Tiga Fenomena Penting dalam Sejarah Politik Islam

1
16

BincangSyariah.Com – Sejarah politik Islam memiliki kisah yang kuat. Dalam catatan sejarah tersebut, ada tiga fenomena penting dalam sejarah politik Islam yang digarisbawahi sejarawan Antony Black dalam bukunya Pemikiran Politik Islam: Dari Masa Nabi Hingga Masa Kini (2001).

Kedatangan Nabi Muhammad Saw. dan agama Islam membuat perubahan yang sangat signifikan di jazirah Arab. Setelah hijrah ke Madinah, Rasulullah Saw. menggabungkan suku-suku Arab ke dalam satu ikatan. Penggabungan tersebut beliau lakukan berdasarkan wahyu-wahyu yang turun pada masa itu.

Pada masa tersebut, peradaban Islam yang baru saja terbentuk dengan tantara Arabnya berhasil memecah belah kekuatan adidaya Kerajaan Persia dan Romawi Timur. Setelah itu. Islam berhasil menaklukkan jantung di kawasan Eurasia yakni Palestina, Suriah, Irak, Mesir, Persia dan Oxus. (Baca: Memahami Kondisi Sosial Budaya Bangsa Arab Sebelum Islam Datang)

Pencapaian tersebut diraih lantaran gagasan baru dalam dasar agama Islam yang menggabungkan iman dan kekuasaan politik. Antony Black menuliskan bahwa ada tiga fenomena penting dalam sejarah politik Islam. Apa sajakah fenomena tersebut?

Pertama, Islam tetap mempertahankan identitas kesukuan yang berperan penting dalam arus utama kehidupan bermasyarakat. Ruang yang diberikan Islam pada berbagai macam klan dan kesukuan adalah salah satu faktor yang membantu penyebaran Islam dengan cepat di Asia Tengah dan Afrika.

Kedua, ada beberapa ciri tertentu masyarakat kesukuan yang langsung diperkenalkan dalam tatanan masyarakat baru yang dibentuk oleh Islam. Sebagai misal, adanya konsep genealogi dan garis keturunan yang selalu ditekankan dalam hubungan sosial dan persepsi kultural dalam kehidupan masyarakat.

Nilai-nilai kesuksesan untuk terus menghidupkan tatanan moral telah ditegaskan dalam Qur’an Surat Al-Ahzab Ayat 6 sebagai berikut:

Baca Juga :  Abdullah bin Arius, Sosok Pimpinan Sekte Kristen yang Masih Bertauhid

ٱلنَّبِىُّ أَوْلَىٰ بِٱلْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنفُسِهِمْ ۖ وَأَزْوَٰجُهُۥٓ أُمَّهَٰتُهُمْ ۗ وَأُو۟لُوا۟ ٱلْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَىٰ بِبَعْضٍ فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ مِنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُهَٰجِرِينَ إِلَّآ أَن تَفْعَلُوٓا۟ إِلَىٰٓ أَوْلِيَآئِكُم مَّعْرُوفًا ۚ كَانَ ذَٰلِكَ فِى ٱلْكِتَٰبِ مَسْطُورًا

An-nabiyyu aulā bil-mu`minīna min anfusihim wa azwājuhū ummahātuhum, wa ulul-ar-ḥāmi ba’ḍuhum aulā biba’ḍin fī kitābillāhi minal-mu`minīna wal-muhājirīna illā an taf’alū ilā auliyā`ikum ma’rụfā, kāna żālika fil-kitābi masṭụrā

Artinya: “Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmim dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah).”

Ketiga, ada beberapa ciri masyarakat kesukuan yang dimasukkan dengan halus ke dalam struktur umat Islam sebagai sebuah kebutuhan. Islam yang pada saat itu merupakan agama dan hukum baru berhasil menanamkan identitas sosial yang mengikat seluruh anggotanya menjadi satu dan membentengi anggotanya dari orang luar.

Keunggulan Islam di antara perdaban besar yang lainnya terletak pada langkah besar Nabi Muhammad Saw. yang menggantikan suku dan negara dengan komunitas agama beserta aturan hukum dan moral.

Nabi Muhammad Saw. berhasil menemukan satu tipe masyarakat yang unik dan saling berhadapan. Selain itu, tipe masyarakat yang dibangun dalam peradaban Islam ini juga berwawasan dunia dan menghubungkan individu dengan kelompok lewat kombinasi yang unik.

Dalam hal ini, Islam berbeda jalur dengan peradaban yang ada sebelumnya sebagai misal Mesir, negara-kota Yunani, dan monarki-monarki feodal di Eropa. Dalam peradaban lain tradisi dan budaya ditempati oleh para pejabat negara, tradisi dan budaya dalam Islam justru dikuasai oleh syariat dan para individu karismatik.

Baca Juga :  Ibnu Abi Zaid al-Qairowani; Tokoh Penentang Syiah Tunisia Berjuluk Imam Malik Kecil

Bentuk peradaban baru tersebutlah yang membuat Islam berkembang sebab memiliki bentuk yang berbeda dengan peradaban-peradaban lain pada masa itu. Wajar apabila Islam menjadi salah satu agama dengan persebaran terbesar di dunia.[]

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here