Tentang Sejarah Perayaan Maulid Nabi

2
753

BincangSyariah.Com – Bagaimanapun, saya akan kembali membicarakan sejarah perayaan maulid Nabi. Mungkin di antara pembaca masih ada yang bersikukuh menganggap kebiasaan yang diinisiasi awalnya oleh para ulama salih ahli zikir dan didukung oleh penguasa, adalah bid’ah, tidak ada dasarnya dari Alquran dan Hadis misalnya.

Walaupun tren perubahan yang penting dicermati soal bid’ah atau tidaknya Maulid Nabi saw. di Indonesia. Saya masih ingat memori di mana tahun-tahun sebelum ini cukup banyak yang masih mempermasalahkan bahwa perayaan Maulid Nabi adalah bid’ah; sebuah istilah dalam agama untuk menunjuk ajaran yang dibuat-buat padahal tidak ada tuntunannya dalam ajaran agama. Para ulama sekian lama membahas soal itu.

Dan nampaknya, argumen penganjur sudah sangat kukuh. Tapi tren hari ini perdebatan ini cukup menurun. Ini boleh jadi karena perhatian masyarakat termasuk sebagian pemuka agama agak terseret ke persoalan politik praktis. Ya, Anda sudah tahu semua, yaitu soal calon presiden. Maksud saya, ada tren penting di mana dahulu antara kelompok Islam yang keras menentang maulid dengan yang mendukung dengan keras juga, sebagian mereka kini bersatu karena punya interest yang sama yaitu soal kondisi politik.

Adalah Imam al-Suyuthi, ulama di abad ke-9 H, alim dan produktif menulis (konon karangannya sampai 500 judul dalam berbagai ilmu dan banyak yang kira-kira dengan cetakan saat ini sampai lebih dari 1000 halaman), menulis kitab berjudul Husn al-Maqshad fi ‘Amal al-Mawlid (Tujuan yang Baik dalam Melaksanakan Maulid).

Imam al-Suyuthi fair saja, bahwa kalau pendekatannya historis, memang model maulid seperti yang kita kenal saat ini dilaksanakan pertama kali oleh Raja al-Muzhaffar. Seperti yang ia kutip dari ulama lain, Ibn al-Jauzi dalam karyanya Mir’atu al-Zaman, bahwa raja menyiapkan banyak sekali logistik untuk hajat maulidan ini. Rinciannya adalah, lima ribu kepala kambing bakar, sepuluh ribu ekor ayam, seratus kuda, seratus ribu zubadiyyah (sejenis wadah susu), dan tigapuluh ribu piring manisan. Setiap maulid, ia bersedekah sekitar tiga puluh ribu dinar. Di luar itu, ia mengeluarkan banyak anggaran misalnya untuk penginapan berbagai bangsa ia sediakan. Untuk keperluan penginapan ia sediakan seratus ribu dinar. Ia juga rutin sedekah untuk Mekkah Madinah, dengan nilai tiga puluh ribu dinar.

Baca Juga :  Benarkah Nabi Hadir Ketika Acara Maulid?

Demikian singkatnya dari segi sejarah. Setelah itu, beliau juga fair memaparkan soal ada yang mengkritik soal maulid, sama seperti hari ini. Disebutkan ulama bernama Tajuddin al-Lakhami, bermazhab Maliki. Selain tidak dasar dari Alquran dan Sunnah, katanya, maulid Nabi justru lebih banyak berisi maksiat. Apalagi sampai banyak alat-alat musik. Perayaan maulid Nabi menurutnya hanya bikinan para tentara yang ingin bersenang-senang dengan kedok agama.

