Tawakkul Karman: Memperjuangkan Emansipasi Wanita asal Yaman

1
38

BincangSyariah.Com – Arab Spring menjadi momentum rakyat Arab untuk merubah nasib dari kungkungan pemerintahan otoriter. Berawal dari Tunisia, angin revolusioner terus berhembus kencang menghinggapi beberapa negara Arab dan Afrika termasuk diantaranya Yaman.

Untuk menyuarakan jeritan kaum marginal, aksi demontrasi menjadi tren di tahun itu. Di Yaman hal ini dipicu kerena pemerintah dinilai telah gagal dalam mengelola negara. Ekonomi merosot, jumlah pengangguran meroket dan tindak kejahatan korupsi merajalela.

Para aktivis Yaman terinspirasi dari Tunis untuk menggalang kekuatan warga. Di awal Januari 2011 demontrasi dimulai. Awalnya tuntutan mereka adalah reformasi politik dan ekonomi. Namun di akhir Februari, demonstrasi yang tadinya berjalan damai beralih rusuh. Korban bergelimpangan. Sehingga, tuntutan mereka bertambah. Turunkan presiden.

Keadaan Sosial Politik Yaman

Mengutip Fakhri Ghafur dalam Problematika Kekuatan Politik, kondisi ekonomi Yaman sangat memprihatikan. Setengah dari keseluruhan warga Yaman hanya berpenghasilan kurang dari 2 dolar perhari dan sepertiganya menderita kelaparan. Situasi ini menempatkan Yaman di peringkat empat negara terendah dalam Human Development Index.

Dari sisi politik, Yaman mengalami ketimpangan gender. Berdasarkan keterangan Fadaraliyah ad-Dauliyah Li Huquq al-Insan (Federasi Internasional Hak Asasi Manusia) dalam Rabi’ an Nisa, tahun 2002 dari 1396 orang yang mendaftar sebagai calon anggota parlemen hanya ada 11 perempuan. Dari total kuota 307 kursi, hanya satu wanita diantara mereka yang berhasil lolos.

Pemandangan ini tidak jauh berbeda dengan pemerintahan. Di bawah Presiden Ali Abdullah Shaleh, dari 35 menteri hanya ada dua dari kalangan wanita. Dari 57 duta luar negeri hanya satu dari kalangan wanita. Selain itu masih ada permasalahan lainnya, menjamurnya pernikahan perempuan di usia muda.

Karena desakan yang semakin menggelembung, presiden Yaman bersedia turun tahta sebagaimana kehendak rakyat. Namun, ia tidak berencana melepas semua kekuasaannya. Ia masih ingin bercokol di belakang layar. Hal ini yang membuat teriakan muda mudi terdidik kembali menggema di Yaman.

Baca Juga :  Zakiyah Daradjat: Muslimah Pakar Psikologi Islam di Indonesia

Kemunculan Tawakkul Karman

Satu suara lantang diantaranya berasal dari kalangan perempuan. Dia adalah Tawakkul Karman, ibu dari tiga orang anak. Wanita berusia 32 tahun itu berkarir sebagai seorang jurnalis, politikus, aktivis HAM sekaligus tokoh emansipasi wanita.

Dia lahir tahun 1979 di Taiz, kota yang tersohor banyak melahirkan tokoh – tokoh top Yaman. Bakat politiknya diwariskan dari ayahnya, Abdussalam Khalid Karman yang juga seorang politisi dan ahli hukum.

Jejak pengembaraan intelektualnya cukup mentereng. Dia lulus tahun 1999 di Science and Technology Sana’a University di bidang bisnis. Dan meraih gelar masternya di universitas yang sama di bidang ilmu politik. Lalu mengambil lagi diploma dengan konsentrasi jurnalisme investigasi di Amerika Serikat.

Aktivisme Tawakkul Karman

Berkat keberanian dan kecerdasannya, Tawakkul Karman menjelma menjadi roh pergerakan revolusi di negaranya. Salah satu garda terdepan memimpin masyarakat Yaman memperjuangkan kebebasan pers, HAM dan emansipasi wanita. Dia menjadi simbol pejuang dari kalangan perempuan, sesuatu yang masih sangat tabu di masa itu.

Dalam dunia organisasi, dia terkenal sangat aktif, baik dalam organisasi kemasyarakatan maupun pemerintahan. Dia pernah tergabung dalam anggota partai politik Al Islah, partai terbesar di Yaman. Dan masuk dalam jajaran anggota Koalisi Revolusi Yaman. Selain itu, ia juga merintis berdirinya Sahafiyat Bila Hudud (Himpunan Wanita Jurnalis Tanpa Kekangan).

Melansir Al Jazera, sejak tahun 2009 Tawakkul telah getol memimpin aksi – aksi protes terhadap kinerja pemerintah. Dia pun mendesak Presiden Yaman, Ali Abdullah Shaleh agar turun dari jabatan yang telah dipangkunya selama 30 tahun. Akibat tindakannya itu Tawakkul pernah mendekam dipenjara pada 23 Januari 2011, karena dianggap telah berbuat onar dan meresahkan.

Baca Juga :  Jejak Islam di Andalusia

Namun hal itu tidak membuatnya kapok. Ia kembali berjuang di ruangannya. Dengan kemampuan menulisnya, ia sebar gagasan – gagasan dan kritik – kritik tajam ke media – media nasional dan internasional. Dia juga melebarkan sayapnya ke luar negeri dengan ikut serta dalam berbagai muktamar tentang reformasi politik dan penanggulangan kejahatan korupsi.

Penghargaan Nobel Perdamaian

Perjuangan tanpa kenal lelahnya, mendapat atensi warga dunia. Sehingga setelah melalui berbagai pertimbangan pada 7 Oktober 2011, Komite Nobel menobatkannya sebagai peraih penghargaan Nobel Perdamaian 2011 bersama dua perempuan lainnya yaitu Presiden Liberia Ellen Johnson Sirleaf dan salah satu warganya, Leymah Gbowee.

Komite Nobel menyatakan bahwa ketiganya telah berjuang keras demi terjaminnya keamanan dan hak – hak perempuan. Serta berkontribusi dalam upaya membangun perdamaian dunia dan merealisasikannya.  Dengan demikian, Tawakkul Karman mencetak sejarah baru sebagai perempuan Arab pertama yang mampu meraih penghargaan bergengsi itu.

Berita peraihan Nobel ini mengguncang Yaman, beberapa kalangan mencibir hadiah tersebut karena menganggap Tawakkul tidak lebih dari seorang pemberontak. Namun di sisi lain, tiga hari setelah penobatannya, 10.000 wanita Yaman turun ke jalan melakukan demonstrasi damai untuk merayakan raihan tersebut.

Saat diwawancara alarabiya, Tawakkul menghadiahkan prestasinya ini untuk masyarakat Arab yang sedang berjuang meraih perdamaian. “Saya sangat senang sekali dengan kehormatan ini, saya persembahkan hadiah ini untuk masyarakat Arab, para perempuan, warga Yaman dan semua aktivis yang telah berjuang di lapangan”, ucapnya.

1 KOMENTAR

  1. […] Sumber : bincangsyariah.com Alhamdulillah yarham umat Muhammad. Allohumma Sholli Wa Sallim Wa Barik ‘ala Nabiyina Muhammad. Subhanalloh Wa Alhamdulillah Wa Laailaaha illa Alloh Allohu Akbar. Astaghfirullah Lilmuslimin Wal Muslimat. Jazakumullah sudah ikut men-share (membagikan) konten ini, semoga jadi amal jariyah untuk kebaikan dunia akhirat kita. Aamiin. […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here