Tips Menjalin Persaudaraan Sesama Manusia

0
1950

BincangSyariah.Com – Manusia di bumi ini  telah Allah ciptakan dengan berbeda-beda suku bangsa, budaya, dan kelompok-kelompok, Bersandar pada Firman Allah Swt.

يا أيهان الناس إنا خلقنكم من ذكر وأنثى وجعلنكم شعوبا وقبائل.

“Wahai manusia, telah Aku ciptakan kalian laki-laki dan perempuan dan Aku jadikan kalian berbangsa-bangsa dan kelompok-kelompok”

Artinya bahwa manusia adalah makhluk sosial, secara kodratnya ia saling membutuhkan bantuan orang-orang di sekitarnya. Dari sini tentunya, bersosialisasi antar sesama merupakan bagian dari hukum alam yang harus dijalani. Adapun tujuannya tidak lain untuk merajut tali ukhuwah yang kelak akan abadi.

Diantara tahap merajut ukhuwah islamiah agar kekal di dunia sampai akhirat, sebagai berikut:

Pertama, Liyata’aarafu – untuk saling mengenal antar satu sama lain. Tugas dan kewajiban individu sebagai manusia makhluk sosial adalah untuk saling mengenal. Tidak dipungkiri juga bahwa perkenalan adalah awal mula proses sosialisasi terjadi, karena mengenal antar sesama manusia mulai dari nama, alamat/domisili, aktivitas dsb. adalah bekal utama untuk melanjutkan proses ukhuwah atau persaudaraan.

Kedua, Al-Tafaahum – saling mengerti. Dianjurkan pada fase kedua ini agar saling memahami keadaan baik situasi maupun kondisi, karena pada tahap ini kita bisa memposisikan sebagai pendamping kala seseorang sedang dalam kondisi bahagia yaitu dengan cara ikut merayakannya, tasyakuran, dan hal-hal yg bisa dirasakan bersama atau ketika  dalam kondisi bersedih, maka tugas seorang sahabat yaitu menjadi pelipur lara atau penghibur suasana duka. Kata Nabi, Abu Hurairah RA meriwayatkan, Nabi SAW bersabda, “Perbuatan paling baik ialah engkau memasukkan kebahagiaan kepada saudara yang mukmin dan muslim, atau engkau membayar utangnya, atau memberinya roti.” (Hadis Hasan).

Ketiga, al-Takaaluf – saling membebani. Fase ini menjadi ujian bagi seorang sahabat takala melihat kondisi sahabatnya yang sedang terpuruk atau tertimpa musibah, apakah kita hanya sebatas menenangkannya tanpa memberikan solusi atau sebaliknya. Sudah sewajarnya jika sesama teman saling merepotkan,  Seperti, jika dia terlilit hutang dengan rentenir, bank, atau membutuhkan biaya pengobatan rumah sakit. Lalu, mampukah kita berkorban lebih dari sekedar perhatian semata, yaitu dengan cara membantu  membayar hutangnya atau meringankan biaya pengobatannya. Tahapan inilah loyalitas dan solidaritas ukhuwah/persahabatan diuji.

Baca Juga :  Saat Sahabat Nabi Ini Wafat, Langit Berguncang

Keempat, Saling mendoakan adalah proses pamungkas setelah semua proses saling mengenal, dilanjutkan dengan saling memahami dan saling membebani dijalankan.   Apalah arti dari tahapan-tahapan sebelumnya jika sebuah persahabatan  yang telah dipupuk erat secara lahiriyah namun tidak ada ikatan kuat secara bathiniyah yaitu salng mendoakan. Berdasarkan sabda Nabi yang berbunyi

عَنْ أَبِيْ الدَّرْدَاءِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ، عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ، قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِينَ وَلَكَ بِـمِثْلٍ

Dari Abu ad-Darda’ ra. bahwa sesungguhnya  Rasulullah Saw. bersabda, “Do’a (kebaikan) seorang Muslim bagi saudaranya sesama Muslim di belakangnya tanpa sepengetahuannya adalah mustajab dikabulkan oleh Allah, di atas kepalanya ada malaikat yang ditugaskan (dengan perintah Allah untuk urusan ini), setiap kali dia mendoakan kebaikan bagi saudaranya, maka malaikat yang ditugaskan itu berkata: “Amin (Ya Allah, kabulkanlah!) dan kamu juga akan mendapatkan kebaikan seperti itu”. (HR. Muslim no. 2733).

Semoga tahapan-tahapan tersebut menjadi pedoman menuju persahabatan/persaudaraan yang abadi di dunia maupun akhirat, karena sejatinya ikatan persaudaraan akan kokoh dan kuat jika keduanya senantiasa saling mendoakan.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here