Sampai situ, Imam al-Suyuthi menyajikan secara lengkap ceritanya. Lalu, ia melanjutkan dengan kritiknya. Kritik pertama adalah bahwa pernyataan tidak tahu apakah ada dasarnya dalam Alquran dan Sunnah tidak menunjukkan kalau itu tidak ada. Kalaupun katanya tidak ada dasarsunnah untuk melaksanakan maulid, bukankah ada kias (Arab: qiyas) atau analogi untuk memahami Sunnah. Buktinya adalah Ibn Hajar (al-‘Asqalani) dan – saya sendiri (al-Suyuthi) – punya penjelasan dasarnya. Kritik kedua soal pernyataan cuma bid’ah para “tentara” (Arab: al-Batthalun) saja. Jawaban beliau adalah mana mungkin demikian. Karena acara itu dihadiri oleh para ulama sufi dan beliau bertujuan untuk mendekatkan diri pada Allah.

Selanjutnya, beliau urai makna bid’ah. Nah, saya kira ulasan bid’ah ini akan kita temukan di semua karya yang akan membela keabsahan Maulid Nabi. Tapi memang itu penting karena kunci kelirunya orang yang menganggap Maulid bid’ah adalah mereka berpendapat kalau bid’ah adalah apa yang tidak pernah dikerjakan di masa Nabi belaka. Mereka yang mengkritik tidak mempertimbangkan adalah ma’quliyyah (relevansi logis) dari sebuah dalil. Mereka juga hanya melihat sesuatu secara partikular, tidak melihat bahwa untuk menghukumi sebuah maulid harus dilihat apa yang dilakukan dan pesan apa di dalamnya. Jadi, haramnya adalah bukan karena maulid-nya, tapi apa yang dilaksanakan dalam acara itu. Karena itu, bid’ah hakikatnya adalah apa yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip dasar syariat. Maka, menyajikan makanan dengan tujuan bersedekah sebenarnya adalah bid’ah sunnah, mengutip istilah ‘Izzuddin bin ‘Abdissalam, ulama bermazhab Syafi’i pakar tema maslahah.

Sekitar tahun 1400 H, muncullah ulama lain yang menjelaskan bagaimana duduk perkara soal maulid ini. Di antaranya adalah Sayyid Muhammad bin ‘Alwi al-Maliki, keluarga keturunan Nabi yang lama menetap di tanah suci Mekkah. Dalam karyanya Manhaj al-Salaf fi Fahm al-Nushush (Metode Ulama Salaf dalam Memahami Dalil), ia menjelaskan bahwa mereka yang menolak maulid dengan alasan bid’ah tercela, anehnya membuat klasifikasi baru. Klasifikasi tersebut adalah bid’ah dunyawiyyah dan bid’ah ukhrawiyyah (bid’ah duniawi dan bid’ah akhirat). Maulid dianggap maksud ke wilayah kedua. Jawaban Sayyid Muhammad al-Maliki adalah justru mereka sedang membuat klasifikasi baru yang akan menimbulkan kerancuan.

Baca Juga :  Hukum Berpuasa Menghormati Kelahiran Nabi

Dalam kaitannya dengan bid’ah, sesuatu dianggap tambahan yang tidak ada contoh jika memang itu berisi sesuatu yang buruk. Kalau itu tidak bertentangan dengan syariat, hakikatnya justru itu bukan bid’ah, tapi bagian dari sunnah juga.

Maulid Nabi saw. adalah bentuk rasa syukur seorang muslim yang mencintai Nabi saw. sebagai pembawa risalah. Maka bukankah mengeskpresikan kesyukuran itu diajarkan di dalam Islam. Seperti dalam ayat terakhir surah ad-Dhuha, Wa Amma bi Ni’matika fa Haddits. Bukankah menjadi umat Nabi Muhammad saw. adalah kenikmatan?



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

2 KOMENTAR

  1. *Alasan Sebagian Orang dalam Membela ACARA MAULID*

    Beberapa kerancuan dari orang yang membela acara maulid Nabi dan jawaban dari kerancuan tersebut. Semoga bermanfa’at

    1⃣ Maulid adalah Bentuk Rasa Syukur, Pengagungan dan Penghormatan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

    ✅ Cukup kami jawab, kalau memang maulid adalah bentuk syukur, mengapa sejak generasi sahabat hingga imam mazhab yang empat tidak ada yang melakukan perayaan ini[?] Apakah keimanan mereka lebih rendah dibanding orang-orang sekarang yang merayakannya[?] Apakah orang ini menyangka lebih mendapat petunjuk daripada generasi awal tersebut[?]

