Tengku Zulkarnain: Ustaz yang Gemar Menjadi Kontroversi

1
42

BincangSyariah.Com – Tengku Zulkarnain adalah Ustaz yang seringkali menuai kontroversi. Ia kerap menjadi tokoh yang diperbincangkan di media sosial lantaran membuat pernyataan dan sikap kontroversial yang membuatnya menjadi viral di beberapa kesempatan.

Tengku Zulkarnain rajin membuat cuitan di Twitter. Pada 12 September 2020, akun Twitternya @ustadtengkuzul tercatat memiliki pengikut sebanyak 393,7 ribu. Ia pun rajin berinteraksi dengan para pengikutnya.

Wikipedia mencatat Tengku Zulkarnain sebagai seorang Ustaz berdarah Melayu Deli dan Riau yang lahir di Medan, Sumatera Utara, pada 14 Agustus 1963. Ia tercatat menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI), periode 2015-2020.

Tengku Zulkarnain menempuh pendidikan S1 di Universitas Sumatera Utara, Jurusan Sastra Inggris. Selain di MUI, ia juga aktif sebagai Ketua Majelis Fatwa untuk PP Mathla’ul Anwar, sebuah organisasi yang fokus pada pendidikan Islam.

Menjadi Tokoh Politik Partisan

Popularitas Tengku Zulkarnain dimulai pada 2017 saat ia ditolak warga Dayak Sintang saat berkunjung ke Kalimantan. Pada tahun itu juga, ia ikut serta dalam Aksi Bela Islam serta aksi-aksi Alumni 212 setelah Aksi 212 pada 2016 silam.

Pada saat Tengku Zulkarnain ikut berpidato di panggung Reuni 212, ia bicara soal pemimpin ideal bagi baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur. Awalnya, ia berbicara soal amanah untuk menjaga NKRI. Tapi bukan sembarang NKRI menurutnya, melainkan menginginkan NKRI yang baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur, atau secara bahasa artinya adalah negeri yang baik dengan Rabb Yang Maha Pengampun.

Ia mengklaim bukan menginginkan NKRI yang melawan agama. Menurutnya, masyarakat harus bekerja sama untuk mewujudkan NKRI yang baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur. Tengku Zulkarnain lalu bicara tentang sosok presiden ideal bagi NKRI yaitu sosok tentara yang dijaga ulama.

Baca Juga :  Mengulas Terjemah Bahasa Melayu Tafsir Alquran Muhamamd Abduh

“Saya kalau ditanya pemimpin yang bisa mewujudkan baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur, siapa presidennya…” kata Tengku Zulkarnain. Massa menyahut pernyataan itu dengan menjawab, “Prabowo!”

Pidato tersebut sama sekali tidak menggambarkan pendapat seorang Ustaz yang mengayomi umat Islam. Pidato tersebut justru mengukuhkan bahwa ia adalah seorang pendukung pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno pada pemilu tahun 2019 yang lalu.

Kemudian, ia kembali disorot media dan netizen pada Agustus 2019 karena menyebut bahwa letak calon ibukota Indonesia yang baru di Kalimantan Timur berada segaris lurus dengan Beijing, ibukota Republik Rakyat Tiongkok.

Dari temuannya tersebut, Ustaz yang acapkali melakukan kontroversi ini juga menyatakan pendapat bahwa letak ibukota di Kalimantan bisa dengan mudah dijangkau dengan rudal. Pernyataannya tersebut direspons oleh Purnawirawan panglima TNI Moeldoko yang mengatakan bahwa rudal saat ini tidak lagi memiliki target garis lurus.

Dari Isu PKI sampai Ajakan Boikot Wikipedia

Belum mau berhenti, ia kembali membuat cuitan di Twitter. Ia mempermasalahkan isi dari artikel Pembantaian di Indonesia 1965–1966 dan Partai Komunis Indonesia di Wikipedia bahasa Indonesia dan membuat tagar #BoikotWikipedia yang menjadi trending topic pada 3 Juni 2020.

Perdebatan tentang sejarah Gerakan Tiga Puluh September (Gestapu) atau G30S masih terus berlangsung di Indonesia. Menjelang hari tersebut, setiap tahunnya, masyarakat akan debat kusir tentang posisi Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai dalang atau korban dalam pembunuhan perwira tinggi militer Indonesia.

