Teladan Nabi untuk Para Pemimpin dalam Kitab Maulid Ad-Diba’i

0
729

BincangSyariah.Com – Membaca riwayat hidup Nabi Muhammad sama halnya menghadirkan kembali nilai-nilai dan ajaran yang dicontohkan oleh beliau. Apalagi mengingat kita masih belum beranjak dari bulan kelahiran Nabi. Mayoritas umat Islam di Indonesia biasanya melakukan hal ini setiap malam jumat atau malam senin. Ini menjadi wahana yang tepat misalnya jika dikaitkan dengan semakin jauhnya sikap para pemimpin saat ini dengan apa yang sudah diteladankan Nabi Muhammad.

Kedahsyatan perangai Nabi perlu diketahui umat Islam saat ini. Melalui membaca diba’ rutin secara berjamaah, umat Islam kembali “disentil” untuk berperilaku sebagaimana perilaku Nabi. Misalnya perilaku kita terhadap mereka fakir miskin dan bersikap jujur. Sudah sejauh mana kita meniru Nabi dalam memperlakukan mereka.

Hal ini bisa ditemukan dalam kitab maulid ad-diba’i yang sering dibacakan saat dibaan. Kitab yang berisi pujian dan kisah kelahiran Nabi ini merupakan kitab karya Syekh Abdurrahman Ad-Diba’i. Ia seorang ahli sejarah dari kota Zabid yang lahir pada tahun 866 H/1461 M. Sebagaimana pada umumnya ahli sejarah, ia juga seorang Hafidz, ahli hadis yang hafal 100.000 hadis.

Ada tiga poin penting dari akhlak Nabi Muhammad yang relevan diketengahkan di dalam kehidupan berbangsa para pemimpin negeri. Dalam bagian maulid ad-diba’i disebutkan sebagai berikut:

وَإِذَا دَعَاهُ الْمِسْكِيْنُ أَجَابَهُ يَقُوْلُ الْحَقَّ وَلَوْكَانَ مُرًّا وَلاَ يُضْمِرُ لِمُسْلِمٍ غِشًّا وَلاَ ضُرًّا مَنْ نَظَرَ فِيْ وَجْهِهِ عَلِمَ أَنَّهٗ لَيْسَ بِوَجْهِ كَذَّابٍ وَكَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ بِغَمَّازٍ وَلاَ عَيَّابٍ.

Artinya:

jika diundang oleh orang miskin maka beliau akan memenuhi undangannya. Beliau mengatakan kebenaran meskipun itu pahit, kepada umat Islam, beliau tidak pernah menyimpan rasa dengki dan sifat membahayakan. Barang siapa yang melihat wajahnya, maka pasti ia akan tahu bahwa sesungguhnya beliau bukanlah pembohong. Dan Nabi saw adalah bukan seorang pengumpat dan pencela aib orang lain.”

Baca Juga :  Aktivitas Nabi Sebelum Tidur di Malam Hari

Sebagaimana yang dipaparkan dalam penggalan maulid ad-diba’i di atas, ada tiga hal yang bisa diteladani pada diri Nabi sebagai pelajaran akhlak di kehidupan saat ini. Pertama, Nabi selalu menghadiri undangan atau ajakan orang-orang miskin. Ini memperlihatkan kedekatan Nabi dengan kaum papa. Beliau dengan demikian ialah sosok pemimpin yang selalu membersamai mereka.

Sudah semestinya para pemimpin meniru jejak Nabinya dalam memperlakukan kaum miskin. Karena hal ini yang menunjukan kelahiran Islam adalah spirit melawan hegemoni baik secara ekonomi dan politik oleh kafir Quraish yang menguasai sumber-sumber ekonomi. Sehingga tidak mengherankan jika sang Nabi begitu dekat dengan kaum miskin. Bahkan banyak dari pengikut muslim awal adalah kelompok miskin dan budak.

Selanjutnya, kedua, Nabi Muhammad mengajarkan pada umatnya untuk selalu berpegang teguh pada nilai-nilai kebenaran. Seberat apapun tantangan untuk membela yang benar pasti akan dilakukan oleh Nabi. Membela kebenaran dengan demikian bukan membela tentang “siapa” yang benar, melainkan kepada nilai-nilai yang menjunjung tinggi kebenaran itu sendiri seperti keadilan misalnya.

Seorang pemimpin negara beserta jajarannya misalnya tetap akan berpihak pada rakyatnya. Karena di alam demokrasi, sebuah kebenaran yang diyakini adalah kebenaran yang datang dari rakyatnya. Ia harus tidak segan untuk berseberangan dengan kawan satu kelompoknya – bisa partai, ideologi, atau identitas lainnya – hanya untuk mengungkapkan apa yang benar. Jika ini diamalkan tentu tidak ada lagi berita korupsi, suap-menyuap dan tindakan menyalahi hukum lainnya yang kesemuanya memunggungi nilai kebenaran.

Ketiga, perilakunya yang tidak pernah bertindak bohong. Teladan ini sangat penting di tengah kehidupan yang dipenuhi dengan fitnah dan hoaks. Kepentingan politik dan pemahaman keagamaan yang berbeda dengan lainnya tidak semestinya menjadi alat pembenaran untuk melakukan kebohongan, menyebarkan aib dan bahkan memfitnah orang lain. Apalagi sampai berdampak pada kekacauan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Baca Juga :  Ini Hikmah Mengapa Rasulullah Lahir Hari Senin Bulan Rabiul Awal

Tentu masih banyak teladan-teladan mulia dari baginda Muhammad SAW. Ketiga hal ini hanya sedikit akhlak dari banyaknya akhlak yang dijelaskan dalam Maulid ad-Diba’i.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here