    Semoga kita dapat merenungkan perkataan para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah berikut.

    لَوْ كَانَ خَيرْاً لَسَبَقُوْنَا إِلَيْهِ

    “Seandainya amalan tersebut baik, tentu mereka (para sahabat) sudah mendahului kita untuk melakukannya.”

    Inilah perkataan para ulama pada setiap amalan atau perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat. Mereka menggolongkan perbuatan semacam ini sebagai bid’ah. Karena para sahabat tidaklah melihat suatu kebaikan kecuali mereka akan segera melakukannya.
    (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, pada tafsir surat Al Ahqof ayat 11)

    Juga kami katakan, “Mengapa ucapan syukur, penghormatan dan pengagungan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya sekali dalam setahun, hanya pada 12 Rabi’ul Awwal? Mengagungkan, mencintai beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bersyukur bukan hanya sekali setahun, namun setiap saat dengan mentaati dan selalu ittiba’ pada beliau.”

    2⃣ Maulid Nabi adalah Bid’ah Hasanah (Bid’ah yang baik)

    Perkataan ini muncul karena mereka melihat para ulama yang membagi bid’ah menjadi bid’ah hasanah (baik) dan bid’ah sayyi’ah atau dholalah (sesat/jelek). Jadi menurut mereka tidak semua bid’ah itu sesat.

    ‼ Ingatlah saudaraku, bid’ah dalam hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak dikenal sama sekali adanya bid’ah hasanah. Bahkan yang dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan diyakini oleh sahabat, setiap bid’ah adalah sesat.

    Perhatikanlah sabda Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam berikut.

    أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

    “Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.”
    (HR. Muslim no. 867)

    Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,

    اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ

    “Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), janganlah membuat bid’ah. Karena (sunnah) itu sudah cukup bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat.”
    (Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 8770. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perowinya adalah perawi yang dipakai dalam kitab shohih)

    Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,

    كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ، وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً

    “Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik.”
    (Lihat Al Ibanah Al Kubro li Ibni Baththoh, 1/219, Asy Syamilah)

    Lihatlah perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Kita akan melihat bahwa mereka mengatakan semua bid’ah itu sesat, tanpa ada pengecualian.

    Bagaimana jika ada yang mengatakan bahwa ‘Umar bin Al Khaththab pernah menyatakan bahwa shalat tarawih yang dia hidupkan adalah “sebaik-baik bid’ah”? Dari perkataan beliau ini menurut mereka, ada bid’ah hasanah (yang baik).

    Sanggahan: Ingatlah para sahabat tidak mungkin melakukan bid’ah. Yang dimaksud dengan bid’ah dalam perkataan ‘Umar adalah bid’ah secara bahasa Arab yang berarti sesuatu yang baru.

    Jika ada yang masih ngotot bahwa tidak semua bid’ah sesat, ada di sana bid’ah yang baik (hasanah), maka cukup kami katakan: Kalau ‘Umar menghidupkan shalat tarawih dan beliau katakan sebagai bid’ah, hal ini ada dalil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melaksanakan shalat tarawih di awal-awal Ramadhan. Namun karena takut amalan tersebut dianggap wajib, maka beliau tidak menunaikannya lagi. Jadi, intinya ‘Umar memiliki dasar dari perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Sekarang, apa maulid Nabi memiliki dasar dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana shalat tarawih yang dihidupkan oleh ‘Umar[?] Jawabannya tidak sama sekali. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah merayakan hari kelahirannya, begitu pula para sahabat, tabi’in, dan para imam madzhab tidak ada yang merayakannya. Sehingga maulid tidak bisa kita sebut bid’ah hasanah. Yang lebih tepat maulid adalah bid’ah madzmumah (tercela) sebagaimana yang dikatakan oleh Asy Syuqairiy dan Al Fakihaniy.

