Apakah Meninggalkan Pekerjaan Termasuk Bagian dari Tawakal pada Allah?

0
787

BincangSyariah.ComSalah satu laku para sufi untuk dapat wushul kepada Allah ialah dengan melakukan tawakal. Dalam pandangan ulama sufi, tawakal secara umum bermakna pasrah kepada Allah atas segala urusan. Lafaz tawakkal berasal dari masdar wakalah atau wakil bermakna memasrahkan urusan sendiri kepada orang lain yang lebih mengerti tentang hal tersebut. Sehingga konsep tawakal dalam agama memiliki makna kepasrahan atas hidup kepada Dzat Yang Maha Tahu, Maha Kuasa atas segala urusan. Termasuk di dalamnya urusan rezeki.

Kepasrahan ini yang kemudian banyak menimbulkan problem dalam kehidupan manusia, terutama bagi yang sudah berkeluarga. Bagaaimana kemudian memahami kepasrahan ini jika dibenturkan dengan kasb (kerja) misalnya. Menarik mencermati pandangan para sufi tentang konsep kerja. Apalagi dalam proses menjalani laku tawakal. Di satu sisi, orang dituntut untuk pasrah menjalani kehidupan ini, tapi di sisi lain, desakan kehidupan dunia untuk berkompetisi dalam bekerja.

Syekh Zainudin al-Malibari dalam Ma’rifatul Azdkiya’ ila Thoriq al-Auliya’ mendefinisikan kerja kaitannya dengan kepasrahan rezkenya kepada Allah bersifat situasional. Jika seseorang tidak memiliki keluarga, dalam hal ini istri dan anak, maka seseorang baiknya tidak mengkhawatirkan persoalan rezekinya. Ia harus meyakini bahwa rezeki adalah urusan Tuhan dengan sifat welas asih-Nya. Sehingga seseorang tidak perlu begitu terobsesi dalam bekerja (mencari rezeki).

Namun jika orang tersebut memiliki keluarga, maka ia tidak diperkenankan tidak bekerja. Hanya saja dalam bekerja ia harus berniat untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga, tidak lebih. Sebagai bentuk tanggung jawabnya terhadap keluarga. Sehingga ia tidak diperkenankan meninggalkan pekerjaan dan hanya pasrah atas rezeki anak dan istrinya kepada Allah.

Kerja dengan demikian dalam pandangan Syekh Zainudin al-Malibari tidak lebih sebagai manifestasi rasa tanggung jawab pada keluarga. Selebihnya, sebagai manusia, seseorang harus yakin dan pasrah bahwa Allah yang akan menanggung segala kehidupannya di dunia. Allah yang menciptakan manusia, Dia pula yang menanggung segenap kehidupannya.

Baca Juga :  Ciri Tawakal dan Kisah Bisyr al-Hafi Saat Naik Haji Tak Membawa Bekal

Sedikit berbeda dengan Zainudin, Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Dien, ia meyakini bahwa sikap tawakal wajib bagi orang yang hidup sendiri maupun dengan keluarganya. Tawakal bukan sikap yang harus dimiliki seorang suami saja, melainkan juga setiap komponen keluarga.

Akan tetapi jika anggota keluarganya tidak mampu untuk bersabar, menahan lapar, dan tamak terhadap hak manusia maka lebih baik bekerja dengan tetap mempertahankan sikap tawakal. Karena tawakal, tidak sama seperti kerja, ia adalah wilayah batin, bukan lahiriyah. Ini berlaku untuk orang yang hidup sendiri, belum atau tidak memiliki keluarga, maupun yang telah berkeluarga.

Imam Al-Ghazali meyakini bahwa kerja bukan merupakan sebuah aktivitas yang dapat dibenturkan dengan sikap tawakal. Orang yang bekerja tidak serta merta meninggalkan sikap tawakalnya. Karena pada hakikatnya tawakal merupakan sikap batin seseroang, bukan lahiriyahnya. Sehingga seseorang yang bekerja bisa sekaligus bertawakal. Ia yang bekerja bisa disebut tawakal jika hatinya tidak bergantung pada hasil pekerjaannya melainkan hanya pada Allah. Abu Bakar adalah teladan dalam konteks ini.

Bahkan kiai Sholeh Darat dalam Minhaj al-Atqiya’ mengkritik dengan keras kepada mereka yang bersikap tawakal tetapi meninggalkan kerja. Mereka yakin bahwa tanpa bekerja orang akan tetap hidup. Menurut kiai Sholeh Darat, yang seperti itu justru dilarang dalam agama. Bagi kiai Sholeh Darat orang yang demikian diibaratkan seperti kain lusuh yang tergeletak di atas bumi.

Hal yang menjadi problem lainnya terkait orientasi kerja. Kerja yang semestinya untuk memenuhi kebutuhan hidup secukupnya, hari ini dimaknai sebagai ambisi mencapai karir hingga kita melupakan orientasi dan tujuan hidup semestinya. Semua manusia sibuk bekerja, berlomba-lomba memenuhi kebahagian dunia. Aspek rohani adalah sisi manusia yang sudah tidak relevan dijadikan prioritas.

Baca Juga :  Nilai Tawakkal dalam Puisi Jalaluddin Rumi

Bahkan, di era kapitalisme global, kerja adalah manifestasi dari usaha manusia untuk menumpuk kapital (at-takatsur). Para pengusaha dengan kepemilikan alat produksinya mengeksploitasi para pekerja untuk menghasilkan nilai lebih. Kerja dengan demikian dalam bahasa para sufi tidak lagi hanya dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan makan dirinya dan keluarga melainkan berorientasi pada akumulasi kekayaan, bahkan eksploitasi tenaga kerja.

Oleh karenanya, makna tawakal dan kerja harus direkonstruksi. Tawakal semestinya tidak lagi dimaknai sebagai kepasrahan yang kemudian dapat dibenturkan dengan semangat untuk bekerja. Tawakal adalah sikap atas sebuah keyakinan tentang siapa yang layak dipasrahi atas hidup ini. Jawabannya tentu bukan para penguasa, pengusaha, rekan bisnis, atasan, melainkan Tuhan semesta alam.

Dalam konteks ini, kemandirian akan muncul di atas pondasi prinsip yang telah kokoh. Seseorang tidak akan takut dalam menghadapi kerasnya kehidupan. Karena takdir rezekinya bukan di tangan pimpinannya atau penguasanya, melainkan di “tangan” Tuhannya. Semangat kerja ialah semangat untuk memanifestasikan rasa tanggung jawab pada diri sendiri dan keluarga, bukan semangat untuk memperkaya diri  dan mengakumulasi kapital.

Tawakal dan kerja adalah dua hal konsep yang berhubungan, tidak perlu dipertentangkan. Dalam konteks era kapitalisme global, keduanya menjadi penting. Yang pertama adalah pondasinya, yang kedua adalah jalur perjalanannya menuju keutamaan Allah (wabtaghu min fadhlillah) dan orientasinya tetap Tuhan Yang Maha Kuasa. Dengan demikian, sikap tawakal bisa dijadikan rem bagi tingginya semangat kerja yang dapat memembelokan orientasi manusia menuju Tuhannya. Sehingga, “Tawakal dan kerja Yes, Kapitalisme No!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here