Tirto.id mewartakan bahwa Tengku Zulkarnain adalah salah satu orang yang menyuarakan dengan sangat lantang di mana ia menganggap PKI sebagai dalang G30S. Ia terus menebar propaganda di semua lini, termasuk di media sosial dan dalam ceramah-ceramahnya.

Baca Juga :  Bahjat al-Wudluh fi Hadits Opat Puluh: Kitab 40 Hadis Karya K.H.R. Ma'mun Nawawi

Pada Februari 2020, Tengku Zulkarnain menyelipkan narasi PKI sebagai musuh umat Islam dalam ceramahnya. Klaimnya, musuh PKI hanya ada dua yaitu tentara dan ulama. Lalu ia memukul dengan sama rata bahwa semua yang memusuhi ulama di masa kini adalah bagian dari PKI.

Propaganda tersebut terus diulang lagi dengan serial cuitan. Ia menyerang salah satu medium ilmu pengetahuan publik paling populer di Indonesia yakni Wikipedia. Tagar #BoikotWikipedia pun digunakannya untuk memrotes Wikipedia berkaitan sebuah tulisan berjudul “Pembantaian di Indonesia 1965-1966”.

Tengku Zulkarnain bahkan meminta Kepala Kepolisian Indonesia untuk menangkap penulis artikel di Wikipedia tersebut karena isinya dinilai keliru menurut versi Zulkarnain. Alasannya menggugat Wikipedia di antaranya adalah karena artikel tersebut telah dikunci, sehingga dia tidak bisa melakukan penyuntingan.

Sayangnya, tak ada pembuktian-pembuktian berdasarkan fakta sejarah dan pernyataan darinya yang menguatkan bahwa musuk PKI adalah tantara dan ulama. Dalam membuat pernyataan, kita tentu butuh sumber-sumber abash yang dijadikan sebagai rujukan.

Pernyataan Tengku Zulkarnain adalah klaim asal yang tak bersumber dari literatur manapun sehingga kita tidak perlu percaya. Kita justru wajib bertanya, bagaimana Tengku Zulkarnain mempertanggungjawabkan pernyataannya?

Tidak Diakui Sebagai Dosen USU

Riwayat hidup Tengku Zulkarnain juga pernah dipersoalkan. Dalam biodatanya tertulis bahwa ia adalah sarjana dari Universitas Sumatera Utara. Dalam biodata tersebut, tertulis pula bahwa ia melanjutkan studi S2 di Universitas Hawaii. Tengku Zul juga mengaku menjadi pengajar bidang linguistik di Universitas Sumatera Utara selama 30 tahun.

Pengajar di USU, Profesor Yusuf L. Henuk (@ProfYLH) menyatakan dalam akun Twitter pribadinya bahwa Tengku Zulkarnain tidak pernah tercatat sebagai dosen di USU, apalagi sampai 30 tahun. Yusuf L Henuk juga membongkar bahwa Tengku Zulkarnain tidak pernah kuliah S2 jurusan bisnis di Hawai seperti yang dituliskan dalam biografinya.

Baca Juga :  Membicarakan Fatwa "Musik Haram" di Indonesia

Saat melakukan riset, penulis tidak menemukan latar belakang pendidikan agama Islam yang jelas dari Tengku Zulkarnain. Ia tidak tercatat pernah menjadi santri atau belajar di sebuah pesantren tertentu. Wajar jika ada banyak orang yang menyangsikan latar belakang pendidikan agamanya.

Berbagai kejanggalan dalam perilaku, perkataan bahkan jejak riwayat hidup Tengku Zulkarnain tentu membuat kita meragu. Jika hanya ingin mencari kontroversi, tak perlu menjadi Ustaz, orang biasa juga bisa melakukannya.

Sebagai orang yang disebut sebagai “Ustaz”, Tengku Zulkarnain mestinya bisa mengendalikan diri dan lebih berhati-hati lagi dalam membuat pernyataan dan melakukan sesuatu. Seorang Ustaz mestinya menjadi contoh yang baik untuk orang-orang Muslim, bukan sibuk menjadi Ustaz yang gemar mencari kontroversi semata.[]

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here