Tiga Aliran Mufasir Al-Qur’an di Masa Tabi’in

0
71

BincangSyariah.Com– Memahami  sejarah tafsir Al-Qur’an merupakan hal yang penting dalam khazanah keislaman. Perhatian terhadap sejarah tafsir sama pentingnya terhadap eksistensi Al-Qur’an itu sendriri. Karenanya, sangat perlu kita menengok sejarah penafsiran Al-Qur’an yang membentang dari masa  ke masa.

Penafsiran Al-Qur’an sudah terjadi ketika Nabi Saw. masih hidup. Dilanjutkan dengan para Sahabat yang menerima langsung pengajaran dari Nabi. Kemudian bersambung lagi pada generasi berikutnya, yaitu para tab’iin.

Dalam kitab yang berjudul alTafsir Wa al-Mufassirun jilid I karya Husayn al-Dzahabi (halaman 76-90), penafsir dari kalangan tabi’in terbagi menjadi 3 aliran penafsiran, yakni: Mekkah (aliran Ibnu Abbas); Madinah (aliran Ubay bin Ka’b); dan Kufah (aliran Abdullah bin Mas’ud).

Pertama, aliran Mekkah (aliran Ibnu Abbas). Kota ini relatif terhindari dari kegaduhan politik, alasannya karena kota ini termasuk kota yang suci dan tidak menjadi pusat pemerintahan.  Mufasir dari kalangan tabi’in yang berasal dari Mekkah adalah Said bin Jubayr, Mujahid bin Jabr, Ikrimah, dll. Semuanya merupakan mawali (budak) yang berkesempatan untuk berguru pada Ibnu Abbas.

Said bin Jubayr, ia berasal dari Habasyah dan berkulit hitam, namun ia dikenal dengan putih budi pekertinya. Ia merupakan santri senior yang berguru pada Ibnu ‘Abbas. Ia juga sangat menguasai qiroah-qiroah sahabat lainnya. Selain itu, ia juga sangat menonjol dalam banyak bidang keilmuan lainnya. Sehingga ia menjadi salah satu penafsir terkemuka di kalangan tabi’in.

Muhajir bin Jabr, ia wafat pada usianya yang ke-83 tahun. Walaupun ia adalah penafsir yang paling sedikit meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, tetapi ia sangat kredibel dan menjadi rujukan tokoh besar seperti Imam Syafi’i dan al-Bukhari. Menurut al-Dzahabi, penafsiran Mujahid ini terhitung liberal, karena ia memberikan  kebebasan yang sangat luas dalam menafsirkan al-Quran.

Baca Juga :  Nabi Larang Anak-Anak Keluar Rumah Waktu Magrib, Apakah karena Ada Makhluk Halus?

Ikrimah, tabi’in berdarah Afrika ini juga menerima riwayat dari Ali bin Abi Thalib, Abu Hurairah, dan sahabat yang lainnya. Walaupun banyak sekali pandangan negatif tentang dirinya, tetap saja kredibilitas-nya dianggap oleh para Imam hadits. Menurut al-Dzhabi, ia sangat mengakui kapabilitas dan moralitas Ikrimah.

Kedua, aliran Madinah (aliran Ubay bin Ka’b). Banyak sahabat yang menghabiskan waktu untuk mempelajari Al-Qur’an di Madinah. Tokoh yang dipercaya sebagai penafsir al-Quran di Madinah adalah Ubay bin Ka’b. Banyak tokoh tabi’in yang menerima riwayat darinya, diantaranya: Abu al-‘Aliyah, Muhammad bin Ka’b al-Qurdhi, dan Zayd bin Aslam.

Abu al-‘Aliyah, ia termasuk tokoh tabi’in besar di kalangan tafsir. Banyak ulama terdahulu yang mencatatnya sebagai sumber terpercaya. Ia banyak menerima riwayat tafsir dari Ubay bin Ka’b. Tokoh seperti al-Thabari, Ibnu Abi Hatim, Ahmad bin Hanbal, mengambil riwayat dari jalur ini.

Al-Qurdhi, ia dikenal sebagai orang terpercaya, adil, dan wara’. Menurut Ibnu ‘Aun, al-Qurdhi merupakan tabi’in yang sangat pandai dalam takwil Al-Qur’an. Ia juga termasuk tokoh terkemuka di Madinah dengan keilmuan dan kefakihannya.

Zayd bin Aslam, ia merupakan tokoh tabi’in besar yang dikenal sebagai ahli fikih dan tafsir. Ia menafsiri banyak ayat-ayat Al-Qur’an dengan logika. Walaupun begitu, tidak ditemukan pandangan ulama mengenai Zayd sebagai penafsir yang mengada-ada. Para ulama juga mempercayai ke-tsiqah-an ia sebagai penafsir di kalangan tabi’in.

Ketiga, Kufah. Mufasir kalangan tabi’in di Kufah menerima riwayat-riwayat dari Guru Besar Kufah, yaitu Abdullah bin Mas’ud. Ibnu Mas’ud meletakkan dasar pencarian dalil hukum melalui upaya rasional. Karena kawasan Kufah dikenal sebagai kawasan rasional. Tidak heran kebanyakan tafsirnya diwarnai nuansa rasional dan ijtihad.

Baca Juga :  Tafsir Surah Al-Mulk Ayat 13-14: Allah Mengetahui Segala Rahasia Manusia

Aliran tafsir Kufah disandarkan kepada Ibnu Mas’ud. Dan banyak sekali santri-santri yang meneriwa riwayat darinya, di antaranya: ‘Alqamah bin Qays, Masruq bin ‘Abd al-Rahman, Hasan al-Bashri, Amir al-Sya’bi, Murrah al-Hamdani, dan banyak lagi yang lainnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here