Tentang Habib Quraish Shihab yang Tak Banyak Orang Ketahui

1
529

BincangSyariah.Com – Jalannya agak pelan. Badannya sedikit membungkuk. Ia melintasi jalan yang di sampingnya terdapat kolam. Menggunakan baju putih, sarung hijau dan songkok nasional, layaknya pakaian santri pada umumnya. Sederhana. Senyumnya merekah. Ia tampakkan wajah berseri kepada hadirin yang berada di aula kecil di rumahnya. Mereka hendak meneguk petuah-petuahnya yang sejuk dan tutur panjang teladannya yang tawaduk. Dialah Habib Muhammad Quraish Shihab.

Habib Quraish Shihab duduk. Waktu itu Beliau hendak menyampaikan topik yang akan dibicarakan. Biasanya tentang isu-isu kontemporer. Sesekali beliau membawa kitab al-Tafkir al-Falsafi Fi al-Islam karya gurunya, grand Syaikh Azhar, syaikh Abdul Halim Mahmud al-Husaini. Setengah jam, terkadang lebih, beliau menuangkan ilmunya. Setelah itu, kami dipersilahkan bertanya. 3 pertanyaan. Setelah selesai, beliau berdoa dan orang-orang bersalaman kepadanya. Beliau selalu menolak ketika tangannya hendak dicium. Merasa tak pantas. Kerendah-hatian terpancar dari tiap gerak-geriknya.

***

Habib Quraish Shihab tidak ingin merepotkan orang lain. Ia membawa sendiri barang-barangnya selagi bisa meski usianya tak lagi muda. Ketika hendak mengambil beberapa kitab untuk dijadikan refrensi dalam menulis, seseorang berusaha membantu beliau mengambilkan kitab-kitab tersebut. Beliau menolak dengan halus. Ketika berjalan membawa sebuah tas, seseorang hendak membawakan tasnya. Beliau juga menolaknya dengan lembut.

Pernah suatu hari, salah satu seorang teman ingin membantu beliau untuk berdiri, beliau menolak dan berdiri sendiri lantas berkata: “Saya masih kuat!” Ucapnya penuh humor yang disambut gelak tawa dari kami. Banyak yang tidak tahu bahwa beliau adalah sosok yang humoris meski kelihatannya adalah sosok yang sangat serius.

Ketika seseorang bertemu dan hendak ingin menyampaikan sesuatu, beliau membungkuk kecil sembari merangkulkan tangannya ke pundak. Seakan-akan beliau ingin memberikan teladan tentang sebuah kasih sayang kepada setiap orang, siapapun mereka.

Baca Juga :  Tetap Ngaji #Dirumahaja, Ini Daftar Ngaji Online Versi BincangSyariah.Com

***

Saya masih sangat ingat perkataan beliau bahwa gedung pesantren Bayt Al-Qur’an yang besar itu barakahnya Al-Qur’an. Salah satu yang sangat berkesan tentang beliau adalah kerendahan hatiannya. Tak jarang dalam pengajian di ndalemnya, beliau meminta kawan-kawan -termasuk saya- untuk menyimak ayat Al-Qur’an yang beliau kutip dan mengoreksi jika memang ada kesalahan.

Tak ada rasa gengsi darinya. Beliau benar-benar mewarisi sang guru, Grand Syaikh Abdul Halim Mahmud. Sang Guru yang meski telah menimba ilmu 8 tahun di Sorbonne, tak ada gengsi sedikitpun, meminta Habib Quraish Shihab untuk menjelaskan buku berbahasa Indonesia judulnya ‘Inikah Islam’ untuk mengambil faidah dari muridnya. O, Habib!

***

“Quraish Shihab Syiah! Gak mewajibkan jilbab!” Fitnah ini yang sangat populer yang digoreng berkali-kali oleh orang yang tidak senang kepada beliau. Pertama mendengar, saya hampir mempercayai hal tersebut. Kemudian Allah memberi jalan kepada saya untuk tabayyun.

Awal mula kepada sekertaris beliau ketika berada di Mesir, Dr. Farid Saenong. Beliau mengatakan isu Habib Quraish Shihab itu syiah sejak hendak dijadikan menteri Agama oleh Soeharto. Isu itu digunakan untuk menjatuhkan beliau. Kami juga mendapat penguat dari besan beliau, Habib Husain Ibrahim yang membantah fitnah tersebut.

Hingga akhirnya beliau sendiri dalam buku Islam Yang Saya Anut, menyatakan dirinya bukan penganut syiah! Melainkan Ahlu Sunnah Wal Jamaah. Bahkan beliau siap menantang siapa saja yang masih keras menuduhnya syiah, berdiskusi yang diketuai oleh syaikh Azhar ataupun ulama yang ditunjuk Azhar. Sampai sekarang tidak ada yang berani.

