Tiga Tingkatan Cinta dalam Sufisme

0
3508

BincangSyariah.Com – Cinta adalah sebuah emosi yang lahir dari perasaan kasih dan sayang yang kuat terhadap sesuatu atau seseorang yang meliputi pengabdian, ketulusan, kejujuran, rasa ingin memberi, membuat bahagia serta melindungi. Cinta pada hati manusia membawa perasaan bahagia dan rasa syukur yang luar biasa, sehingga manusia dapat merasakan kesempurnaan meski dalam keadaan yang sangat sederhana sekalipun. Dalam Q.S. Maryam ayat 96 disebutkan:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَٰنُ وُدًّا

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.”

Dalam bahasa Arab cinta disebut al-hub atau mahabbah. Kata tersebut berasal dari akar kata habba, hubban, hibban, yang bermakna waddaha, artinya kasih atau mengasihi. Cinta dikenal dengan sebutan mahabbah, karena ia berarti kepedulian yang paling besar dari cinta hati. Namun ada juga yang berpendapat bahwa cinta berasal dari kata habba yang bermakna biji-bijian, jamak dari habbat.

Sehingga kata habbat al-qalb berarti sesuatu yang menjadi penopang hati. Jadi cinta dinamakan hub dikarenakan ia bagai biji tersimpan dalan hati yang darinya akan tumbuh perasaan yang melebihi simbol dan tidak terkonsepkan. Seseorang tidak akan mengerti cinta sampai ia mengalaminya karena ia adalah sesuatu yang timbul akibat pengalaman batin seseorang. Begitulah keterangan yang dituliskan dalam “Senandung Cinta Jalaluddin Rumi” karya Saiful Jazil.

Sementara Zakariyah juga mencoba menarsirkan cinta dalam kitab Mu’jam al-Maqayiz fi al-Lughah, bahwa cinta atau hub berasal dari akar kata “ha” dan “ba”. Kata ini mempunyai banyak arti, di antaranya, “al-ma’ruf” berarti yang dikenal atau terkenal, “al-luzum”, berarti yang sudah lazim.

Baca Juga :  Benarkah Kematian Begitu Menakutkan? Ini Kata Maulana Rumi

Jika dianalisis, kedua makna cinta tersebut pada hakekatnya mempunyai esensi makna yang sama, yaitu ketika seorang mencintai sesuatu harus ada pengetahuan dan pengenalan terlebih dahulu terhadap objek yang dicintai, sehingga dengan mudah dapat bergaul, berdialog akrab, bahkan “menyatu” dengan yang dicintai, yang dalam wacana sufi selalu dialamatkan kepada Tuhan.

Cinta dalam pandangan para sufi adalah cinta dan kerinduan kepada Allah. Cinta yang seperti ini, menurut Maulana Rumi terbagi ke dalam tiga tingkat, yakni,

(1) Cinta karena pemberian. Cinta seperti ini berada pada tingkat yang paling rendah. Ibarat cinta seorang anak kecil, jika mereka mencintai orang tua atau orang lain, dipastikan karena mereka sering memberikan hadiah kepadanya. Cinta pada tingkat ini sangat labil dan tidak konsisten, jika kesehatan, kecantikan, ketampanan atau kekayaan dihilangkan atau dicabut oleh Allah, ia akan berkeluh kesah seakan akan Allah tidak pernah mencintai dirinya,

(2) Cinta atas dasar kekaguman. Manusia mencintai Allah, karena Allah memang Maha Kuasa, Maha Pengasih, Maha Penyayang. Mencintai sesuatu atas dasar kekaguman, seperti seseorang mencintai karena orang tersebut memiliki kelebihan dan keluarbiasaan, dan

(3) Cinta tanpa alasan. Jika seseorang ditanya “Mengapa mencintai Allah?” lalu menjawab “Saya tidak tau mengapa saya mencintai Allah”. Ia sudah berusaha keras mencari jawaban atau alasan, tapi tidak juga bisa ditemukan. Sebenarnya bukan tanpa alasan, justru begitu banyak alasan sehingga tak mampu ia ungkapkan. Itulah cinta yang suci dan tulus. Begitulah cinta para sufi kepada Allah. Sebuah cinta tanpa mengharap apa-apa.

Sementara menurut Imam al-Gazali, berdasarkan tingkatan cinta tersebut maka bentuk cinta kepada Allah itu bisa berbentuk dalam dua hal, yakni

Baca Juga :  Hukum Mengusir Anak Kecil yang Berisik di Dalam Masjid dan Tradisi Bahsul Masail

(1) Orang yang jatuh cinta kepadaNya (Allah) setelah merasakan lezatnya pertemanan denganNya. Orang yang jatuh cinta kepada Allah karena perjumpaan dengannya, maka kecintaannya tidak dapat dibandingkan. Ia melihat (ma’rifat) dulu, kemudian jatuh cinta setelah pertemuan itu, dan

(2) Orang yang disebut al-dhu’afa’ (orang-orang yang lemah). Umumnya orang jatuh cinta setelah berusaha setengah mati belajar mencintai Dia. Cinta seperti ini direkayasa. Ia tidak jatuh cinta, tapi belajar mencintai.

Imam Al-Ghazali menambahkan bahwa esensi cinta (mahabbah) yaitu “Sesungguhnya kecintaan yang paling tinggi setelah diraihnya adalah mahabbah. Tidak ada maqam lain kecuali buah dari mahabbah itu. Tidak ada maqam-maqam sebelum mahabbah, kecuali pengantar kepada mahabbah.

Demikianlah konsep cinta dalam sufisme menunjuk pada kecintaan dan kerinduan untuk bertemu dan bahkan menyatu dengan Allah. Cinta merupakan puncak perjalanan ruhani dan pendakian mistik seorang hamba menuju kehadiratNya. Mencintai Allah, mustahil adanya tanpa didahului pengetahuan dan pengenalan atasNya.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here