Tiga Cara Membedakan Surat Makkiyah dan Madaniyah

0
482

BincangSyariah.Com – Syaikh Mana’ al-Qaththan dalam Mabahis fi Ulum al-Quran menjelaskan bahwa sebuah surat dalam Alquran dinamakan Makkiyah atau Madaniyah atas dasar sebagian besar ayat-ayat yang terkandung di dalamnya. Jika sebagian besar adalah ayat Makkiyah maka disebut surat Makkiyah, demikian sebaliknya.

Untuk mengetahui dan menentukan mana Makkiyah dan Madaniyyah, para ulama secara umum bersandar pada dua metode utama yaitu sima’i naqli maksudnya pendengaran apa adanya dan secara qiyasi ijtihadi penalaran bersifat ijtihad.

Metode pertama dapat diketahui dengan didasarkan pada riwayat shahih dari para sahabat yang menyaksikan turunnya wahyu atau dari para Tabi’in yang menerima dan mendengarkan langsung dari sahabat tentang bagaimana, dimana dan peristiwa apa yang berkaitan dengan turunnya wahyu tersebut.

Hal ini sebagaimana penjelasan Abu Bakar Al-Baqilani dalam Al-Intishar berkata, “bahwa pengetahuan tentang Makkiyah dan Madaniyah itu mengacu pada hafalan para sahabat dan tabi’in. tidak ada satupun yang datang dari Rasulullah mengenai hal itu, karena beliau tidak diperintahkan utnuk itu dan Allah tidak menjadikan ilmu pengetahuan itu sebagai kewajiban umat. Bahkan sekalipun sebagian pengetahuan mengenai sejarah Nasikh dan Mansukh itu wajib bagi ahli ilmu, tetapi pengetahuan tersebut tidak harus diperoleh melalui nash dari Rasulullah.”

Sementara metode qiyasi ijtihadi didasarkan pada ciri-ciri Makkiyah dan Madaniyah. Apabila dalam surat terdapat suatu ayat-ayat yang mengandung sifat atau peristiwa madani maka ayat itu disebut madani, begitu juga sebaliknya. Seperti setiap surat yang di dalamnya mengandung kisah para nabi dan umat terdahulu adalah Makkyiyah, sedangkan setiap surat yang di dalamnya mengandung hukum, maka surat itu adalah Madani.

Sebagian besar penentuan Makkiyah dan Madaniyah dilandasi dengan cara pertama dan penjelasan-penjelasan mengenai hal ini biasanya dapat ditemui dalam tafsir bil ma’stur, kitab asbab an-nuzul dan ulum al-quran.

Baca Juga :  Risalah Al-Ladunniyyah dan Cara Al-Ghazali Membantah Kaum Rasionalis

Adapun untuk membedakan Makkiyah dan Madaniyah secara sima’i naqli, para ulama mempunyai tiga macam pandangan yang masing-masing mempunyai dasarnya tersendiri.

Pertama; dari segi turunnya. Makiyyah adalah yang diturunkan sebelum hijrah meskipun bukan di Makkah. Sedangkan Madaniyah adalah yang diturunkan setelah hijrah sekalipun bukan di Madinah. Seperti ayat yang diturunkan pada tahun penaklukan kota Makkah misalnya Allah berfirman

إن الله يأمركم أن تؤدو الأمانات إلى أهلها

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak (QS; An-Nisa; 58)

Ayat ini diturunkan di Makkah dalam Ka’bah pda tahun penaklukan Makkah. Atau diturunkan pada Haji Wada’. Sekalipun turun di Makkah tapi karena terjadi setelah peristiwa hijrah maka dinamakan Madaniyah. Pendapat ini lebih baik dari pada kedua pendapat berikutnya karena lebih memberikan kepastian dan konsistensi.

Kedua; dari segi tempat turunnya. Makkiyah adalah yang diturunkan di Makkah dan sekitarnya seperti Mina, Arafah, dan Hudaibiyah. Dan Madaniyah adalah yang diturunkan di Madinah dan sekitarnya seperti Uhud, Quba dan Sil. Namun, pendapat ini berkonsekuensi tidak ada pengecualian secara spesifik dan batasan yang jelas. Sebab yang turun di perjalanan seperti Tabuk dan Baitul Maqdis tidak termasuk ke dalam salah satunya.

Ketiga; dari sasarannya. Makiyyah adalah seruan yang ditujukan kepada penduduk  Makkah. Dan Madaniyah adalah yang diserukan kepada penduduk Madinah. Berdasarkan pendapat ini dikatakan bahwa ayat yang mengandung ya ayyuhan-nas adalah Makkiyah, sedang ayat yang mengandung ya ayyuhal ladzina amanu adalah Madaniyah.

Akan tetapi setelah diteliti ternyata kebanyakan kandungan Alquran tidak selalu dibuka dengan seruan tersebut dan juga ada juga ayat yang diturunkan di Madinah yang dibuka dengan ya ayyuhan-nas. Sehingga penetapan ini juga tidak konsisten.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here