Toga untuk Cak Nur dan Murid-muridnya

0
222

BincangSyariah.Com –Kemarin (27/04/2019) Universitas Paramadina menggelar acara Wisuda Sarjana S1 dan S2 secara serentak. Di antara wisudawan itu adalah…. saya.

Alhamdulillah, setelah menjalani studi S2 selama kurang lebih 14 tahun, akhirnya hari ini saya memakai toga. Uh! Jangan tanya kenapa saya kuliah selama itu. Bukan urusanmu. Lagian bukan kamu juga yang bayar, kan? Hahaha.

Sekarang saya mau berkabar soal ini: Saya menulis tesis tentang murid-murid Cak Nur (Nurcholish Madjid). Kenapa murid-muridnya? Karena merekalah yang menyambung tradisi intelektual Cak Nur setelah beliau wafat. Setahu saya selama ini murid-murid Cak Nur tidak pernah diangkat dalam karya akademik. Padahal jelas mereka itu penting.

Kalau Cak Nur sendiri sudah banyak ditulis, termasuk oleh saya (Api Islam), Emwe Nafis (Guru Bangsa) dan banyak yang lain. Teman saya, Budhy Munawar Rachman, bahkan menyusun Ensiklopedi Nurcholish Madjid, 4 jilid, 4 ribu halaman, yang memuat pikiran-pikiran lengkap Cak Nur.

Karya-karya tentang Cak Nur juga telah banyak ditulis sarjana luar seperti Greg Barton, Ann Kull Carool Kersten, Kamal Hasan, dan lain-lain. Karya-karya lepas dalam makalah dan artikel jurnal, media massa, dan lain-lain, pasti lebih banyak lagi.

Pernah ada masa ketika para sarjana merasa belum sah menjadi kaum intelektual kalau belum menulis tentang pikiran Cak Nur. Juga banyak yang menulis karena memang merasa perlu menyanggah pikiran-pikiran Cak Nur, karena tidak setuju, khususnya terhadap gerakan pembaruannya.

Gerakan pembaruan pemikiran Islam Nurcholish Madjid memang pernah menjadi episentrum gempa pemikiran yang menimbulkan tsunami kontroversi yang sangat hebat. Tapi itulah harga yang harus dibayar, yang sudah disadari oleh Cak Nur sendiri saat menyerukan pembaruan. Ia pernah mengatakan, “to avoid controversy, do nothing, say nothing, and be nothing!

Baca Juga :  Hadis-hadis tentang Akibat dari Mengkonsumsi Minuman Keras

Pandangan seperti itu juga saya kira yang diamini dan diimani oleh murid-muridnya. Kecuali yang tidak, hehehe.

Tapi siapa murid-murid Cak Nur itu? Banyak! Siapa pun yang pernah membaca pikiran-pikirannya dan menjadikannya inspirasi. Mereka ada di mana-mana, dari Sabang sampai Merauke. Dari pesantren salaf di pelosok kampung sampai kampus-kampus elite di kota besar, dari yang suka kumpul-kumpul di Monas sampai yang militan mendukung Ahok. Dari kubu 01, kubu 02, sampai kubu 00 alias golput. Saya tahu, banyak murid Cak Nur di sana. Dan itu sah-sah saja. Sebab Cak Nur sendiri memang tidak hitam-putih.

Tapi, saya kira, di mata intelektual besar seperti Cak Nur, kedua capres yang membuat kalian “saling menumpahkan darah di muka bumi” itu pastilah tidak ideal. Keduanya bukan king philosopher atau pun philosopher king, yang harus dibela mati-matian. Karena itu, wahai murid-murid Cak Nur, di kubu mana pun kalian berada, jadilah man of ideas seperti dia, yang memberi solusi bagi masalah bangsa dan negara.

Jangan malah merendahkan diri dengan berenang di kolam kecil atau bergelantungan di pohon mangga.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here