Tiga Sikap Penting Saat Melaksanakan Musyawarah

0
5

BincangSyariah.Com – Ada tiga sikap penting yang mesti dilakukan saat melaksanakan musyawarah. Tiga sikap penting saat musyawarah ini telah dicontohkan oleh Khulafaur Rasyidin. Apa sajakah itu?

Sebenarnya, prinsip-prinsip saat melaksanakan musyawarah tidak secara spesifik di jelaskan dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an hanya menerangkan secara umum bagaimana prinsip-prinsip musyawarah tersebut.

Begitu juga dengan hadis. Dalam Tafsir Al-Misbah (2017), Quraish Shihab mencatat bahwa hadis hanya menjelaskan secara umum prinsip-prinsip musyawarah, meskipun dalam hal tertentu hadis banyak menjelaskan prinsip-prinsip umum yang terdapat dalam al-Qur’an.

Salah satu contonya adalah kesuksesan yang dilakukan oleh empat khalifah yang memimpin umat Islam setelah Nabi Muhammad Saw. meninggal dunia. Keempat tokoh tersebut adalah Abu Bakar Siddiq, Umar Bin Khattab, Usman Bin Affan dan Ali Bin Abi Thalib berbeda-beda antara satu dengan yang lain.

Dalam prosesnya, kesuksesan tersebut terjadi saat pengangkatan Abu Bakar dengan cara Ba’iat, lalu pengangkatan Umar bin Khattab dengan cara penunjukan yang dilakukan oleh Abu Bakar sebelum beliau wafat.

Setelah itu, pengangkatan Usman bin Affan dengan model formatur atau disebut juga dengan dengan Ahl al-Hal wa al-‘Aqd.

Dewan tersebut terdiri dari tujuh orang, enam orang berhak untuk di pilih dan memilih menjadi khalifah dan satu orang tidak berhak untuk dipilih tetapi mempunyai suara untuk memilih yaitu Abdullah bin Umar putra Umar bin Khattab.

Terakhir, pengangkatan Ali Bin Abi Thalib dengan cara Ba’iat.

Dalam proses musyawarah untuk mengambil keputusan diperlukan tiga sikap penting sebagai berikut:

  1. Sikap lemah lembut
  2. Memberi maaf dan membuka lembaran baru.
  3. Permohonan ampunan ilahi.

Dalam mengambil keputusan, apa pun keputusannya, diperlukan sikap legowo untuk menerima hasil keputusan meskipun hasilnya tidak sesuai dengan keinginan pribadi.

Dalam pengambilan keputusan, hasil dari proses yang dilakukan dengan musyawarah harus disetujui dan dipatuhi. (Baca: Musyawarah, Salah Satu Kegemaran Rasulullah)

Agar mampu mematuhi dan mentaati seluruh hasil musyawarah, maka diperlukan sikap tawakkal atau yang biasa disebut dengan menyerahkan diri kepada Allah Swt.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here