Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy dan Tafsir al-Qur’an al-Majid An-Nur 

0
1450

BincangSyariah.Com – Pada awal abad ke-20 M, muncul beberapa mufasir Indonesia seperti, Mahmud Yunus (Tafsir al-Qur’an al-Karim, 1938), A. Hassan (Tafsir Al-Furqan, 1956), T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy (Tafsir al-Qur’anul Majid An-Nur, 1956), Hamka (Tafsir al-Azhar, 1967), dan masih banyak lagi. Masing-masing mereka menulis tafsir genap 30 juz. (Islah Gusmian, Khazanah Tafsir Indonesia: Dari Hermeneutika hingga Ideologi, 2013: 47-50)

Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy (1904 – 1975 M.), lahir di Lhokseumawe, Aceh Utara, pada 10 Maret 1904. Ia adalah sorang alim yang juga lahir dari ‘rahim’ keluarga ulama. Ayahnya, Teungku Muhammad Hussein ash-Shiddieqy, adalah keturunan sahabat Nabi yang juga khalifah pertama, yaitu Abu Bakar Ash-Shiddieq (w. 634 M.). Ibunya –yang wafat ketika Teungku Hasbi berumur enam tahun, bernama Teungku Amrah binti Sri Maharaja Mangkubumi Abdul Aziz. Menurut silsilah, Teungku Hasbi adalah keturunan Abu Bakar ash-Shiddieq generasi ke-37. (Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Tafsir al-Qur’anul Majid An-Nuur, Semarang, 2000: xvii)

Kitab Tafsir al-Qur’an al-Majid An-Nur telah tiga kali diterbitkan antara tahun 1956 hingga 1976. Kemudian sejak tahun 1996, kitab ini diterbitkan oleh pihak Pustaka Rizki Putra dengan empat jilid. (Nor Huda: 361). Tafsir yang dibahas dalam artikel ini adalah cetakan kedua, edisi kedua, tahun 2000, yang diterbitkan oleh PT. Pustaka Rizki Putra, Semarang.

Menurut penuturan Hasbi, tafsir ini disusun dengan mengambil intisari dari tafsir-tafsir induk –seperti, seperti ‘Umdatut Tafsir (Ibnu Katsir), Tafsir al-Manar (Rasyid Ridha), Tafsir al-Maraghy, Tafsir al-Qasimy, Tafsir al-Wadhih, dengan menggunakan bahasa Indonesia guna mengemukakan kepada pembaca yang tidak menguasai bahasa Arab.

Sistem penafsiran yang digunakan Teungku Hasbi adalah paragraf per paragraf (qith’ah) seperti yang terdapat pada Tafsir al-Maraghi. (Nor Huda: 360). Tafsir ini disusun lengkap 30 juz dalam bentuk tartib mushafi (sesuai dengan urutan surat dalam mushhaf Utsmani) dengan menyebut satu-dua ayat atau lebih yang memiliki tema yang sama dalam satu paragraf. Misalnya, pada surat Ali ‘Imran, penulis tafsir mengelompokkan ayat 159 dan 160 dalam satu pembahasan. (Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy: 717).

Baca Juga :  Semarak Ramadan dan Idul Fitri di Gumi Korea Selatan

Metode yang digunakan dalam tafsir ini yaitu menjelaskan makna ayat yang ditafsirkan dengan menunjuk pada sari patinya (ijmali). Tafsir ini juga dilengkapi dengan asbabun nuzul. Selain itu, penulis tafsir ini juga melakukan perbandingan antara ayat yang ditafsirkan dengan ayat lain yang memiliki kesamaan makna –yang dikenal dengan metode muqarran dengan mengikuti metode penafsiran yang dilakukan oleh Imam Ibnu Katsir. Contohnya ialah ketika penulis tafsir menafsirkan surat Ali-Imran ayat 159. Ia memberi catatan kaki bahwa ayat tersebut dapat dihubungkan dengan surat Asy-Syuura ayat 38, yaitu ayat yang memiliki kesamaan topik tentang musyawarah.

Dalam menyusun Tafsir al-Qur’an al-Majid An-Nur, Teungku Hasbi menggunakan metode campuran antara bi al-ma’tsur dan bi al-ra’yi. Selain itu, dalam penilaian Nor Huda, tinjauan hukum Islam sangat mewarnai tafsir An-Nuur ini. Penafsiran ayat-ayat ahkam lebih panjang lebar diungkapkan. Tentu ini ada kaitannya dengan basic keilmuan Teungku Hasbi sebagai ahli fikih. (Nor Huda: 361). Maka, dapat dikatakan, corak tafsir ini adalah fiqhi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here