Timbangan di Zaman Nabi Saw.

0
54

BincangSyariah.Com- Bagi yang pernah mengenal atau mempelajari ilmu fisika, diantara pelajaran pertamanya adalah soal perbedaan pengertian tentang massa dan berat sebagai dua satuan yang berbeda. Berat dalam ilmu fisika adalah gaya yang dipengaruhi oleh percepatan gravitasi. Karenanya, berat sebuah benda di bumi bisa tidak sama ketika diukur di bulan yang memiliki percepatan gravitasi berbeda.

Sedangkan massa adalah jumlah zat yang terkandung dalam suatu benda tanpa dipengaruhi oleh percepatan gravitasi. Lain halnya dengan massa, massa suatu benda akan sama di manapun benda tersebut berada. Hal tersebut dikarenakan massa tidak bergantung pada gravitasi.

Berdasarkan sistem Satuan Internasional, satuan untuk massa adalah kilogram, sedangkan satuan untuk berat adalah newton. Namun, dalam kehidupan sehari-hari masyarakat lebih sering menggunakan istilah berat dengan satuan kilogram. Kata berat lebih lazim digunakan dalam kehidupan sehari-hari untuk menunjukkan massa suatu benda. Contohnya “saya ingin membeli jeruk seberat dua kilogram”, jarang ada orang yang mengatakan “saya ingin membeli jeruk dengan massa dua kilogram”.

Satuan yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari untuk menunjukkan suatu timbangan diantaranya miligram, gram, ons, kilogram, dan ton. Miligram digunakan untuk nilai timbangan yang kecil dan ton biasanya digunakan untuk nilai timbangan yang cukup besar.

Pengetahuan seputar timbangan dalam Islam sangat dibutuhkan. Karena ia akan terkait berbagai persoalan ajaran Islam seperti zakat, nikah, jual beli, dan lain-lain. Nah, satuan yang digunakan dalam istilah fikih banyak yang berbeda dengan satuan yang biasa dikenal pada saat ini. Namun, para ulama di era kontemporer telah melakukan penyetaraan antara istilah yang digunakan dalam khazanah Islam dengan satuan yang dikenal pada saat ini.

Banyak dari istilah satuan massa dalam khazanah Islam yang digali dari khazanah istilah yang digunakan oleh atau di masa Rasulullah saw. Di masa Rasulullah, beberapa satuan bahkan bergantung pada jenis barang yang ditimbang, seperti dirham yang biasa digunakan untuk perak, dan dinar untuk emas. Tapi ajaran Islam mengajarkan satu prinsip moral penting bahwa orang Islam harus berlaku jujur dan adil tanpa melebih-lebihkan atau mengurangi timbangan. Timbangan dalam bahasa Arab disebut dengan wazn. Kata wazn juga terdapat dalam beberapa ayat Al-Quran.

…وَاَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيْزَانَ بِالْقِسْطِ…

…Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil… (QS. Al-An’am: 152)

وَأَوْفُوا۟ ٱلْكَيْلَ إِذَا كِلْتُمْ وَزِنُوا۟ بِٱلْقِسْطَاسِ ٱلْمُسْتَقِيمِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan timbangan yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. Al-Isra: 35)

Berikut diantara jenis timbangan yang sudah ada pada masa Nabi saw, yaitu diantaranya adalah dirham dan dinar. uqiyah, nasy, dan nawah.

عَنْ عَلِيٍّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذا كانت لك مائتا درهمٍ وحال عليها الحولُ ففيها خمسةُ دراهمَ، وليس عليك شيءٌ يعني في الذهبِ حتى يكونَ لك عشرونَ دينارًا، فإذا كان لك عشرونَ دينارًا وحال عليها الحولُ ففيها نصفُ دينارٍ، فما زاد فبحسابِ ذلك، وليس في مالٍ زكاةٌ حتى يحولَ عليه الحولُ

Baca Juga :  Hadis-hadis Keutamaan Menikah

Dari Ali, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Jika kamu mempunyai dua ratus dirham dan telah genap satu tahun, maka di dalamnya ada zakat lima dirham. Dan kamu sama sekali tidak berkewajiban dalam emas kecuali kamu mempunyai dua puluh dinar. Jika kamu mempunyai dua puluh dinar dan genap satu tahun, maka di dalamnya ada kewajiban zakat setengah dinar. Apabila lebih dari itu, maka perhitungan tadi menjadi patokan. Dan tidak ada zakat pada harta sampai memenuhi waktu haul (satu tahun). (HR. Abu Daud, al-Baihaqi)

Sesuai dengan hadis, Wahbah az-Zuhaili dalam al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu menetapkan ukuran wajib zakat untuk emas dan perak sebesar 2,5%. Seseorang berkewajiban membayar zakat emas dan perak setelah memenuhi syarat-syarat wajib zakat yang diantaranya adalah haul dan nisab. Jika seseorang memiliki 200 dirham perak, maka ia wajib membayar zakat sebanyak lima dirham setelah genap setahun. Begitupun dengan emas, seseorang yang memiliki 20 dinar emas wajib membayar dengan setengah dinar. Pertanyaannya, 200 dirham yang dimaksud di dalam hadis tadi sama dengan berapa gram perak? Dan 20 dinar sendiri setara dengan berapa gram emas?

