Terapi Musik Sepanjang Sejarah Islam

0
568

BincangSyariah.Com – Pada masa kejayaan kerajaan Islam, geliat intelektual mencapai puncaknya. Diskursus filsafat dilakukan oleh sekian banyak lingkar cendekiawan. Ulama dan sufi mengembangkan gagasan mereka, ikut mendiskusikan tema-tema filsafat dan sains – termasuk kedokteran, dan tak luput pula kajian seni, meliputi arsitektur, lukis, serta musik.

Gairah keilmuan ini disokong penerjemahan besar-besaran karya ilmuwan dan filsuf Yunani ke bahasa Arab. Di bawah dukungan khalifah Al-Makmun, penerjemahan literatur dari berbagai bahasa mendapat perhatian dan dikawal oleh insitusi perpustakaan Baitul Hikmah.

Produk intelektual para ilmuwan Yunani ini merentang dalam berbagai bidang, baik aspek teori maupun praksisnya. Kedokteran sebagai ilmu pengobatan memiliki konsep-konsep yang mesti diaplikasikan dalam praktek pengobatan. Menjadi unik ketika musik mulai dilirik sebagai elemen yang memiliki efek menyembuhkan bagi manusia.

Perkara hukum bermain musik yang menjadi debat beberapa ulama fiqih, tampaknya tidak begitu berpengaruh pada telaah musik ini. Kebanyakan orang faktanya menyukai dan mendengarkan musik.

Asumsi bahwa musik bisa bermakna pada praktek kedokteran dirumuskan secara filosofis. Musik sejalan dengan eksistensi cara beragama yang “memakai rasa” dan cenderung metaforik – terutama dalam tradisi kaum sufi – dan menunjang perkembangan kajian hubungan musik dan diri manusia.

Secara menarik diskusi para ulama dan cendekiawan muslim ini direkam oleh Peregrine Horden dalam bukunya Music as Medicine: The History of Music Therapy since Antiquity. Konsep keterkaitan ini dimulai dengan asumsi bahwa sifat-sifat kemanusiaan bersifat abadi dan universal. Konsep yang disebut insaniyyah inilah yang menjadi dasar relasi musik dan praktek medis. Manusia, konon pada dasarnya memiliki kecenderungan menyukai keindahan dan punya dimensi estetika.

Kajian kedokteran Yunani terutama karya Hipokrates dan Galen banyak dirujuk dan diterjemahkan oleh ilmuwan Arab dalam diskusi soal musik ini. Di antara sosok yang menyajikan gagasan bahwa musik bermanfaat dalam praktek medis adalah dua orang berikut: Yuhanna bin Masawaih (w. 857 M) dan Ali bin Sahl at-Tabari (w. 864 M).

Baca Juga :  Habib Idrus bin Salim Al-Jufri dan Syair Kemerdekaan Indonesia

At-Tabari adalah salah satu penulis dan penerjemah karya-karya Yunani di masa awal. Ia mencatatkan bahwa aspek filosofis, kejiwaan, bahkan iklim dan perbintangan berkaitan erat dengan praktek ilmu kedokteran. Tak terkecuali musik. Oleh Manfred Ullmann dalam Islamic Medicine kepercayaan itu adalah imbas masih adanya kepercayaan mistik dan gaib yang eksis di masyarakat Yunani Kuno, dan rupanya juga diikuti oleh para tokoh dokter dan ilmuwan Arab.

Tak jauh beda dengan At-Tabari, Yuhanna bin Masawaih bin kerap membaca karya terjemah atau komentar Hunain bin Ishaq, salah satu penerjemah dan komentator (syarih) paling berpengaruh terkait karya-karya Syria dan Yunani ke bahasa Arab.

Ibnu Masawaih membuat risalah tersendiri tentang sejumlah aspek moral dan terapeutik dari musik, serta kemungkinan efek musik dari sisi spiritual. Efek ini dipandang dapat memengaruhi cairan tubuh, elemen alam, dan gerak musim yang inheren dalam tubuh manusia. Barangkali ini yang dimaksud dengan menikmati musik sebagai bagian harmoni alam. Musik, oleh Ibnu Masawaih, diklaim menyajikan efek penyegaran jiwa dan raga.

