Tokoh Arab Jahiliyah yang Menolak Penyembahan Berhala

0
462

BincangSyariah.com – Menurut para ahli sejarah, sebelum maraknya penyembahan berhala, seluruh masyarakat Jazirah Arab menganut ajaran Nabi Ibrahim. Mereka mempercayai ajaran monoteistik bahwa Tuhan Pencipta Alam Semesta hanya ada satu yaitu Allah Swt.

Tren paganisme muncul setelah kedatangan Amr bin Luhay al-Khazraji. Dia adalah orang yang sangat bijak, rajin bersedekah serta berakhlak mulia. Tindak tanduknya disukai warga sehingga menganggapnya sebagai ulama besar.

Suatu hari, Amr bin Luhay pergi ke Syam dan melihat orang-orang menyembah berhala. Dia menyangka hal tersebut sebagai kebenaran, sebab Syam adalah wilayah suci tempat lahirnya para aulia dan anbiya. Maka dibawalah berhala Hubal dan ditempatkan di dalam Ka’bah. Amr mengajak masyarakat menyembah berhala, masyarakat yang polos itu mengikutinya.

Pasca peristiwa itu, lambat laut pengultusan berhala kian berkembang. Penganut ajaran ini bertambah banyak. Berhala pun disebar tidak hanya di Makkah melainkan ke Thaif, Madinah dan kota-kota vital lainnya. Kendati demikian, masih ada secuil dari mereka yang tegas menolak penyembahan berhala.

Jawad Ali mengategorikan mereka sebagai Hunafa jamak dari Hanif. Dalam konteks ini menurut pandangannya, Hunafa bermakna mereka yang tidak setuju menyembah berhala dan berupaya untuk menyembuhkan penyakit-penyakit yang menjangkiti masyarakat di masa itu, seperti menyembah berhala, meminum arak dan berjudi.

Diantara golongan ini ada yang  cenderung pada Yahudi atau Nasrani tapi sejatinya mereka bukanlah Nasrani atau Yahudi tulen. Mereka terpecah – pecah di berbagai kabilah tanpa ada ikatan resmi, namun memiliki visi yang sama yaitu untuk menyiarkan agama tauhid, menolak berhala dan menyeru pada perbaikan.

Jawad Ali menuliskan daftar nama – nama para pembelot berhala dalam bukunya al-Mufasshal fi Tarikh al-‘Arab Qabla al-Islam. Ia mencantumkan sekitar 20 nama seperti Qus bin Sa’idah Al-Iyyadi, Zaid bin Amr bin Naufal, Umayyah bin Abu Shalt, Arbab bin Riab, Suwaid bin Amir, As’ad bin Abu Karab al-Himyari, Waqi bin Zuhair al-Iyyadi, Umair bin Jandab dan lain – lain.

Baca Juga :  Pengajian Gus Baha: Memahami Kelupaan Nabi Saw. dan Pentingnya Belajar Kepada Ulama

Dalam perjalananya, diantara mereka ada yang tetap menganut ajaran hanif, namun tidak sedikit juga yang beralih keyakinan seperti Ustman bin Huwairist dan Adi bin Zaid Al-Ibadi. Mereka menjadi Nasrani. Ada pula yang tidak diketahui jelas apa agamanya seperti As’ad Abu Karab al-Himyari dan Zuhair bin Abu Sulma. Begitupula ada yang hidup di masa kenabian Nabi Muhammad adapula yang wafat sebelum itu.

Diantara mereka ada empat tokoh Quraisy yang menentang tegas penyembahan berhala dan berupaya mencari sisa sisa peninggalan agama Nabi Ibrahim. Keempat tokoh tersebut adalah Waraqah bin Naufal, Ubaidillah Ibnu Jahsy, Utsman bin Huwairist dan Zaid bin Amr bin Nufail.

Berdasarkan keterangan Ibnu Hisyam dalah Sirah Ibnu Hisyam, kisah pembelotan mereka terjadi pada saat masyarakat Quraisy merayakan hari besar mereka.

Di hari itu, mereka berkumpul lalu melakukan ritual pensucian berhala. Memuja – mujanya, memberikan sesajen kurban, berlutut di hadapannya dan berputar – putar mengelilinginya. Mereka rutin satu tahun sekali memperingati hari sakral tersebut.

Empat orang tadi memisahkan diri dari khalayak. Satu diantara mereka berkata, “Ketahuliah kalian semua, demi Allah ada sesuatu yang tidak beres, sesungguhnya kalian benar – benar berbuat kesalahan terhadap agama Nabi Ibrahim.

Batu yang kita kelilingi, tidak mendengar dan tidak pula melihat. Dan tidak memberi bahaya juga tidak memberi manfaat. Wahai kaum, carilah oleh masing – masing kalian.

