Tausiah Pernikahan dari Embah Maemun Zubair

0
633

BincangSyariah.Com – Embah K.H. Maemun Zubair dalam tausiah pernikahan tadi siang, 11.03.18, di Pesantren Kempek bercerita tentang istri-istri Nabi. Yang pertama adalah Siti Khadijah al-Kubra. Berbeda dengan tradisi umum. Khadijah melamar Muhammad, bukan sebaliknya. Kata embah Maemun:

فَخَاطَبَتْهُ خَدِيْجَةُ الْكُبْرَى فَلَمْ يُجِبْ وَفَوَّضَ أَمْرَهُ إِلَى عَمِّهِ أَبِيْ طَالِبٍ.

Siti Khadijah melamar Muhammad (Nabi). Beliau tidak menjawab dan menyerahkan urusan dirinya kepada pamannya, Abu Thalib yang kemudian menerima pinangannya.

Siti Khadijah adalah istri yang sangat mencintai Nabi, dan Nabi juga sangat mencintainya. Ia orang pertama yang mempercayainya sebagai rasul Allah ketika orang lain tidak mempercayainya. Ia yang menguatkan hatinya tatkala beliau gundah. Ia yang sampai akhir hayatnya mendukung sepenuhnya perjuangan Nabi. Ia seorang janda pengusaha sukses yang dengan tulus menyerahkan seluruh kekayaannya untuk perjuangan Nabi. Sekitar 25 tahun Nabi bersamanya. Ia satu-satunya istri Nabi sampai wafatnya. Nabi sangat berduka ditinggalkan perempuan cinta pertamanya itu.

Saat embah Maemun Zubair menyampaikan kisah Siti Khadijah tadi, aku ingat lagi kata-katanya yang lembut penuh kasih: usai menerima wahyu pertama, Nabi pulang dalam keadaan penuh ketakutan. Beliau minta diselimuti. Khadijah menyemuti beliau. Setelah mulai tenang, beliau berkata, “Apa yang terjadi denganku? Dan:

لَقَدْ خَشِيْتُ عَلَى نَفْسِيْ.

Sesungguhnya aku mengkhawatirkan keadaan diriku sendiri, sayang.

 قَالَتْ: كَلَّا وَاللَّهِ، مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا، إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ، وَتَحْمِلُ الْكَلَّ، وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ، وَتَقْرِي الضَّيْفَ، وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ.

Khadijah dengan bijak berkata dengan lembut, “Tidak, sayang, demi Allah, Allah pasti tidak akan membiarkanmu direndahkan. Engkau suka menyambung tali persaudaraan, meringankan beban orang lain, memberi makan orang yang miskin, menjamu tamu, dan menolong orang yang terhina karena menegakkan kebenaran.

Betapa indahnya kata-kata itu.[]

Baca Juga :  Membedah Pemikiran Abid Al-Jabiri

[Tulisan ini disadur dari buku Lawaamii’ al-Hikmah ‘Pendar-pendar Kebijaksanaan’]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.