Muhammad Thahir bin Asyur; Mufasir Kontemporer yang Dibentuk Melalui Sistem Tradisional Pesantren

1
1202

BincangSyariah.Com – Seiring berjalannya waktu, ilmu pengetahuan terus mengalami perkembangan. Apalagi di era modern banyak temuan ilmiah para ahli yang berhasil menguak sejumlah misteri yang belum ditemukan di masa sebelumnya.

Peristiwa ini tidak hanya berdampak langsung terhadap ilmu pengetahuan umum dan teknologi tapi juga berpengaruh besar terhadap ilmu – ilmu Islam, termasuk ke ranah disiplin ilmu tafsir Al-Qur’an. Usaha para ulama untuk menggali kekayaan ilmu pengetahuan dari Al-Qur’an melalui berbagai sudut pandang pun mulai bermunculan.

Dalam kondisi ini, seorang pria berkebangsaan Tunisia Muhammad Thahir bin Asyur muncul ke permukaan. Lantaran keberhasilannya mengkaji tafsir Al-Qur’an melalui pengaplikasian Maqasidussyariah atau yang lazim dikenal dengan tafsir maqasidi. (Baca: Jejak Islam di Dunia: Tunisia dan Masyarakat Arab Bergaya Eropa)

Ulama Produktif

Sepanjang hidupnya, Thahir bin Asyur telah meluangkan banyak waktu untuk mengkaji ilmu-ilmu Islam. Bahkan ia termasuk ulama produktif yang memiliki banyak karya. Tercatat total karangannya  mencapai 21 karya dan 20 manuskrip.

Di antara karya terbaiknya adalah Tafsir Tahrir al-Ma’na As-Sadid wa Tanwir al-Aql al-Jadid min Tafsir Kitab al-Majid, atau yang sering dikenal dengan Tafsir Tahrir wa Tanwir. Pembuatan karya tersebut merupakan amanah terbesar dalam hidup Thahir bin Asyur, sehingga ia sempat mengalami fase bimbang, akankah membuat tafsir itu atau tidak.

Sampai kemudian ia beristikharah untuk memantapkan hatinya. Dalam menulis tafsirnya itu, ia menghabiskan waktu  selama tiga puluh sembilan tahun enam bulan dimulai sejak tahun 1341 H dan selesai pada tahun 1380 H.

Karakter Khas Tafsir Tahrir wa Tanwir

Muhammad Fadhil bin Asyur (putra dari Thahir bin Asyur) dalam kitabnya At-Tafsir wa Rijaluhu menjelaskan bahwa Tafsir Ibnu Asyur memiliki karakteristik yang berbeda dengan produk tafsir lainnya.

Menurutnya, Tafsir Tahrir wa Tanwir tidak hanya mencantumkan atsar ulama terdahulu tapi juga memberikan koreksi – koreksi, tidak hanya melihat suatu lafadz berdasar ilmu nahwu dan sharaf namun juga menggali rincian makna dibalik lafadz tersebut. Singkatnya,, tafsir ini mencoba untuk menyingkap nilai – nilai dan tujuan yang tercantum dalam syariat Islam itu sendiri.

Jika dilihat lebih jauh lagi, Tafsir Tahrir wa Tanwir memuat sejumlah keilmuan Islam seperti akidah, fikih, fikih lughah, qiraat, nahwu, saraf, balaghah, maqasidussyariah dan akhlak. Selain itu, di dalamnya terkandung juga ilmu pengetahuan umum seperti sejarah, geografi, filsafat, astronomi, biologi, kesehatan dan pendidikan

Baca Juga :  Corak Fikih dalam Tafsir Tamsjijjatoel Moeslimien Karya Ahmad Sanusi

Metode Penulisan

Muhammad Ibrahim Ahmad dalam kitabnya Taqrib Li Tafsir Tahrir wa Tanwir, menilai Muhammad Thahir bin Asyur secara umum memiliki tujuh metode dalam penulisan tafsir. Pertama Thahir memulai karya nya dengan menjelaskan sepuluh tema yang berkaitan erat dengan ilmu tafsir. Sepuluh tema ini diantaranya mencakup pengertian tafsir dan ta’wil,  tafsir bil ma’tsur, tafsir bi ra’yi, tujuan mufasir, asbabun nuzul, qiraat, qissat Al Qur’an, tertib ayat dan surat, hikmah diturunkannya Al-Qur’an, dan mukjizat Al Qur’an.