Terus masalah Jilbab. Seseorang pernah menyampaikan kepada Syaikh Azhar, Ahmad Thayyib bahwa Habib Quraish Shihab tidak mewajibkan jilbab. Dengan seketika Syaikh Azhar menepis dengan kuat tuduhan itu. “Tidak mungkin! Saya kenal baik Quraish Shihab!” Tuturnya. Masalah ini sebenarnya sangat basi untuk dihidangkan.

Baca Juga :  Mengenal Buya Syakur Yasin: Kyai Berwawasan Luas asal Indramayu

Tapi hal ini terus dimunculkan seakan-akan ia adalah sebuah kebenaran. Yang kami khawatirkan, sebagaimana yang dikatakan Ibnu Muqaffa, yang dikutip oleh Habib Quraish Shihab bahwa “kebohongan yang berulang-berulang akan dianggap sebagai kebenaran!”

***

Prof Thib Raya’ pernah mengabarkan kepada kami bahwa Habib Quraish Shihab adalah sosok yang sangat istiqamah. Beliau memiliki waktu khusus dalam menulis, yaitu sebelum subuh. Kebiasaan itu telah dijalani selama puluhan tahun. Bahkan ketika menulis Tafsir al-Misbah, beliau menambah porsi menulisnya sebanyak 7 jam lebih. Seseorang pernah bertanya kepada beliau rahasia produktifitasnya dalam menulis meski sudah sepuh. Habib Quraish Shihab menanyakan balik.

Anda mengapa suka menonton bola meskipun berjam-jam?”

“Karena senang.” Jawabnya.

“Nah itu. Saya menulis karena saya senang.” Atas dasar rasa senang itulah, tak heran Yaqut al-Hamawi, sejarawan sekaligus sastrawan kenamaan Islam dalam mukaddimah kitabnya mengatakan. “Saya mengumpulkan kitab atas dasar kesenangan saya dan agar orang mendoakan saya.”

***

“Saya sebenarnya capek.” Tutur Habib Quraish Shihab kepada saya tatkala mengikuti muktamar Azhar tentang Palestina. Terhitung puluhan kali -di usianya yang telah senja- beliau masih aktif mengikuti muktamar-muktamar baik yang diselenggarakan al-Azhar maupun Majelis Hukama Muslimin. Baik di Eropa maupun di Timur Tengah.

Namun karena perjuangan menyebarkan moderasi yang menjadi risalah al-Azhar, seakan-akan mengalahkan rasa lelah tersebut. Pesan perdamaian harus tetap disebarkan meski sebagian orang telah putus asa menyebarkannya. Dengan kesibukan yang seperti itu, beliau tak lupa untuk menyambangi santri-santrinya yang berada di Kairo.

***

Saya mengagumi kesahajaan dan kerendahatiannya, yang dengan penuh cinta menggerakkan hati saya menuliskan bait-bait puisi ini untuk beliau, yang semoga selalu dirahmati Allah Swt.

Baca Juga :  Tiga Ilmu yang Harus Dipelajari Umat Muslim

أَحَبِيْبَ قَلْبِيْ يَا قُرَيش شِهَابِ # فَخَّارُ إِنْدُوْنِيْسِيَا بِكِتَاب

اَلْأَشْعَرِيُّ الشَّافِعِيُّ الْأَزْهَرِيْ ال # صُّوْفِيُّ وَالْعَلَوِيُّ فِيْ الْأَنْسَابِ

وَسَمَا نَسِيْمُ الْمُصْطَفَى فِيْ نَفْسِهِ # مُتَوَاضِعًا هٰذَا أُولُو الْأَلْبَابِ

أَيَا رَبِّ زِدنِي مِنهُ حُبًّا وَصُحبَةً # كَزَيدٍ وعَمرو لَا يُفَارِقُها الوَقتُ

O, kekasih sanubari, O, Sidi Muhammad Quraish Shihab. Kebanggaan Indonesia dalam tafsir Al-Qur’an.

Beliau adalah Asy’ari, Syafi’i, Azhary, Sufi, dan Alawy dalam nasabnya.

Keluhuran akhlak Sidna Musthafa saw. tertanam dalam dirinya. Rendah hati. Inilah Ulul Albab yang sebenarnya.

O, Tuhan, tambahkanlah kecintaan dan shuhbah dengannya. Seperti shuhbahnya Zaid dan Amr, yang tak dapat dipisahkan oleh waktu.

 

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here