    3⃣ Niatannya Supaya Lebih Mengenal Sosok Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

    Mungkin ada yang berseloroh, kalau melakukannya dengan niatan ibadah maka bid’ah, tapi kalau sekedar memperingati agar lebih mengenal sosok Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka mubah, bahkan bisa jadi sunnah atau wajib, karena setiap muslim wajib mengenal Nabinya.

    Kita katakan kepadanya bahwa itu tidak benar! Sungguh ironis, seorang yang mengaku cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengenalinya kok hanya setahun sekali?! Mengenal sosok beliau tidaklah dibatasi oleh bulan atau tanggal tertentu. Jika ia dibatasi oleh waktu tertentu, apalagi dengan cara tertentu pula, maka sudah masuk ke dalam lingkup bid’ah. Lebih dari itu, sangat mustahil atau kecil kemungkinannya bila tidak disertai niat merayakan hari kelahiran beliau, yang ini pun sesungguhnya sudah masuk ke dalam lingkup tasyabbuh (meniru-niru) orang-orang Nashrani yang dibenci oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri. Mereka (orang Nashrani) merayakan kelahiran Nabi Isa melalui natalan, sedangkan mereka merayakan kelahiran Nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui natalan.
    Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

    ”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”
    (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ [1/269] mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus)

    ⚠ Sudikah kita mengenal dan mengenang Nabi, namun beliau sendiri tidak suka dengan cara yang kita lakukan?! Dan siapa bilang harus mengenal sosok Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam cuma melalui acara maulid yang hanya diadakan sekali setahun[?] Bukankah masih ada cara lain yang sesuai tuntutan dan tidak tasyabbuh (meniru-niru) orang kafir.

    4⃣ Nabi memperingati hari kelahirannya dengan berpuasa

    Sebagian beralasan dengan puasa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Senin, karena pada hari tersebut adalah hari kelahirannya. Ini berarti hari kelahiran boleh dirayakan. Ketika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanyakan mengenai puasa pada hari Senin, beliau pun menjawab,

    « ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَىَّ فِيهِ ».

    “Hari tersebut adalah hari kelahiranku, hari aku diangkat sebagai Rasul atau pertama kali aku menerima wahyu.”
    (HR. Muslim [Muslim: 14-Kitab Ash Shiyam, 36-Bab Anjuran Puasa Tiga Hari Setiap Bulannya])

    Sanggahan: Bagaimana mungkin dalil di atas menjadi dalil untuk merayakan hari kelahiran beliau[?] Ini sungguh tidak tepat dalam berdalil. Lihatlah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melaksanakan puasa pada tanggal kelahirannya yaitu tanggal 12 Rabiul Awwal, dan itu kalau benar pada tanggal tersebut beliau lahir. Karena dalam masalah tanggal kelahiran beliau masih terdapat perselisihan. Yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan adalah puasa pada hari Senin bukan pada 12 Rabiul Awwal[!] Seharusnya kalau mau mengenang hari kelahiran Nabi dengan dalil di atas, maka perayaan Maulid harus setiap pekan bukan setiap tahun.

    Semoga Allah senantiasa memberi taufik. Insya Allah berikutnya kami akan sampaikan syubhat (kerancuan lainnya). Semoga Allah beri kemudahan.

  2. Assalamualaikum warohmatullahi wa barokatuh… Yang pertamakali merayakan maulid nabi Salallahu Alaihi Wasalam adalah bani fatimiun.. Almuzhafar menganggap baik dengan diadakannya lagi perayaan maulid yang telah dilarang.. Pertanyaannya, mau ikut nabi Salallahu Alaihi Wassalam beserta keluarga, sahabat, tabiin, tabiut tabiin dan para imam mahzab atau Almuzhafar?? Jelas dan terang yg diuraikan oleh akhi FH.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here