Kedua menjelaskan nilai – nilai balaghah dari setiap ayat. Al Qur’an mengandung sisi balaghah tingkat tinggi. Sehingga setiap ayatnya memilki kedalaman pemahaman yang hanya bisa diketahui melalui kajian  orang – orang yang berilmu.

Ketiga, menjelasakan hubungan antara satu ayat dengan yang ayat yang lainnya. Al Qur’an sendiri tidak dapat ditafsirkan secara parsial karena antara satu ayat dangan yang lainnya bisa jadi saling melengkapi. Penafsiran secara parsial tentunya beresiko terhadap terjadinya salah kaprah dalam memahami Al Qur’an. Oleh karena itu, Thahir bin Asyur sangat menekan kan poin ini agar tafsir yang dihasilkan bersifat menyeluruh.

Keempat, menjelaskan tujuan turunnya suatu surat. Secara garis besar surat dan ayat yang diturunkan Alloh Swt tidak lain adalah untuk kemaslahatan manusia. Titik ini ditegaskan dengan konsentrasi Thahir bin Asyur yang paham betul mengenai Maqasidussyariah.

Kelima, menganalisa lafadz dan menjelaskan maknanya. Analisa yang dilakukan oleh Thahir bin Asyur tidak hanya sebatas melalui lafadz secara bahasa namun memperdalamnya dengan melihat sesuatu yang ada dibalik lafadz tersebut. Sehingga tafsir yang dihasilkan diharapakan seimbang antara teks dan konteks.

Keenam, menjelaskan faidah – faidah yang terkandung dalam suatu ayat lalu menghubungannya dengan kehidupan umat IsIam.  Sebenaranya Al – Qur’an sendiri berisi sejumlah seruan produktifitas untuk kebaikan manusia, namun permaslahannya utamanya terletak pada pengaplikasiannya kedalam kehidupan nyata. Oleh karena itu, Thahir bin Asyur mencoba untuk mengingatkan umat agar mampu merealisasikan seruan Al Qur’an di dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga :  Kisah Tsa’labah bin Hathib: Orang Kaya Congkak yang Jatuh Miskin

Ketujuh, mengambil pelajaran dari Al-Quran sebagai sarana membangkitan kondisi umat. Pada saat itu, kondisi umat Islam tengah terpuruk imbas dari berhentinya roda pengembangan ilmu pengetahuan. Thahir bin Asyur sendiri pernah hidup dibawah jajahan Perancis, sehingga memunculkan simpati besar untuk membangkitkan kembali gairah hidup umat Islam.

Maka tidak aneh jika dari sejumlah karyanya banyak menyinggung soal perbaikan terhadap aspek esensial kehidupan umat Islam. Ia meyakini perbaikan harus diawali dari yang paling dasar yaitu dengan memahami kandungan Al Qur’an dengan benar.

Perjalanan Ilmiah

Sejak dini, kecerdasan pria ini sudah terlihat. Ia berhasil menghafal seluruh Al-Quran dan berbagai macam matan kitab dasar saat menempuh pendidikan di Kuttaib (semacam pesantren). Setelah tamat, ia melanjutkan pendidikannya ke Jami’ Zaitunah.

Jami Zaitunah sendiri memiliki sistem menyerupai pendidikan pesantren. Dimana para siswanya mempelajari satu persatu keilmuan Islam secara bertahap dari mulai yang paling dasar hingga teratas. Sebelum siswa benar – benar menguasai keilmuan di suatu tahapan mereka  dipastikan belum dapat melangkah ke tahap berikutnya.

