Tradisi Ijazah Hadis Musalsal di Jakarta

0
772

BincangSyariah.com – Dalam ilmu hadis, dikenal istilah hadis musalsal . Secara umum, tidak ada bedanya dengan hadis yang lain karena hadis ini memiiki jalur periwayatan (sanad) ataupun konten hadis (matan) juga. Bedanya adalah hadis musalsal memiliki jalur periwayatan yang lebih panjang karena ia diriwayatkan dengan cara ijazah dari satu orang ke orang lain di generasi yang berbeda. Itulah yang menyebabkan hadis tersebut memiliki istlilah musalsal, yang artinya berturut-turut.

Tradisi ijazah hadis musalsal ini berkembang seiring dengan selesai tradisi periwayatan. Tradisi periwayatan dengan standar sahih, dha’if, hasan tersebut dianggap selesai ketika para ulama sudah mengkodifikasikannya ke dalam kitab-kitab hadis. Namun, periwayatan masih terus berlanjut kepada generasi sesudahnya lewat cara musalsal tadi. Periwayatan hadis secara musalsal tidak diharuskan mengikuti syarat-syarat periwayatan hadis yang ketat karena kesahihan sanadnya sudah dipastikan.

Dalam konteks muslimin di Indonesia, tradisi musalsal ini banyak dilakukan oleh para ulama khususya yang pernah belajar ke Timur Tengah. Salah satu ulama asal Nusantara yang memiliki kemasyhuran dalam pemberian ijazah hadis Musalsal ini adalah Syaikh Yasin bin ‘Isa al-Fadani. Ulama keturunan Minangkabau yang sudah lahir dan wafat di Mekkah pada tahun 1990 itu memiliki banyak murid asal Indonesia seperti Prof. Dr. Said Agil Munawwar, K.H. Sahal Mahfudz, K.H. Maimun Zubair, hingga K.H. Abdul Hamid bin Abdul Halim.

Untuk nama yang terakhir, beliau rutin melakukan kegiatan haul Syaikh Yasin bin ‘Isa al-Fadani di Pesantren yang beliau dirikan, al-Kholidin. Diantara kegiatan yang dilakukan adalah pemberian ijazah hadis musalsal kepada para hadirin.

Mempopulerkan Tradisi Belajar Hadis lewat Hadis Musalsal

Sebelum populer tradisi pengijazahan hadis Musalsal oleh para murid Syaikh Yasin, Habib Salim bin Jindan banyak sudah menghidupkan tradisi yang sama dalam konteks Ibukota. Pada masa beliau, di abad ke-19 umumnya tradisi merujuk ajaran agama secara langsung kepada Alquran dan Hadis dilakukan oleh mereka yang dikategorikan sebagai reformis seperti kalangan Muhammadiyah dan Persis. Dalam penelitian ismail Fajrie Alatas berjudul Becoming Indonesians: The Ba ‘Alawi in the Interstices of Nation. Sebelum pindah ke ibukota di tahun 1940-an, beliau sudah dikenal di Surabaya sebagai ulama yang keras terhadap penjajah dan biasa berceramah di lapangan terbuka dengan mengutip hadis secara lengkap dengan sanadnya. Ia pernah dipenjara oleh Jepang selama 11 bulan akibat menolak untuk melakukan seikerei (hormat kepada matahari sebagai simbol Raja Jepang yang keturunan matahari) pada tahun 1943

Baca Juga :  Cara Nabi Muhammad Menghadapi Kesedihan

Masih menurut Ismail, ketika tahun 1940-an Habib Salim hijrah ke Jakarta. Ia mengembangkan kajian hadis yang waktu itu sudah banyak dipopulerkan oleh para reformis seperti Ahmad Hasan dari Persis. Ahmad Hasan misalnya terkenal dengan karyanya berupa terjemah dan anotasi atas kitab Bulughul Maram karya Ibn Hajar al-‘Asqalani. Habib Salim melakukan hal yang sama. Ia seringkali membicarakan bahwa dalil tidak memiliki otoritas jika tidak memiliki sumber sanad. Beliau juga menulis karya yang berisi hadis-hadis yang riwayat bersambung dari beliau sampai Nabi Saw., dengan diawali pembahasan tentang pentingnya ilmu hadis. Ulasan tersebut diperkuat beliau dengan mengutip karya-karya al-Suyuthi dan Ibn Hajar al-‘Asqalani. Lewat cara ini, menurut Ismail, Habib Salim berhasil membangun keyakinan bahwa kalangan ‘alawiyyin itu otoritatif dalam persoalan hadis. Ia juga menegaskan bahwa dengan belajar hadis tidak boleh kita jadikan sarana untuk perpecahan. Berikut ini pernyataanya yang dikutip dari Ismail,

Jangan biarkan seorang dari kalian jatuh kepada sikap bahwa ta’ifat al-muhaddithin adalah murni pengetahuan Nabi. Kelompok ini bertujuan untuk keamanan dan keselamatan. Jangan jadikan kelompok ini sebagai sarana perpecahan.*

 

Diterjemahkan dari teks jurnal bahasa Inggris. Ungkapan aslinya berbahasa Arab yang dikutip dari: Rayhan al-Jinan fi Manaqib Musnid al-Akwan al-Habib Salim bin Ahmad bin Jindan karya Ahmad bin Nawfal bin Jindan, h. 9f.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here