz-lafadz Al-Qur’an hingga tidak ada lagi yang menjaga Al-Qur’an, meski mushaf bertebaran. Jangan mengira bahwa yang menjaga Al-Qur’an itu mushaf, tapi yang menjaga Al-Qur’an adalah dada-dada orang mukmin.

Ada orang yang diberi kemampuan hafal Al-Qur’an, tapi tidak diberi kemampuan untuk memahaminya. Ada yang diberi kemampuan memahaminya, tapi tidak hafal Al-Qur’an. Ada yang diberi kemampuan menghafal dan memahami Al-Qur’an, tapi tidak diberi kemampuan untuk mengamalkannya. Mengamalkan tidak bisa tanpa bantuan pemahaman. Ada yang diberi ketiga-tiganya: menghafal, memahami dan mengamalkannya, meskipun jatah orang-orang yang mendapatkan itu sangatlah sedikit.

Ada juga yang sama sekali gak hafal, gak paham, apalagi mengamalkan, tapi dengan enteng mengatakan: buat apa menghafalkan Al-Qur’an kalau gak paham?  Setiap orang punya porsi masing-masing. Setiap porsi ada jatahnya sendiri.

Baca Juga :  Hukum Non-Muslim Mendengarkan Al-Qur’an

وإن كتاب الله أوثق شافع
وأغنى غناء واهبا متفضلا

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here