Sehingga tidak sedikit dari mereka yang menghabiskan waktu cukup lama untuk lulus dari sekolah ini. Tapi disisi lain sistem pendidikan ini telah mampu membentuk kepribadian unggul dan melahirkan sederat ulama tersohor seperti Ibnu Kholdun, Ibnu Asyur, Ibnu Arafah, Thahir Haddad, Ats Tsa’alabi dan lain sebagainya.

Pembelajaran yang dilakukan pun tidak terlepas dari mencatat penjelasan guru dan menghafal bait bait kitab. Adapun diktat yang digunakan adalah kitab – kitab tradisional buah karya ulama – ulama Islam.

Di sekolah tersebut, pria yang memiliki darah Andalusia ini berguru kepada ulama – ulama besar seperti Syekh Abdul Qadir at Tamimi, Syekh Muhammad Thahir Jafar, Syekh Muhammad An Nakhli, Syekh Najar Syarif dan lain sebagainya.

Selain itu, Thahir bin Asyur juga berguru kepada dua guru besar yang turut mempengaruhi keluasan ilmunya. Mereka adalah Syekh Salim Bou Hajib dan Muhammad Aziz Bou Atur.

Syekh Salim Bou Hajib merupakan ulama besar Maliki sekaligus tokoh pembaharu di Tunisia. Ia adalah salah satu guru yang turut menginspirasi pemikiran pembaruan Thahir bin Asyur. Sedangkan Muhammad Aziz Bou Atur tidak lain adalah kakeknya sendiri, sosok yang mengajarinya kitab – kitab induk. Olehnya, sejak kecil Thahir  dididik untuk mencintai ilmu dan gemar membaca.

Baca Juga :  Dua Belas Posisi Nabi Muhammad dalam Islam

Pengabdian Terhadap Dunia Pendidikan

Dalam kitab Alaisa as Subhu bi Qarib karya Muhammad Thahir bin Asyur diterangkan bahwa selama masa hidupnya Thahir bin Asyur banyak mengabdikan diri di dunia pendidikan. Tercatat, ia pernah menjabat sebagai guru di Jami Zaitunah (1899 M), anggota Dewan Islah Jami Zaitunah (1913 M),  Syekh Jami Zaitunah (1932 M), anggota Akademi Bahasa Arab di Mesir (1950 M), anggota Akademi Bahasa Arab di Damaskus  (1955) dan dekan di Universitas Zaitunah (1956-1960).

Kemudian, ia juga pernah menjadi seorang Hakim Maliki (1911 M) dan Mufti (1924 M). Thahir bin Asyur juga berperan dalam pendirian Jam’iyyah Khalduniyyah, dan berhasil mentahkik beberapa kitab seperti Syarh Muthawwil karya At Tiftizani, Dalail I’jaz karya Al Jurjani, Syarh al Mahalli li Jami al Jawami kaya As Subuki, Muqaddimah karya Ibnu Khaldun dan lain – lain.

Berkat keluasan ilmunya sejumlah murid dari berbagai wilayah datang untuk berguru kepadanya. Diantara yang paling menonjol adalah Muhammad Fadhil bin Asyur, Fadhil Muhammad Asy – Syadzili Naifur, dan Muhammad Habib bin Khoujah.

Muhammad Thahir bin Asyur meninggal pada tahun 1392 H/1973 M di usia 94 tahun dan dimakamkan di pemakaman Jallaz. Makamnya berada tepat disamping makam putranya, Fadhil bin Asyur.

Sosoknya menjadi kebanggan tersendiri bagi masyarakat Tunisia khususnya para akademisi. Berkat karya agungnya, studi keilmuan maqasidussyariah di dunia Islam khususnya Tunisia mengalami perkembangan pesat.

Untuk mengenang jasa – jasanya, di setiap acara festival pendidikan di Tunisia seperti bazar buku, panitia memasang  foto Thahir bin Asyur bersanding bersama tokoh besar Tunisia lainnya. Bahkan di Universitas Ez Zitouna Tunis, foto Thahir bin Asyur berukuran besar dipanjang di beberapa ruangan. Termasuk penganugrahan nama satu aula, Aula Thahir Ibnu Asyur.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here