Thalhah bin Ubaidillah: Merelakan Tangannya Demi Rasulullah

0
1347

BincangSyariah.Com – Peperangan di zaman abad ke-7 M merupakan cara sebuah kelompok atau masyarakat untuk mempertahankan eksistensinya. Peperangan yang terjadi di awal Islam pada masa Rasulullah saw adalah termasuk bertujuan untuk mempertahankan eksistensi Islam dari kelompok-kelompok lain. Cara ini mau tidak mau harus ditempuh oleh umat Muslim pada saat itu.

Di setiap peperangan tentu berdampak pada kondisi umat Islam. Akan tetapi salah satu peperangan yang menimbulkan bekas teramat dalam dan menelan banyak korban jiwa dari pihak kaum muslimin adalah perang Uhud. Pasukan muslimin terpojok akibat kesalahan segelintir sahabat yang gelap mata melihat ghanimah yang ditinggalkan pasukan musuh. Padahal itu merupakan taktik mereka untuk mengelabui pasukan Muslim. Akibatnya pasukan muslim menjadi bulan-bulanan pasukan berkuda yang dipimpin Khalid bin Walid, termasuk yang menjadi sasaran adalah Nabi Muhammad Saw. Para sahabat berjuang mati-matian untuk membela Rasulullah saw dari gempuran kaum musyrik Mekah dan sekutunya. Satu di antara sahabat tersebut bernama Thalhah bin Ubaidillah.

Sebelum bercerita tentang heroisme Thalhah, ada baiknya diterangkan sekelumit latar belakangnya. Thalhah bin Ubaidillah bin Usman bin Amr al-Taimi al-Quraisyi lahir di Mekah 24 tahun sebelum Hijriah atau sekitar tahun 594 Masehi menurut perhitungan Ahmad Rofi’ Usmani. Ibunya Thalhah bernama Sha’bah binti Abdullah bin Imad merupakan perempuan saudagar yang kaya raya di Mekah yang berasal dari Hadhramaut.

ibnu Sa’ad dalam kitabnya Thabaqat al-Kubra menulis bahwa Thalhah bin Ubaidillah pernah menikah dengan tiga istri, tidak dimadu secara sekaligus, yaitu pertama Hamnah binti Jahsy dari Hamnah mempunyai dua anak laki-laki bernama Muhammad dan Imrah. Ibu dari Hamnah binti Jahsy adalah Amimah binti Abdul Muthallib, yang artinya ia adalah sepupu dari Nabi Muhammad saw. Kedua, Khaulah binti al-Qa’qa’ yang melahirkan putra bernama Musa. Ketiga, Ummu Kultsum binti Abu Bakar al-Shiddiq, yang berarti Thalhah merupakan menantu dari Abu Bakar. Dari Ummu Kultsum memiliki tiga putra bernama Ya’qub, Isma’il, dan Ishaq.

Baca Juga :  Cara Nabi Mengajar Sahabat Agar Tidak Jenuh

Riwayat dari Musa bin Thalhah sebagaimana dimuat dalam kitab hadis al-Hakim dan al-Thabrani, Thalhah bin Ubaidillah digambarkan berkulit putih kemerah-merahan, memiliki bentuk wajah pipih, berperawakan pendek, dadanya bidang, pundaknya lebar, dan kedua telapak kakinya besar.

Dalam catatan Imam al-Nasa’ه sebagaimana dikutip Syamsuddin al-Dzahabi dalam kitab Siyar A’lam al-Nubala pada saat perang Uhud, Rasulullah saw hanya dikelilingi 12 orang sahabat ketika dikepung oleh pasukan musuh. Dari 12 orang sahabat, hanya Thalhah yang berhasil bertahan bersama Rasulullah saw. Pada saat-saat terakhir, Thalhah berhasil mengalahkan pasukan musuh berjumlah 11 orang hingga jari-jari tangannya putus.

Atas kegigihannya untuk bertahan dalam kepungan pasukan musuh pada perang Uhud, Rasulullah saw mengapresiasinya dengan bersabda, “siapa yang ingin melihat orang yang syahid yang berjalan, maka lihatlah Thalhah bin Ubaidillah.”

Kegigihannya berjuang mati-matian dalam perang Uhud ini, bisa jadi disebabkan penyesalan Thalhah yang tidak sempat ikut dalam perang Badar. Diceritakan tatkala rombongan kafilah dagang Quraisy pulang dari Syam menuju Mekah Rasulullah saw mengutus Thalhah biin Ubaidillah dan Sa’id bin Zaid untuk melakukan spionase (mata-mata) terhadap rombongan tersebut. Keluarlah dari Madinah Thalhah bersama Sa’id untuk melakukan pengawasan. Keduanya terus mengintai dan menunggu rombongan hingga sebelas hari sebelas malam.

Di Madinah sendiri, Rasulullah telah mendapatkan kabar bahwa Quraisy telah melakukan pergerakan hingga kedua pasukan menuju Badar. Di hari yang sama dengan kepulangan Thalhah ke Madinah, Rasulullah bersama sahabat lainnya sedang melakukan perang di Badar. Mengetahui Thalhah ketinggalan rombongan perang, Ia langsung menyusul ke Badar. Namun setibanya di Badar, peperangan telah berakhir.

Seperti Abdurrahman bin Auf (profil Abdurrahman bin Auf lihat disini), selain memang baik Abdurrahman dan Thalhah termasuk dalam sahabat yang paling awal masuk Islam (al-Sabiqun al-Awwalun), Thalhah bin Ubaidillah pun mempunyai kunyah (nama panggilan) Abu Muhammad berdasarkan salah satu anaknya yang bernama Muhammad.

Baca Juga :  Said bin Zaid: Sahabat yang Mendapat Berkah Doa Orang Tua  

Thalhah bin Ubaidillah juga terkenal dengan keramahannya. Hal ini berdasarkan riwayat dari Ka’ab bin Malik, ia bercerita, “suatu ketika aku masuk ke Masjid, di dalamnya ada Rasulullah saw. Thalhah bin Ubaidillah dengan tampak bergegas menghampiriku, menyalamiku dan menyapaku.” Keterangan ini dapat ditemukan dalam kitab Sahih al-Bukhari terutama pada bab tentang mushafahah (bersalaman).

Pada perang Jamal pada tahun 36 H Thalhah berada dalam pasukan Aisyah RA yang hendak menuntut keadilan atas kematian Usman bin Affan. Pada perang ini pula Thalhah bin Ubaidillah menghembuskan nafas terakhirnya. Ia meninggal di usia 62 tahun, kepergiannya ditangisi oleh Ali bin Abi Thalib. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here