Tertawa di dalam Ayat-Ayat Al-Qur’an

0
4034

BincangSyariah.Com – Tertawa adalah hal yang wajar dilakukan oleh setiap orang. Namun tertawa juga beragam maknanya. Ada yang tertawa bersifat mengejek atau mengolok. Yakni tertawa yang menimbulkan rasa sakit hati objek yang ditertawakan. Ada pula tertawa yang bersifat bergurau, yakni ketika subjek yang tertawa dan objek yang ditertawakan sama-sama ikut tertawa.

Selain beragama maknanya, tertawa juga beragam sebabnya. Ada yang tertawa karena melihat temannya melakukan hal yang tidak wajar. Ada yang tertawa melihat seorang komedian melawak. Ada pula yang tertawa sebab kekonyolan yang ia perbuat sendiri. Namun jika seseorang tertawa tanpa sebab, maka dapat dipastikan ia adalah orang gila.

Terkait dengan hal ini. Di dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang menunjukkan tentang tertawa.

Pertama: Tertawa karena takjub atau heran.

Dikisahkan bahwa istri Nabi Ibrahim a.s., yakni Sarah, yang sudah tua “tertawa”. Tawanya didahului oleh rasa takut karena suaminya menghadapi tamu-tamu yang enggan mencicipi hidangannya. Tetapi mereka yang ternyata malaikat menyampaikan bahwa mereka datang untuk menjatuhkan sanksi atas kaum Luth.

Di sana, di dalam hati sang istri terjadi peralihan dari rasa takut menjadi rasa heran dan takjub serta gembira dan syukur, itulah yang mengandung tawanya. Setelah itu pun ia diberikan kabar gembira lagi bahwa ia akan memiliki seorang anak bernama Ishaq, padahal saat itu ia sudah sangat tua. Kisah tersebut terdapat di dalam Q.S. Hud/11: 70-71 sebagai berikut.

فَلَمَّا رَءَآ أَيْدِيَهُمْ لَا تَصِلُ إِلَيْهِ نَكِرَهُمْ وَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً قَالُوا۟ لَا تَخَفْ إِنَّآ أُرْسِلْنَآ إِلَىٰ قَوْمِ لُوطٍ (70) وَٱمْرَأَتُهُۥ قَآئِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَٰهَا بِإِسْحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسْحَٰقَ يَعْقُوبَ (71)

Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata: Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-ma]aikat) yang diutus kepada kaum Luth. Dan isterinya berdiri (dibalik tirai) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir puteranya) Ya’qub.

Kedua. Tertawa karena puas atas nikmat Allah swt.

Baca Juga :  Telaah Hadis; Orang yang Menyalatkan janazah akan Mendapatkan Syafaat Nabi?

Dikisahkan bahwa Nabi Sulaiman a.s. tertawa karena mendengar pimpinan sekelompok semut mengajak anggotanya untuk segera masuk ke perkampungan mereka, “Jangan sampai Sulaiman dan tentaranya menggilas mereka tanpa sengaja.” Tawa Nabi Sulaiman a.s. ini adalah pertanda rasa puas atas aneka nikmat Allah swt. yang beliau terima disertai harapan agar beliau dianugerahi kemampuan untuk mensyukurinya. Kisah ini terdapat dalam di dalam Q.S. An-Naml/27: 19 sebagai berikut.

فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِّن قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِىٓ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ ٱلَّتِىٓ أَنْعَمْتَ عَلَىَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَىَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَٰلِحًا تَرْضَىٰهُ وَأَدْخِلْنِى بِرَحْمَتِكَ فِى عِبَادِكَ ٱلصَّٰلِحِينَ  (19)

Maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.

Ketiga: Tertawa untuk Mengejek

Di samping itu di dalam Al-Qur’an juga ditemukan ayat-ayat yang berbicara tentang tertawa yang tujuannya adalah untuk mengejek. Misalnya adalah di dalam Q.S. Al-Muthaffifin/83: 29-30.

إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا يَضْحَكُونَ (29) وَإِذَا مَرُّوا بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ (30)

Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang yang beriman lewat di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya.

Demikianlah di antara ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan tertawa. Di dalam ayat lainnya Allah swt. juga berfirman, “Dan bahwasannya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis (Q.S. An-Najm/53: 53). Ayat ini menjadi bukti bahwa Allah swt. tidak melarang tertawa atau menangis karena hal itu adalah ciri dari anugrah Allah swt. kepada manusia. Bahkan tertawa dan menangis adalah dua hal yang sangat dibutuhkan manusia. Dengan tertawa jiwa menjadi cerah dan perasaan menjadi lega. Dan dengan menangis dapat mengurangi atau mengobati kesedihan.

Baca Juga :  Ratu Ageng, Perempuan di Balik Sosok Pangeran Diponegoro

Menurut penelitian, tertawa dapat meningkatkan kesehatan jantung, meningkatkan harapan hidup, serta mengurangi rasa sakit. Wa Allahu A’lam bis Shawab.

(disadur dari penjelasan Prof. Quraish Shihab di dalam bukunya Yang Jenakan dari Quraish Shihab, halaman 5-8).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here