Dirham

Ditinjau dari segi bahasa, dirham merupakan nama untuk perak yang dicetak dengan bentuk tertentu. Kata dirham berasal dari bahasa Yunani, yaitu darakhma atau darakhim. Dirham yang terbuat dari perak ditempa menjadi mata uang oleh bangsa Persia. Sampai saat ini istilah dirham masih digunakan sebagai mata uang Uni Emirat Arab dan maroko. Dirham sebagai salah satu jenis timbangan berbeda dengan dirham yang digunakan sebagai mata uang. Sebagai timbangan, dirham memiliki berat yang relatif sama. Sedangkan dirham sebagai mata uang timbangannya berbeda dari masa ke masa. Selain menjadi kata baku dalam bahasa Arab, kata dirham juga telah diserap ke dalam bahasa Indonesia. Berdasarkan KBBI, dirham mengandung arti mata uang emas atau perak.

Dirham merupakan satuan timbangan yang cukup populer di dunia Islam, sehingga tak heran jika keberadaannya menjadi patokan bagi jenis timbangan yang lainnya. Menurut Wahbah az-Zuhaili dalam al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, satu dirham Arab setara dengan 7/10 (tujuh per sepuluh) mitsqal atau 7/10 dinar. Satu dirham setara dengan 6 daniq atau 1/40 uqiyah. Menurut Hanafiyah, satu dirham setara dengan 3,125 gram. Sedangkan menurut mayoritas ulama, 1 dirham setara dengan 2,975 gram.

Baca Juga :  Raih Ampunan Allah Sebab Menolong Seekor Kucing Kecil

Jika nisab zakat perak adalah 200 dirham, maka menurut mayoritas ulama nisab tersebut setara dengan 595 gram dan menurut Hanafiyah menjadi 625 gram.

Dinar

Dinar merupakan istilah untuk sebatang emas yang ditimbang dengan satuan mitsqal. Menurut Ali Jum’ah Muhammad dalam muqadimah kitab al-Makayil wa al-mawazin as-Syar’iyyah, satuan mitsqal berasal dari Romawi Bizantium, yaitu solidus. Pada masanya, bangsa Bizantium menempa emas dan menjadikannya sebagai nilai tukar uang. Sampai saat ini, istilah dinar juga digunakan sebagai mata uang Irak, Kuwait, Tunisia, dan Yordania. Kata dinar juga telah diserap ke dalam bahasa Indonesia dengan arti mata uang emas lama.

Wahbah az-Zuhaili dalam al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu mengatakan bahwa satuan timbangan dinar menurut Hanabilah lebih kecil dari mitsqal. Namun, terlepas dari itu, kebanyakan ulama menganggap bahwa 1 dinar emas sama dengan 1 mitsqal  emas. Satu mitsqal sama dengan 20 qirath. Satu mitsqal asing (‘ajam) setara dengan 4,8 gram, sedangkan satu mitsqal Irak setara dengan 5 gram. Jika berpatokan pada mitsqal ‘ajam, maka nisab zakat emas seberat 20 mitsqal setara dengan 96 gram dan jika berpatokan pada mitsqal Irak, maka nisabnya menjadi 100 gram. Berdasarkan ketetapan Bank Islam Faisal di Sudan, satu mitsqal setara dengan 4,457 gram. Sedangkan menurut Hanafiyah, satu mitsqal setara dengan 5 gram.

Wahbah az-Zuhaili dalam kitabnya al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu menjelasakan bahwa:

1 mitsqal = 1 dinar = 72 biji gandum yang sederhana

Satu biji gandum yang sederhana memiliki berat sekitar 0,059 gram emas.

1 dinar emas = 72 biji gandum x 0,059 gram = 4,248 gram

Jika dibulatkan, satu dinar akan sama denga 4,25 gram. Hal tersebut sesuai dengan kesepakan ulama fikih bahwa satu dinar setara dengan 4,25 gram emas.

