Tiga Kota Paling Religius di Jazirah Arab Sebelum Kedatangan Islam

1
802

BincangSyariah.Com – Ajaran Islam pertama kali diturunkan di Makkah, sebuah kota ternama di Jazirah Arab sekitar tahun 610 M pasca seorang tokoh mulia, Nabi Muhammad Saw mendapat wahyu ilahi pertama di Gua Hira.

Meski telah cukup berumur, nyatanya Islam adalah agama yang paling akhir diturunkan jika dibandingkan agama samawiyah lainnya. Tentu, sebab Islam diyakini sebagai wujud penyempurnaan agama – agama sebelumnya. (Baca: Kenapa Agama Islam Pertama Kali Turun di Jazirah Arab?)

Jauh sebelum kebudayaan Islam lahir, Jazirah Arab telah menyerap banyak sekali kepercayaan. Sebut saja Yahudi, Kristen, Majusi, Mazdakiyah, Manuwiyah hingga Watsaniyah. Dengan keragaman ini  secara otomatis   kemunculan tempat – tempat bernilai religius adalah hal yang sangat lazim.

Apabila dirunut dari penuturan Samih Daghim dari  Adyan wa Mu’taqadat Arab Qabla Islam tercantum setidaknya ada tiga kota religius di Semenanjung Arab pra Islam. Ketiga kota itu adalah Makkah, Thaif dan Yatsrib (Madinah).

  1. Makkah

Asal usul penamaan kota Makkah dibahas dalam Mu’jamul Buldan. Dalam karyanya ahli georgrafi Syihabuddin Abu Abdullah Yaqut al-Hamawi mengutip pendapat Syarqi bin Qatthami bahwa kata Makkah berasal dari kata makaa – yamku (bersiul). Sebab bagi masyarakat Arab Jahiliah haji tidak sempurna jika tidak melakukan tawaf di Ka’bah sambil bertepuk tangan dan bersiul.

Dari sisi geografis, kota ini terletak di jantung wilayah Hijaz. Hijaz sendiri merupakan area yang menghubungkan Syam serta Laut Tengah dengan Yaman, Ethiopia,  Somalia dan India. Maka tidak aneh jika geliat dagang dan keagaaman di Mekkah terbilang cukup mengalir deras.

Di kalangan umat Islam tentu kota Makkah memiliki daya tarik tersendiri. Selain tempat kelahiran Nabi Muhammad Saw dan tempat diturunkannya wahyu, disini adalah  area ditunaikannya rukun Islam ke lima yakni ibadah haji.

Baca Juga :  Kitab-Kitab Syarah atas Tafsir al-Jalalain

Namun tahukah Anda, Makkah sebelum Islam telah digelari sebagai kota suci. Dalam sejarahnya beberepa ahli menyebut di sinilah tanah Nabi Adam A.S berasal. Seperti yang disampaikan Fuad Ali Ridha. Peneliti lain seperti Sami bin Abdullah al-Maghluts dalam Atlas Tarikh al-Anbiya wa ar-Rasul mengisahkan sejumlah Rasul pernah singgah di tempat suci ini. Mereka adalah Nabi Adam A.S, Nabi Saleh A.S, Nabi Ibrahim A.S, Nabi Ismail A.S  dan Nabi Muhammad SAW.

Hal lain yang menjadikan Makkah kota suci adalah adanya bangunan Ka’bah. Siapa yang tak mengenal bangunan yang satu ini. Jelas, Kabah sudah ada sejak sebelum Rasulullah Saw dilahirkan.

Terlepas dari perbedaan ulama soal perumus awal Ka’bah, yang jelas Nabi Ibrahim a.s bersama putranya Nabi Ismail a.s adalah dua pilar paling populer yang tidak bisa dipisahkan dari tokoh – tokoh  pendiri Ka’bah. Keduanya tidak lain adalah penyeru ke-Esaan Alloh atau yang kerap dikenal sebagai ajaran Hanif.

Sebagai monumen ketauhidan, dalam perjalanannya Ka’bah justru beralih fungsi menjadi markas utama penyembahan berhala. Umar bin Luhay al-Khuzai disebut – sebut sebagai pemain utama dalam peralihan ini. Sejak saat itu, di musim tertentu  orang – orang dari berbagai wilayah berkunjung ke Makkah tidak hanya untuk berdagang tapi juga beribadah memuja berhala.

Situs pemujaan berhala kemudian berkembang tidak hanya di Makkah, melainkan ada di Madinah, Thaif dan area lainnya. Meski ada spekulasi kekhawatiran Quraisy kesucian Makkah akan tersaingi yang artinya akan menguras pendapatan regional, namun bagi pengikut setianya Ka’bah di Makkah tetap berada pada maqam paling utama.

