Thahir Haddad: Pejuang Feminis Tunisia yang Meninggal Dalam Pengasingan

0
354

BincangSyariah.Com – Siapakah sosok Haddad sehingga ia dimarginalkan dari lingkungannya? Lalu peran apa yang dimainkan Hadad hingga mampu membuat gusar pemerintah saat itu?

Haddad adalah salah satu mahasiswa  Zaytunah, Tunisia yang berbeda dari mayoritas mahasiswa lainnya. Pemikirannya cenderung lebih maju dari teman-temannya kebanyakan. Ia dilahirkan di Tunisa pada tahun 1899, akhir abad ke-19 dan hidup di awal abad ke-20. Abad yang banyak melahirkan beberapa tokoh pembaharu di dunia.

Pendidikan awalnya ia tuntaskan di Zaytunah selama tujuh tahun (1913-1920).  Di sana ia menuntaskan hafalan Alquran dan mengenyam beberapa ilmu syari’ah dan agama hingga mendapatkan syahadah tathwi’ (semacam ijazah setingkat dengan SMA).

Pendidikan agama yang ia terima pada saat itu tidak lantas membuatnya puas dan merasa cukup begitu saja. Ia sadar bahwa corak pendidikan di Zaytunah cenderung konservatif dan stagnan. Perlu ada perubahan dan pembaharuan seperti yang ia lihat di Madrasah Shodiqiah (sebuah sekolah dengan metodelogi yang lebih modern. Ibarat sekolah model Muhammadiyah di Indonesia. Sekolah ini berdiri pada tahun 1875 di jantung kota Tunis, Tunisia) dan sekolah-sekolah Prancis (Prancis mulai menjajah Tunisia pada tahun 1883 setelah adanya The Congress of Berlin yang digelar pada tahun 1878 yang menghasilkan keputusan pembagian ‘tanah’ antara Jerman, Italia, Inggris, Prancis dan Inggris).

Maka, lahirlah gagasan-gagasan Haddad yang ia tuangkan dalam beberapa majalah dan surat kabar. Ia mengajak masyarakat untuk bersama-sama memerangi kebodohan, kemunduran dan kediktatoran penguasa.

Keuletan dan kegigihan Haddad sebagai seorang pemuda yang mampu menyuarakan perubahan dan pembaharuan ini menarik hati Syekh Abdul Aziz As-Tsa’alabi, seorang tokoh pembaharu Tunisia. Ia mendirikan Partai Dusturi dan menuangkan gagasan-gagasan pembaharuannya dalam beberapa karyanya. Salah satu karyanya yang populer ialah Ruh Al Taharrur fi Al-Qur’an. Buku ini merupakan buku  As-Tsa’alabi yang berpengaruh karena memuat gagasan-gagasan pembaharuannya.

Baca Juga :  Ibnu Taymiyyah dan Soal Diutusnya Buddha Menjadi Nabi

Hal ini pulalah yang membuat Haddad menjadi kader andalan As-Tsa’alabi hingga ia dibuang, menjauh dari kota Tunis karena gagasan-gagasannya yang dianggap berbahaya bagi penjajah Prancis pada saat itu.

Namun upaya-upaya pembuangan yang dilakukan oleh penjajah Prancis pada saat itu tidak mampu meredupkan semangat perjuangan Haddad. Ia tetap bergerak dan terus berupaya menelurkan gagasan-gagasannya hingga ia bertemu dengan Muhammad Ali Al Hami (1890-1928) dan membentuk Serikat Pekerja Tunis.

Haddad dan Buku Imra’atuna fi al Sharia wa al Mujtama’

Latar belakang penulisan buku Imra’atuna fi al Sharia wa al Mujtama’ (Kaum Wanita Kita dalam Pandangan Syariah dan Masyarakat, 1930) ini lahir dari pandangan Haddad sendiri. Menurutnya, upaya pembaharuan dalam memerangi kebodohan dan keterbelakangan tidak akan terwujud kecuali harus melakukan ‘gebrakan’ dalam lingkaran yang lebih kecil (keluarga) sebelum menuju ke lingkaran yang lebih besar (masyarakat). Dan menurutnya, upaya pembaharuan itu harus diwujudkan dengan melakukan pembebasan kepada kaum perempuan dan menyamakan hak-hak mereka.

Gagasan Haddad ini menuai banyak kecaman apalagi pasca terbitnya buku Qasim Amin dari Mesir dengan gagasan serupa; Tahrir Al Mar’ah (1899) dan Al Mar’ah Al Jadidah (1901). Bedanya, Haddad lahir dalam lingkungan keluarga sederhana dengan corak pendidkan klasik sementara Amin lahir di tengah keluarga aristokrat yang dididik dengan pendidikan modern. Hal inilah yang membuat corak pemikiran Haddad berbeda dari yang lain. Ulasan tentang gagasan-gagasannya dalam buku Imra’atuna akan kami tulis dalam artikel selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here