Tradisi Bubur Suro di Jawa: Upaya Mengenang Nabi Nuh dan Husein bin Ali

0
130

BincangSyariah.Com – Aktivitas Suro atau Asyura dalam masyarakat Jawa dimulai sejak pembaharuan yang dilakukan oleh Sultan Agung dengan cara memadukan sistem kalender Saka yang merupakan perpaduan dari Jawa asli dan Hindu dengan sistem kalender Islam Hijriyah. (Baca: Ini Alasan Mengapa Muharram Menjadi Bulan Pertama Hijriah)

Dalam buku Suran Antara Kuasa Tradisi dan Ekspresi Seni (2005), dituliskan bahwa Sultan Agung raja kerajaan Mataram melakukan perubahan sistem kalender sejak tanggal 1 Sura tahun Alip 1555, tepat pada tanggal 1 Muharam tahun 1043 Hijriyah, atau tepat pada tanggal 8 Juli 1633 Masehi.4

Upaya memperluas ajaran Islam di tanah Jawa oleh Sultan Agung ini memadukan antara tradisi Jawa dan Islam dengan menetapkan 1 Muharram sebagai tahun baru Jawa. Setelah perpaduan tersebut, berbagai aktivitas pun dilakukan masyarakat Jawa dalam menyambut malam tahun tahun baru Suro yang bertepatan dengan malam 1 Muharam dengan melaksanakan renungan dan instrospeksi diri dalam berbagai ritual.

Yogyakarta

Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat memperingati Malam 1 Suro dengan cara mengarak benda pusaka mengelilingi benteng kraton yang diikuti oleh ribuan warga Yogyakarta dan sekitarnya. Selama melaksanakan ritual mubeng beteng, siapa pun yang terlibat tidak diperbolehkan berbicara seperti halnya orang sedang bertapa. Inilah yang dikenal dengan istilah tapa mbisu mubeng beteng.

Solo

Kraton Surakarta Hadiningrat melaksanakan kirab malam 1 Suro dipimpin oleh Kebo Bule Kyai Slamet sebagai Cucuking Lampah. Kebo Bule adalah hewan kesayangan Susuhunan yang dianggap keramat. Setelah Kebo Bule, barisan berikutnya adalah para putra Sentana Dalem atau kerabat keraton yang bertugas membawa pusaka, kemudian diikuti masyarakat Solo dan sekitarnya seperti daerah Karanganyar, Boyolali, Sragen dan Wonogiri.

Cirebon

Masyarakat Cirebon merayakan Suroan dengan mengacu pada hari pertama ataupun hari kesepuluh bulan Sura atau Muharam. Perayaan dilaksanakan dengan slametan atau sedekah yang diyakini sebagai bentuk ibadah. Caranya dengan membuat bubur suro atau bubur slabrak yang dibuat dari bubur tepung beras dengan santan yang berisi berbagai bahan makanan. Bubur yang sudah dibuat kemudian dibagikan untuk para tetangga atau kerabat dekat.

Baca Juga :  Sejarah Perkembangan Aliran Wahabi di Minangkabau

Pesan dibalik tradisi membuat bubur suro ini nampak dari bubur warna putih yang menandakan hari Asyura yang suci, sedangkan berbagai macam bahan makanan yang ditambahkan adalah simbol dari berbagai kejadian pada hari yang sedang diperingati.

Slametan dengan memberikan bubur suro masih banyak dilakukan masyarakat sebab ada anggapan bahwa memberikan bubur suro untuk kerabat dan tetangga adalah cara yang cepat dalam mengungkapkan kewajiban berzikir mengingat Allah Swt.

Masyarakat pesisir Jawa menganggap bahwa bubur Suro menggambarkan peristiwa banjir pada masa Nabi Nuh a.s.. Saat banjir sudah berhenti dan Nabi Nuh a.s. turun dari Kapal, maka tidak ada makanan apa pun kecuali tepung, dan tepung tersebut dibuat menjadi bubur. Jadilah makanan bubur tersebut dianggap sebagai penghormatan dari peristiwa yang dialami oleh Nabi Nuh a.s.

Tradisi di bulan suro menitikberatkan pada ketentraman batin dan keselamatan. Karena itulah pada malam 1 suro biasanya selalu diselingi dengan ritual pembacaan doa dari semua umat yang hadir merayakannya. Ritual tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan berkah dan menangkal datangnya marabahaya.

Jawa Barat

Tradisi bubur suro adalah salah satu cara yang dilakukan oleh masyarakat Jawa Barat khususnya di daerah Tasikmalaya dan Limbangan, Garut untuk menyambut datangnya bulan Muharram sekaligus mengenang wafatnya cucu Nabi Muhammad Saw. di medan peperangan.

Pagi hari setiap tanggal sepuluh Muharam, hampir setiap rumah penduduk memasak bubur merah dan bubur putih secara terpisah yang dikenal dengan sebutan bubur suro. Selanjutnya, bubur suro tersebut akan dibawa ke masjid bersama dengan beragam makanan ringan lainnya.

Penduduk yang mengikuti acara di masjid akan duduk dan membentuk lingkaran. Acara akan dipimpin oleh orang yang dituakan di daerah tersebut. Seorang perempuan paruh baya akan membacakan sholawat dan pujian bagi Rasullulah Saw. yang diambil dari kitab al-Barzanzi.

Baca Juga :  Alissa Wahid: Indonesia di Persimpangan Jalan

Seusai al-Barzanzi dilantunkan, kemudian diceritakanlah kisah hidup Husein bin Ali bin Abi Thalib, yakni tentang perjuangannya dalam menegakkan keadilan sampai syahid di medan perang. Setelah pembacaan kisah usai, para penduduk akan bersama-sama menikmati hidangan yang telah disajikan.

Titik temu segala aktivitas di bulam Muharram atau Suro adalah adanya kebiasaan di masyarakat yang melakukan lelaku atau tradisi dan ritual khusus di bulan Muharram. Persamaan selanjutnya adalah makan dan hidangan yang dibuat. Makanan yang dibuat mempunyai kemiripan yang dikenal dengan bubur merah putih atau bubur Asyura dengan bahan pembuatan yang tidak jauh berbeda, yakni dengan memanfaatkan hasil bumi Indonesia.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here