Tips Menghafal dari Imam Al-Khathib Al-Baghdadi

1
1269

BincangSyariah.Com – Menghafal adalah bagian penting dalam berbagai tahapan pembelajaran ilmu-ilmu agama. Kegiatan menghafal yang akrab dengan para pelajar diantaranya adalah menghafal Alquran, hadis, qawa’id dalam cabang ilmu tertentu hingga matan-matan kitab.

Al-Khathib Al-Baghdadi, seorang sejarawan dan ahli hadis dalam salah satu kitab beliau Al-Faqih wal Mutafaqqih (2/207) menjelaskan beberapa hal yang perlu diperhatikan agar proses menghafal dapat berjalan secara optimal. Kitab  Al-Faqih wal Mutafaqqih secara umum mirip seperti sebuah kitab pengantar ilmu fikih, namun di dalamnya juga mengandung pembahasan seputar adab-adab dan panduan dalam menuntut ilmu karena kata Al-Fiqh sendiri dalam istilah bahasanya bermakna kegiatan menuntut ilmu secara umum.

Menurut Al-Baghdadi, ada dua hal yang perlu diperhatikan oleh para pelajar untuk menghafal yaitu waktu dan tempat mengahafal yang baik. Lebih lanjut lagi menurut Al-Baghdadi ada beberapa waktu yang tidak boleh dilewatkan untuk menghafal dan juga tempat yang selayaknya digunakan dalam rutinitas menghafal.

Adapun waktu-waktu yang baik untuk menghafal adalah waktu sahur atau menjelang fajar, waktu tengah hari dan pagi hari. Kita sebaiknya tidak menghafal saat sore hari. Selain itu, menghafal di malam hari akan lebih efektif dibandingkan siang hari. Seorang pelajar juga sebaiknya tidak menghafal dalam keadaan kekenyangan karena hasilnya tidak akan optimal. Bahkan untuk efek jangka panjang, terlalu sering makan hingga kekenyangan dapat menumpulkan kemampuan untuk menghafal.

Al-Baghdadi melanjutkan, ketika memilih tempat untuk menghafal, kita juga sebaiknya memilih tempat yang langitnya terbuka dan lapang dibandingkan tempat yang memiliki atap apalagi hanya memiliki sekat-sekat yang sempit. Sebaiknya juga menentukan tempat menghafal yang ekslusif, jauh dari benda-benda yang dapat mengecoh pikiran dan menghilangkan konsentrasi. Tempat-tempat yang sebaiknya dihindari untuk menghafal menurut Al-Baghdadi adalah di kebun dengan banyak tanaman, di tepi sungai dan di pinggir jalan, karena tempat semacam itu seringkali menimbulkan pikiran-pikiran yang dapat mengalihkan hafalan.

Nasehat serupa tentang menghafal juga disampaikan oleh Abu Nashir Al-Farabi, sebagaimana dijelasakan dalam profil beliau di kitab Wafayatul A’yan (5/156). Hanya saja beliau memilki pandangan berbeda dari Al-Baghadadi yaitu justru menganjurkan agar menghafal di tempat yang hijau dan di dekat aliran air, karena menurut beliau tempat semacam itu akan menimbulkan gairah yang lebih besar bagi pikiran untuk menghafal.

Keistimewaan nuansa hijau dalam menghafal juga dipraktekkan oleh An-Nasai. Dalam kitab Mukhtashar Tarikh Dimasyq (3/301), disebutkan bahwa Imam Nasai memiliki kebiasaan memakai pakaian hijau karena dapat menguatkan hafalan. Kebiasaan Imam Nasai tentu tidak dapat dipandang sbeelah mata, beliau adalah seorang Imam Hadis dan tentu saja terbukti memiliki daya hafal yang luar biasa.

Semoga tips dari para ulama di atas dapat kita praktekkan dan efektif menunjang kemampuan mengahafal bagi para pelajar islam di tanah air.

1 KOMENTAR

  1. Terimakasih banyak atas ilmu nya, hanya saja saya memiliki sebuah prtanyaan mengenai hal waktu dalam menghafal. Bukankah tidak terlalu berpengaruh ya waktu dalam menghafal justru yang sangat berpengaruh adalah hikmah yang berada didalamnya seperti bisa dikatakan gairahnya. Jadi waktu hanya sarana kebanyakan orang(biasanya yang sering dipakai), bukan gairah itu sendiri. Dan kalau sekiranya gairah itu sudah muncul (untuk menghafal) maka tak perlu lagi mungkin untuk menunggu waktu terbaik untuk menghafal

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here