Demi Allah sesungguhnya kalian memiliki sesuatu. Berpencarlah ke berbagai negara dan temukanlah agama Hanifah, agamanya Nabi Ibrahim”. Setelah itu keempatnya berpencar, keluar dari Makkah menuju berbagai tempat untuk mencari para ahlul kitab. Berikut profil singkat dan kisah perjalanan mereka.

Baca Juga :  Utsman bin Mazh'un, Sahabat yang Ditegur Nabi Karena Ingin Membujang Seumur Hidup

Zaid bin Amr bin Naufal

Berdasarkan pandangan Ibnu Habib, Zaid adalah orang pertama yang mengkritik penyembahan berhala. Dia dengan terang – terangan mengatakan “Tuhanku adalah Tuhannya Ibrahim dan agamaku adalah agama Ibrahim.”

Lalu dia berkata, “Allah telah menciptakan kambing, menurunkan air dari langit, dan menumbuhkan tumbuhan dari tanah. Dan kalian menyembelihnya atas nama selain Allah, sungguh itu suatu kemungkaran.”

Dia pun enggan memakan daging hewan yang disembelih bukan atas nama Allah. “Saya tidak memakan daging hewan yang disembelih untuk berhala – berhala kalian.”

Zaid adalah orang yang sangat teguh memegang prinsip ajaran Hanafiah. Oleh sebab itu, dia rela bepergian jauh ke berbagai kota seperti Mosul, Jazirah, Syam hingga sampai ke bumi Balqa demi mencari keabsahan agama Hanif.

Sesampainya di Balqa dia bertemu dengan seorang pendeta. Pendeta tersebut tidak bisa merubah keyakinan Zaid, sehingga dia pun kembali pulang ke Makkah. Di tengah perjalanan di sekitar wilayah Jadzdzam dia dihadang sekelompok orang dan dibunuh.

Keterangan lain menyebutkan, Khattab bin Nufail (pamannya) mengutus seseorang untuk mengawasi pergerakan Zaid, dia dilarang masuk ke kampung halamannya lagi karena hawatir akan mengotori pemahaman keagamaan kaumnya. Pernah suatu hari Zaid menyelinap ke Makkah, karena dipergoki warga, dia ditangkap lalu disiksa.

Ubaidillah bin Jahsy

Ubaidillah tidak meyakini ajaran yang dianut kaumnya, sehingga ia mengasingkan diri dari ritual peribadatan mereka. Sampai tersiarlah dakwah Islam. Dia pun bersyahadat dan masuk Islam.

Dia ikut bersama rombongan muslimin berhijrah ke Ethiopia, bersama istrinya Ummu Habibah binti Sufyan yang juga seorang muslimah. Namun, setibanya di Etiopia Ubiadillah keluar dari Islam dan memeluk agama Nasrani.

Baca Juga :  Kerajaan Pajang: Kerajaan Islam Pertama di Wilayah Pedalaman Jawa

Ustman bin Huwairist

Utsman bin Huwairist merupakan pembesar kalangan Bani Asad dari Quraisy. Dia amat membenci ajaran kaumnya. Maka dia pun pergi meninggalkan kampungnya menuju Syam. Lalu mendekat ke keluarga kerajaan. Dia mendapat jabatan yang cukup tinggi. Dia pun menjadi Nasrani dan mendapat gelar Patricius.

Selanjutnya, dia berniat untuk menjadi penguasa Makkah, namun masyarakat menolak, pada akhirnya ia wafat terbunuh oleh Amr bin Jafnah al-Ghassani. Menurut keterangan, dia wafat 30 tahun sebelum kenabian.

Waraqah bin Naufal

Waraqah adalah sepupunya Khadijah istri Rasulullah. Saat masih muda, dia berbeda dengan pemuda seusianya. Jika yang lain menghabiskan waktu dengan senda gurau, mabuk dan berkelahi, dia lebih suka mengisinya dengan membaca dan menulis. Sehingga dia bisa melihat kebobrokan kaumnya dan berusaha memperbaikinya. Akibat tindakan tersebut, dia terusir dari Makkah.

Riwayat lain mengatakan, Waraqah pernah bertemu dengan Bilal, muazin Rasulullah. Saat itu Bilal sedang dianiaya dengan dibaringkan di padang pasir yang begitu terik. Para musyrikin Quraisy memaksanya agar keluar dari ajaran Nabi, tapi dia terus berteriak “Ahad,ahad,ahad”.

Lalu Waraqah menghampirinya seraya berkata: “Demi Allah, Tuhan Maha Esa, wahai Bilal.” Kemudian berkata kepada musyrikin Quraisy, “Demi Allah, jika kalian membunuhnya, maka kalian adalah orang – orang yang merugi.”

Adapun soal kematian Waraqah, para sejarawan berbeda – beda pendapat, sebagian mengatakan bahwa ia meninggal dalam keadaan Nasrani sebelum kenabian. Waraqah menjadi Nasrani setelah bertemu dengan pendeta pada lawatannya menuju Syam. Namun, sebagian lain mengatakan dia bertemu Nabi dan meninggal dalam keadaan Islam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here