Tiga Jenis Toleransi di Dalam Al-Qur’an

0
177

BincangSyariah.Com– Toleransi dalam Islam adalah sebuah ajaran yang sangat inti dan sejajar dengan ajaran seperti Rahmat (kasih sayang), hikmat (kebijaksanaan), dan ‘Adl (keadilan). Tanpa toleransi, tentu kehidupan bermasyarakat akan sangat kacau dan banyak melahirkan konflik. Dalam al-Quran setidaknya ada 3 jenis toleransi yang dapat kita amalkan di kehidupan bermasyarakat. Ketiga toleransi tersebut, yaitu:

Pertama, toleransi dalam keyakinan dan ibadah.

Konsep yang pertama berbicara tentang toleransi terhadap segala bentuk keyakinan dan peribadatan. Meskipun dalam surah Ali Imran ayat 19 disebutkan bahwa hanyalah Islam, agama yang diridhoi Allah. Akan tetapi dalam surah al-Baqarah ayat 256, Allah berfirman :

لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Artinya : “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Menurut Muhammad Abduh, ayat ini mengandung dua hukum : pertama, menjelaskan bahwa al-Quran menggarisbawahi ketidakbolehan adanya suatu paksaan dalam agama ataupun berkeyakinan. Sebab agama ataupun keyakinan adalah suatu hal yang tidak bisa dipaksakan karena berurusan dengan hati seseorang. Kedua, hukum syariah yang melarang membebani atau menekan manusia untuk beriman dan berkeyakinan dalam keadaan terpaksa.

Dalam ayat tersebut pun terdapat majaz Isti’aroh at-Tamsiliyyah yaitu pada lafazh Imtamsaka bil-Urwati al-wusqo. Hal tersebut menurut Ali Ash-Shobuni dalam Shofwatu at-Tafasir (Beirut: Dar al-Quran al-Karim, 1981, hlm. 163) adalah sebuah perumpamaan dari agama Islam. Menandakan bahwa agama Islam adalah tali yang kuat, dan terdapat hukum yang mengikat.

Baca Juga :  Nilai Tawakkal dalam Puisi Jalaluddin Rumi

Kedua, toleransi dalam kehidupan beragama.

Dalam surah al-Fath ayat 29, yang artinya “Muhamammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang kafir,…” disebutkan secara literal bahwa Nabi Muhammad dan para sahabat bersikeras terhadap orang kafir. Namun penafsiran tersebut sangatlah tidak berdasar, apalagi jika hanya didasarkan terhadap penafsiran secara literal.

Memahami surah al-Fath ayat 29 bisa kita lakukan dengan membuka asbabun nuzul ayat tersebut. Menurut Ibn Abbas ayat ini dikhususkan untuk para sahabat yang langsung menyaksikan perjanjian Hudaibiyah yang sangat merugikan umat Islam. Sehingga konteks ayat itu berada dalam suasana ketegangan di masa peperangan melawan kafir Quraisy, bukan di masa damai saat ini.

Dalam kajian Ulumul Quran terkenal sebuah kaidah yang berbunyi :

العبرة بخصوص السبب لا بعموم اللفظ

“Pelajaran diambil dari kekhususan sebab bukan keumuman lafadz”

Kaidah tersebut sangat  cocok untuk diterapkan pada ayat ini. Sehingga maksud dari ayat tersebut dapat diambil dengan melihat sebab turunnya. Dan tidak bisa kita terapkan saat ini di zaman yang damai dan penuh dengan interaksi sosial ini.

Kemudian dalam surah Al-An’am ayat 108, Allah melarang kita untuk mengolok-ngolok sesembahan orang yang berbeda dengan kita. Karena hal tersebut dapat menimbulkan sebuah gesekan di masyarakat yang berujung saling memaki Tuhan. Bisa saja terjadi konflik yang tidak berujung solusi.

Ketiga, toleransi dalam hidup bermasyarakat.

Sangat penting bagi kita untuk menjaga nilai-nilai kemanusiaan di suatu masyarakat. Oleh karenanya semua agama sangatlah berperan dalam menjaga kerukunan bermasyarakat, salah satunya dengan mengajarkan toleransi di masyarakat. Nilai-nilai tersebut sejatinya sudah terdapat dalam al-Quran, seperti dalam surah al-Maidah ayat 2, Allah berfirman :

Baca Juga :  Asal Usul Penamaan Rabiul Awal

وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ أَنْ صَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَنْ تَعْتَدُوا وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Artinya : “Dan janganlah sekali-kali kebencian (mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”

Kerjasama yang dilakukan untuk mencapai tujuan bersama, tidak hanya menjadi keharusan internal dalam suatu agama. Terlebih karena masyarakat terikat oleh suatu negara, sehingga harus bekerjasama tanpa memandang siapapun dan apapun agamanya. Sehingga setiap agama haruslah mempunyai komitmen dalam memajukan negara, terkhusus dalam hal kerukunannya.

Kita juga senantiasa dituntut bersikap adil dalam bermasyarakat. Jangan sampai karena perbedaan pemahaman atau bahkan perbedaan agama menjadikan kita bersikap tidak adil terhadap orang lain. Seperti kisah hakim saat seorang Yahudi berselisih dengan Ali bin Abi Thalib yang berakhir dengan keputusan kemenangan seorang Yahudi tersebut, dikarenakan Ali yang tidak membawa saksi ketika saat itu.

Penulis teringat perkataan salah satu tokoh yang disebut sebagai Bapak Toleransi, yakni Gus Dur. Beliau berkata, “semakin dalam ilmu seseorang maka semakin besar rasa toleransinya”. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat dan berguna dalam membangun hubungan antar agama di Indonesia menjadi lebih baik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here