Dalam beragam dimensi, meliputi dimensi filosofis, moral, serta kejiwaan, manusia cenderung akan menyukai harmoni alam semesta, dari aroma dedaunan di kala pagi, hembusan angin, gemerlap bintang, dan suara hewan yang bersahutan di kala hujan. Demikianlah dimensi estetis pada manusia bekerja. Dimensi ini bekerja pada jiwa, dan bagi para sebagian ilmuwan muslim kala itu, kondisi jiwa akan berimbas pada fisik sebagai sebuah interaksi yang dinamis.

Sisi estetika manusia ini berusaha diejawentahkan dalam konsep-konsep yang lebih runtut dan saintifik. Manusia sebagai subjek sekaligus objek ilmu kedokteran, terdiri dari jiwa dan raga. Mendengarkan musik dinilai sebagai usaha memperbaiki jiwa – dan para dokter, yang kebanyakan juga seorang filsuf, mengajukan suatu hipotesa bahwa musik punya efek terapeutik tertentu karena menikmati keseimbangan, keindahan, serta harmoni alam akan menyegarkan jiwa dan raga seorang manusia.

Baca Juga :  Umur Hewan Kurban yang Dianjurkan Rasulullah

Aspek spiritual dan terapeutik yang menjadi dasar pengetahuan adanya interaksi musik dan pengobatan, dikaji lebih lanjut oleh filosof besar Arab dan teoretikus musik Islam kesohor, Abu Ishaq Al Kindi. Konon berdasarkan pengetahuan yang berkembang saat itu, tubuh akan bereaksi pada “sesuatu yang natural” karena tubuh manusia setidaknya memiliki sifat berikut: dingin, panas, kering juga lembap sebagai hasil senyawa elemen-elemen alam.

Menurut Al-Kindi, musik adalah penghubung manusia akan semesta. Terapi musik yang dikemukakan Al Kindi adalah usaha pendekatan filosofis dan metaforik atas harmoni alam, baik tubuh dan jiwa manusia berikut segenap alam semesta. Terapi medis yang sudah dijalankan pada beberapa kasus tertentu, klaim Al Kindi, akan lebih nyaman jika ditunjang musik. Ilmu kedokteran yang menyembuhkan raga, musik yang menyembuhkan jiwa – kurang lebih seperti itu.

Gagasan rumit seperti di atas barangkali paling bisa dipikirkan oleh musikus cum filsuf. Mungkin konsep tersebut sederhananya begini: musik adalah keindahan, dan harmoni keindahan ini, paling mungkin disajikan lewat musik untuk bisa dinikmati manusia – untuk memenuhi dimensi estetis manusia.

Rumit dan abstrak memang. Tapi bukan berarti tidak ada dari kalangan dokter yang mencoba menyepakati gagasan Al Kindi tersebut. Salah satu dokter cum filsuf bernama Ibnu Hindi menulis dalam karyanya berjudul Miftahut Thibb, bahwa dokter mesti memperhitungkan beragam ilmu sebagai model terapi komprehensif. Ragam sains meliputi filsafat, logika, fisika, astrologi, matematika, musik, bahkan teologi perlu dilirik sebagai bentuk usaha menyembuhkan manusia seutuhnya.

Ibnu Hindi mengajukan hipotesa bahwa musik mungkin berefek pada aspek mentalitas manusia, yang akan berkontribusi pada penyembuhan.

Adanya beragam konsepsi dan gagasan terapi dengan musik adalah suatu usaha pendekatan filosofis yang dicoba para ilmuwan muslim era Islam klasik. Mereka telah meneruskan gagasan para ilmuwan Yunani, dan dari masa ke masa senantiasa menjadi terus ditelaah. Barangkali kini musik banyak didiskusikan sebagai model pendekatan dalam ilmu jiwa. Ala kulli hal, gagasan para intelektual terdahulu soal konsep musik sebagai bagian dari terapi – baik medis maupun psikis – adalah usaha mengkaji manusia dari berbagai aspeknya, sebagai bagian dari alam semesta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here