  1. Thaif

Menurut Yakut al- Hamawi kota Thaif terletak 12 farsakh yakni sekitar 67 km dari Makkah. Selain memiliki nilai sejarah perjalanan dakwah Nabi Muhammad Saw, pesona keindahan Thaif juga merupakan daya pikat mujarab bagi para wisatawan terlebih di musim panas. Nah, ternyata sebelum Islam kawasan ini sudah diagungkan oleh masyarakat Arab. Apa sebabnya ? Mari simak penjelasannya.

Baca Juga :  Kenapa Agama Islam Pertama Kali Turun di Jazirah Arab?

Dari sisi spiritualitas Thaif dikenal sebagai pusat ke dua pemujaan berhala setelah Makkah. Bahkan, sebagain orang meyakini asal usul penamaan Thaif berasal dari nama berhala yang diletakan di Thaif yakni al-Latta.

Menurut Samih Daghim mengutip pendapat Hisyam Ibn Al-Kalbi, di Thaif ada satu tempat berbentuk mirip rumah yang sangat dihormati, rabbah sebutannya. Penghormatan ini disematkan sebab didalam bangunan inilah bersemayam berhala al-Latta.

Dalam waktu – waktu tertentu dikisahkan penduduk sekitar melakukan ritual penyembahan seperti memakaikan rabbah dengan baju atau semacam kiswah lalu mengitarinya (towaf) dan mempersembahkan sembelihan.

Senada dengan teori tadi, Hasyim Yahya dalam al-Wasith fi Tarikh al-Arab Qabla al-Islam mengutarakan adanya bangunan sejenis Ka’bah di Thaif. Seperangkat ritual ibadah yang dilakuakan pun persis sama seperti yang dilakukan di Makkah. Selain itu, ia juga menyebut nama lain dari berhala al-Latta adalah rabbah dan thaghiyah.

  1. Yatsrib

Sebagaimana kita ketahui bersama, syiar Nabi Muhammad memasuki babak baru pasca beliau berhijrah dari Makkah ke Yastrib atau yang kini dikenal dengan Madinah. Lalu sebenarnya apa sih bedanya antara Yastrib dan Madinah ?

Yakut al – Hamawi mengutip pendapat Abu al-Qasim az-Zujaji  bahwa penamaan Yatsrib dinisbatkan kepada keturunan Nabi Nuh a.s yaitu  Yatsrib bin Qaniyah. Ia digadang – gadang  sebagai salah satu orang pertama yang menetap di kota tersebut. Sedangkan Madinah Rasul adalah penamaan Yatrsib setelah kedatangan Rasulullah Saw ke wilayah tersebut.

Madinah sendiri masih tergolong dalam kawasan Hijaz. Yakni berada sekitar 454 km dari Mekah. Sebelum kerasulan Nabi Muhammad Saw, kota ini menjadi wilayah paling subur bagi etnis Yahudi di Jazirah Arab.

Belasan suku Yahudi diketahui menetap dan beradaptasi disini misalnya Bani Ikrima, Bani Tsa’labah, Bani Auf, Bani Zaid dan Bani Qasish. Selain itu ada tiga suku terpopolur suku Yahudi  lainnya yakni Bani Qainuqa, Bani Quraidzah dan Bani Nadhir. Nama – nama tadi  nampaknya sudah tidak asing lagi terutama bagi para penggemar sirah nabawiyyah.

Jika melihat titik penyebaran ajaran Yahudi, sebenarnya tidak hanya berinteraksi di Madinah saja, tapi penduduk sekitarnya seperti Wadi al-Qura, Thaif dan Khaibar juga menganut kepercayaan yang sama. Hanya saja di Madinah lah ajaran ini berkembang pesat. Sebagaimana ia menjadi primadona baru bagi para penduduk.

Baca Juga :  Alissa Wahid: Indonesia di Persimpangan Jalan

Jika sebelumnya Yahudi hanya dianut oleh suku Yahudi asli dan keturunannya, selanjutnya suku – suku Arab juga ikut tertarik dan memeluk agama tersebut. Maka tidak mengherankan jika pada saat itu kota  penyuplai buah kurma ini dinobatkan sebagai pusat umat Yahudi di Jazirah Arab.

1 KOMENTAR

  1. Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh.
    Nabi Ibrahim a.s bersama putranya Nabi Ismail a.s adalah dua pilar paling populer yang tidak bisa dipisahkan dari tokoh – tokoh pendiri Ka’bah.
    Maaf Kakak kalau saya baca secara detail kalimat bagian atas salah.
    Nabi Ibrahim a.s dan Nabi Ismail a.s bukan pendiri Ka’bah.
    Ka’bah sudah diciptakan Allah sebelum Nabi Adam.
    Dan pada masa Nabi Ibrahim ‘Alaihis Sallam, bersama anaknya Nabi Ismail ‘Alaihis Sallam, hanya meninggikannya, membina dasar-dasar bangunan yang sudah ada tersebut.
    Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang kemudian diperintahkan Allah untuk meninggikan fondasi Ka’bah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here