Teladan Pemimpin Bijaksana: Khalifah Umar Menghadapi Kemungkaran

0
39

BincangSyariah.Com Kisah ini terjadi pada masa Khalifah Umar Ra. Pelaku sejarahnya adalah sang khalifah sendiri. Dalam patrolinya, suatu malam, sang khalifah mendengar suara lelaki sedang menyanyi di dalam rumah. Sontak, beliau pun terdorong untuk melompat masuk ke dalam rumah itu. Maka didapatilah olehnya seorang lelaki sedang bersanding dengan seorang perempuan. Di sisinya juga terdapat khamr.

Sosok pemimpin yang gagah-berani nan disegani bahkan konon oleh bangsa lelembut itu lantas menegur sang lelaki. “Hai musuh Allah! Adakah engkau menyangka bahwa Allah sedang melindungimu di saat engkau sedang bermaksiat kepada-Nya.”

Lelaki itu pun menjawab: “Tunggu dulu, wahai, amir al-mukminin! Aku bermaksiat pada Allah dalam satu perkara. Sementara maskiatmu kepada-Nya ada tiga. Allah berfirman, ‘Janganlah kalian memata-matai’ sedang engkau telah memata-mataiku. Allah juga berfirman, ‘Datangilah rumah-rumah dari pintunya,’ sementara engkau telah masuk dengan cara melompat. Kau pun telah memasuki rumahku tanpa izin padahal Allah telah berfirman, ‘Jangan kalian masuk rumah orang lain sampai kalian meminta izin dan menabik pada penghuninya.’”

Khalifah Umar pun kemudian mempersuasi lelaki yang tertangkap basah tersebut. “Mungkinkah kauberlaku baik apabila engkau kumaafkan?”, tanyanya. Setelah lelaki yang terciduk itu mengiyakan, Umar memafkannya lantas pergi meninggalkannya. Riwayat ini dikutip al-Suyuthi (w. 911 H./ 1505 M.) dalam al-Durr al-Mantsur fi al-Tafsir bi al-Ma’tsur ketika mengulas QS. Al-Hujurat: 12.

Sekadar tambahan, oleh beberapa ulama riwayat ini dijadikan argumentasi dalam menjelasakan hukum berburuk sangka dan memata-matai (tajassus). Al-Ghazali (w. 505 H./ 1111 M.) misalnya, menjadikan riwayat ini sebagai salah satu argumen ketika menegaskan larangan memata-matai orang yang telah menutupi maksiat di dalam rumahnya serta telah mengunci pintunya. Menurutnya, kebolehan menggerebek hanya diperoleh ketika ada tanda yang jelas semisal suara atau kebisingan yang menembus dinding sehingga orang yang berada di luar mendengar. (Ihya ‘Ulum al-Din, juz 2, hlm. 235).

Kisah di atas menunjukkan, dengan otoritas dan kapasitasnya sebagai pemimpin, Sayyidina Umar tak lantas menjadi jumawa, sewenang-wenang dan merasa benar sendiri. Karenanya, ia bersedia dikritik, bahkan oleh lelaki yang didapatinya sedang bermaksiat. Dengan kata lain, dalam situasi demikian, Umar tetap sanggup memandang kritik secara objektif dengan mengambil fokus pada bobot kritik itu sendiri (ma qila), dan bukan pada sosok yang mengajukan (man qala).

Umar pun tak segan mengakui ‘kesalahannya’ (kalau mau disebut kesalahan). Dalam riwayat lain yang dinukil oleh al-Mawardiy (w. 450 H./1058 M.), ia bahkan mengakui kesalahannya secara lisan alias terang-terangan. Ceritanya, Sayyidina Umar pernah menggerebek sekelompok orang yang sedang melakukan dua perkara terlarang. Lagi-lagi, salah seorang dari mereka ‘menyerang balik’, dengan menunjukkan dua kesalahan sang khalifah (tajassus dan masuk rumah orang lain tanpa izin). Apa respon Umar? “Kalau begitu, dua banding dua.”, demikian tegasnya, sembari berlalu mengabaikan mereka. (al-Ahkam al-Sulthaniyyah li al-Mawardiy, hlm. 365-366).

Dalam persepsi umum, sanggahan lelaki di atas, di samping terkesan mencari celah untuk lolos dari hukuman, dapat juga dibilang cukup lancang nan menjengkelkan. Tapi agaknya tidak bagi Umar. Ia justru mengapresiasi kritik tersebut tanpa sedikit pun menampakkan kemarahan.

Lelaki dalam riwayat tersebut, sebagaimana juga ditegaskan Umar, jelas bersalah karena telah tertangkap basah sedang bermaksiat. Namun hal itu belum cukup untuk menjatuhkan sanksi bagi pelaku sebab sang khalifah, katakanlah dalam proses penyidikannya, melanggar tiga prosedur (masuk rumah tanpa izin pemiliknya, juga tidak melalui pintunya, dan memata-matai). Di samping juga karena sang khalifah menyaksikan pelanggaran itu hanya seorang diri.

Hal ini menjadi fakta sejarah bahwa untuk menerapkan sanksi atau hukuman harus memenuhi serangkaian prosedur yang ketat. Dan sedikit saja ada prosedur yang cacat, maka sanksi yang semestinya ditanggung pelaku bisa menjadi gugur. Sebab pada prinsipnya, “Lebih baik salah memaafkan, ketimbang salah menghukum.” Tampaklah bahwa sejatinya Islam didominasi oleh semangat memaafkan daripada semangat menghukum, selaras dengan sebuah hadis qudsi, “Sesungguhnya rahmat-Ku mendominasi kemarahan-Ku.” (Muttafaq alaih).

Andaikan kisah di atas terjadi di tengah-tengah kita hari ini, dan yang menggerebek katakanlah seorang wali kota biasa, bukan sang khalifah yang berjuluk ‘al-Faruq’, pastilah wali kota itu dekat dengan tuduhan pro-kemungkaran. Karena sepintas ia justru membebaskan lelaki yang telah tertangkap basah bermaksiat. Sebaliknya, jika wali kota itu langsung menyeret lelaki yang bersangkutan ke pengadilan, ia akan dicap sebagai pahlawan. Itulah sikap bijaksana khalifah Umar menghadapi kemungkaran.

Wallahu a’lam

Artikel ini terbit atas kerjasama dengan Biro Humas, Data, dan Informasi Kementerian Agama RI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here