Selain pada hadis tentang zakat, jenis timbangan yang digunakan pada masa Nabi saw yang lainnya terdapat pada hadis-hadis tentang pernikahan. Pernahkah anda bertanya-tanya, berapakah mahar yang diberikan Nabi saw kepada istri beliau? Berikut ini adalah hadis tentang mahar pernikahan,

عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ- أَنَّهُ قَالَ:  سَأَلْت عَائِشَةَ زوجِ النَّبيِّ –صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّـمَ-: كَمْ كَانَ صَدَاقُ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -؟ قَالَتْ: كَانَ صَدَاقُهُ لِأَزْوَاجِهِ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ أُوقِيَّةً وَنَشًّا، قَالَتْ أَتَدْرِي مَا النَّشُّ؟ قَالَ: قُلْت: لَا. قَالَتْ: نِصْفُ أُوقِيَّةٍ، فَتِلْكَ خَمْسُمِائَةِ دِرْهَمٍ، فَهَذَا صَدَاقُ رَسُولِ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- لِأَزْوَاجِهِ.

Dari Abi Salamah bin Abdirrahman, ia berkata:

Aku pernah bertanya kepada Aisyah ra istri Nabi saw: “berapakah nilai mahar Rasulullah saw?” Aisyah ra menjawab: “Nilai mahar beliau untuk para istri beliau sebesar dua belas uqiyah dan satu nasyi.” Aisyah berkata: “Tahukah kamu ukuran nasy?” Aku pun menajwab “Tidak”. Aisyah berkata: “Setengah uqiyah, atau seluruhnya setara dengan lima ratus dirham.” (HR. Muslim: 1426).

Baca Juga :  Kisah Imam as-Syafii Mendamaikan Dua Pengikut Mazhab Besar

Uqiyah

Berdasarkan hadis, dua belas uqiyah ditambah dengan satu nasy setara dengan 500 dirham.

Selain itu, kesepakatan ulama juga menyebutkan bahwa satu uqiyah setara dengan 40 dirham. Jika dikonversikan ke dalam satuan gram, menurut Hanafiyah satu uqiyah setara dengan 125 gram dan menurut mayoritas ulama 1 uqiyah setara dengan 119 gram. Dengan sistem perhitungan sebagai berikut:

Menurut Hanafiyah,

1 uqiyah = 40 dirham x 3,125 gram = 125 gram

Menurut mayoritas ulama,

1 uqiyah = 40 dirham x 2,975 gram = 119  gram

Nasy

Secara bahasa, nasy memiliki arti setengah dari segala sesuatu. Menurut al-Jauhari dalam ash-Shahih, nasy setara dengan dua puluh dirham atau setara dengan setengah uqiyah.

1 nasy = ½ uqiyah = 20 dirham

Satu nasy menurut Hanafiyah setara dengan 62,5 gram dan menurut mayoritas ulama setara dengan 59,5 gram. Perhitungannya seperti berikut:

Menurut Hanafiyah,

1 nasy = 20 dirham x 3,125 gram = 62,5 gram

Menurut mayoritas ulama,

1 nasy = 20 dirham x 2, 975 gram = 59,5 gram

Jika mahar Nabi saw adalah 12 uqiyah dan 1 nasy, maka mahar tersebut menurut mayoritas ulama setara dengan 1.487,5 gram. Jika merujuk pada ketentuan dirham Hanafiyah, nilai tersebut menjadi setara dengan 1.562,5 gram. Selain uqiyah dan nasy, kata nawah juga digunakan sebagai timbangan mahar yang digunakan pada masa Nabi saw. Ketika itu diceritakan ada seorang sahabat nabi yang baru saja menikah. Cerita tersebut terkandung dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim sebagai berikut,

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – رَأَى عَلَى عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ أَثَرَ صُفْرَةٍ فَقَالَ : مَا هَذَا ؟ قَالَ : إِنِّي تَزَوَّجْتُ امْرَأَةً عَلَى وَزْنِ نَوَاةٍ مِنْ ذَهَبٍ ، قَالَ : بَارَكَ اللَّهُ لَكَ ، أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ .

Dari Anas Ibnu Malik ra bahwa Nabi saw pernah melihat bekas kekuningan pada Abdurrahman Ibnu Auf. Lalu beliau bersabda: “Apa ini?”. Ia berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah menikahi seorang perempuan dengan mahar senilai satu biji emas. Beliau bersabda: “Semoga Allah memberkahimu, selenggarakanlah walimah walaupun hanya dengan seekor kambing.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Nawah

Nawah memiliki makna asal isi buah-buahan. Bentuk jamak dari nawah adalah nawaa dan nawayat. Nawah merupakan istilah yang digunakan oleh orang Arab sebagai satuan berat yang setara dengan lima dirham.

Menurut Hanafiyah, satu nawah setara dengan 15,6 gram.

1 nawah = 5 dirham x 3,125 gram = 15,625 gram

Sedangkan menurut mayoritas ulama, 1 nawah setara dengan 14,875 gram.

1 nawah = 5 dirham x 2.975 gram = 14,875 gram

Wallahua’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here