Terhapusnya Dosa Karena Sulitnya Mencari Nafkah Halal

4
8818

BincangSyariah.Com – Alkisah ada seorang sahabat Nabi yang sebelum masuk Islam ia hidup serba kecukupan. Setelah masuk Islam, dagangnya mengalami kerugian terus menerus. Lalu datanglah ia kepada Rasulullah SAW, dan berkata, “Ya Rasulallah, sudah hilang hartaku, sakit pula tubuhku.” Nabi menjawab, “Tidak ada baiknya seorang manusia yang tak pernah sakit dan tak pernah hilang hartanya. Karena kalau Allah mencintai seorang hamba, maka diberi-Nya ujian dan kesabaran menghadapinya.” Cerita dalam hadis ini menunjukan bahwa susahnya mencari nafkah yang halal dapat menebus dosa-dosa seorang hamba.

Mencari rezeki atau nafkah untuk keluarga itu susah-susah gampang. Disebut susah karena ada banyak faktor di antaranya lapangan pekerjaan begitu sempit, keterampilan yang dikuasai sangat minim, atau mungkin karena krisis ekonomi dalam suatu negara. Disebut gampang karena bagi mereka yang terampil dan selalu membangun optimisme, selalu saja ada jalan untuk keluar dari masalah.

Terkait susahnya mencari nafkah yang halal ini, dalam Islam, ada dosa-dosa tertentu yang tidak bisa dihapus dengan tobat. Dosa tersebut hanya dapat dihapus dengan susahnya mencari nafkah halal. Karena di balik kesusahan mencari nafkah yang halal itu, selalu saja ada proses penghapusan dosa-dosa. Karena itu, sesulit apapun mencari nafkah, selalu saja ada proses pembersihan jiwa dari dosa-dosa oleh Allah SWT.

Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah menyebut proses penghapusan dosa-dosa tanpa melalui tobat dari pelakunya sebagai at-tamhish (proses penyucian diri). Dalam hal ini, Nabi juga pernah bersabda, Sesungguhnya di antara dosa-dosa ada yang tidak bisa dihapus (ditebus) dengan pahala salat, puasa, haji atau umrah (dalam riwayat lain, jihad) namun hanya dapat ditebus dengan kesusah-payahan dalam mencari nafkah.”
Dari musibah dan kesulitan mencari nafkah yang halal terdapat proses penyucian yang Allah berikan kepada kita.

Baca Juga :  Empat Amalan untuk Melancarkan Rezeki

Dalam hadis sahih Bukhari-Muslim disebutkan: kalau seorang mukmin ditimpa musibah, kelelahan atau keresahan atau duri yang melukainya, maka ia menjadi penghapus bagi dosa-dosanya. Karenanya, kesabaran, ketabahan dan ketekunan dalam mencari nafkah halal untuk keluarga bisa menjadi penebus bagi dosa-dosa baik dilakukan secara sengaja maupun tidak sengaja.

Cobaan kemiskinan lantas tidak harus menjadi halangan untuk terus bekerja dan bekerja demi mencapai penghidupan yang lebih baik. Justru dengan cobaan kepayahan dan kesusahan dalam mencari nafkah yang halal ini ada penawar bagi dosa-dosa dan segala bentuk kemaksiatan yang telah kita lakukan.

Dalam hadis lain, melalui riwayat Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: “Akan datang kepada manusia suatu zaman ketika seseorang tidak perduli lagi apa yang dimakannya, apakah dari harta yang halal atau yang haram” (HR. Bukhari). Menurut Ibnu Katsir, di masa itu manusia kebanyakan mencari nafkah dengan cara-cara yang tidak diharamkan agama, karenanya kesusahan dalam mencari nafkah akan menghapus dosa-dosa yang telah lalu.

Karena itu, seorang Muslim dituntut untuk tetap konsisten di jalan Allah dan tidak tergoda mencari rezeki dengan cara yang tidak diridai Allah. Ketika mengalami kesusahan dalam mencari nafkah yang halal, di situ selalu ada keberkahan, suplemen spiritual dan penebus bagi dosa-dosa kita.

4 KOMENTAR

  1. TAKHRIJ HADITS:
    Hadits ini Diriwayatkan oleh Ath-Thobroni di dalam Al-Mu’jam Al-Ausath I/38 no.102, Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’ VI/235, Al Haitsami dalam Majma’u Az-Zawa-id IV/75 no.6239, dan selainnya.
    DERAJAT HADITS:
    Hadits ini derajatnya PALSU (maudhu’).
    Syaikh Al-Albani berkata: “Hadits ini Maudhu’/PALSU. (Lihat Silsilah Al-Ahadits Adh-Dho’ifah II/324 no.924, dan Dho’if Al-Jami’ Ash-Shoghir no.1994)
    Di dalam sanadnya terdapat seorang perawi yang bernama Muhammad bin Salam Al-Mishri.
    Imam Adz-Dzahabi berkata tentangnya: “Dia meriwayatkan dari Yahya bin Bukair dari Malik sebuah riwayat yang PALSU.”
    Al-Khothib Al-Baghdadi berkata tentangnya: “Dia meriwayatkan dari Yahya bin Bukair sebuah hadits yang MUNKAR.”
    CATATAN:
    Kami pernah baca pada sebagian BBM atau artikel di internet bahwa hadits tersebut diklaim telah diriwayatkan oleh imam Al-Bukhari. maka kami katakan, bahwa hal ini adalah kedustaan nyata atas nama imam al-Bukhari rahimahulla, seorang ulama dan imam hadits yang sangat populer akan ketelitiannya dalam menerima dan menyampaikan hadits-hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, apalagi beliau memuatnya di dalam Kitab Shohihnya yg terkenal dan diakui para ulama dan umat islam sebagai kitab yang paling shohih setelah Al-Qur’an Al-Karim, maka ini adalah Mustahil.
    Maka dari itu, TIDAK BOLEH bagi siapapun dari kaum muslimin mempercayainya dan menyebarluaskannya kepada orang lain dengan lisan (seperti khutbah, kultum, dsb) atau melalui berbagai media cetak maupun elektronik kecuali dengan niat dan tujuan menerangkan dan memperingatkan umat akan kepalsuannya, sehingga kita selamat dari perbuatan dusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah diancam keras pelakunya dengan masuk ke dalam api neraka.
    Demikian jawaban atas pertanyaan dari seorang member BB Grup Majlis Hadits yg dpt kami sampaikan. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Wallahu ta’ala a’lam bish-showab. wabillahi at-taufiq. (Klaten, Desember 2012)
    * BBG Majlis Hadits, chat room Hadits Dho’if dan Palsu. PIN: 27FE9BE4

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here