Tantawi Jauhari dan Tafsir Ilmi

0
442

BincangSyariah.Com – Kabarnya Fakhru al-Din al-Razi, seorang ulama yang terkenal lewat karya babonnya dalam bidang tafsir bernama Mafatih al-Ghayb, pernah kena “damprat” ulama karena tafsirnya dianggap telah memasukkan apa saja yang sebenarnya tidak memiliki hubungan dengan tafsir. Fihi Kullu Syai’in, illa al-Tafsir, apa saja ada di dalamnya (tafsir ini), kecuali tafsir itu sendiri.

Indikator berhubungan atau tidak, menurut al-Suyuthi adalah karena al-Razi telah menyertakan pendapat-pendapat para filsuf (al-hukama), dan sejenisnya hingga menjadikan pembacanya berdecak kagum karena penafsirannya bisa menyimpulkan sesuatu yang berbeda dari isi ayat tersebut (Al-Itqan: 3/60).

Kurang lebih, ungkapan di atas memberikan gambaran kalau sejak dahulu sudah ada upaya pengkotak-kotakan dalam bidang keilmuan, termasuk bidang keilmuan Islam. Filsafat adalah di antara bidang yang “disisihkan” karena selain dianggap tidak benar-benar dibutuhkan dalam memahami teks-teks Alquran, ia juga seringkali mengundang perdebatan yang menyebabkan perselisihan tajam diantara para ulama.

Namun, bagaimana kalau filsafat – lalu kemudian ilmu-ilmu lain yang sebenarnya lahir dari perpanjangan pemahaman filosofis, seperti ilmu-ilmu alam (bahasa Arab: ‘Ulum al-Thabi’ah) digunakan dalam menjelaskan kebesaran-kebesaran Allah dan kebenaran-kebenaran ilmiah tentang ayat-ayat Alquran?

Pertanyaan itulah yang ditawarkan dalam gagasan yang kita kenal di masa sekarang sebagai Tafsir ‘Ilmi. Sebenarnya, al-Ghazali (w. 505 H) sudah memulai gagasan ini lewat karyanya Jawahir al-Alquran.  8 abad sesudahnya, di Indonesia pun dikenal seorang Mufasir yang juga membawa gagasan klasifikasi ayat-ayat tentang ilmu alam di dalam Alquran, yaitu Prof. Dr. Mahmud Yunus, dari Sumatera Barat yang pernah belajar di Dar al-‘Ulum.

Besar kemungkinan, ia pernah belajar dengan Syekh Thantawi Jauhari, karena ia pergi ke Mesir di sekitar tahun 1920-an. Ulama Mesir inilah salah satu tokoh yang telah melakukan capaian penulisan kitab tafsir dengan penjelasan-penjelasan ilmu alam, filsafat, hingga ilmu sejarah.

Baca Juga :  Seni Tabayun di Era Digital

Profil dan Setting Sosial Tantawi Jauhari

Pada masa beliau lahir, Mesir berada di masa pertama kalinya merasakan penjajahan bangsa Barat, yaitu Prancis selama 3 tahun (1798-1801). Masyarakat Mesir pada akhirnya bisa mengusir penjajahan yang dipimpin langsung oleh kaisar Prancis, Napoleon Bonapartre. Namun, setelah kepergian Prancis, masyarakat Mesir seolah merasa “tergugah” untuk menyadari, bahwa pengalaman penjajahan oleh Prancis itu menandakan kelemahan kondisi masyarakat Mesir sehingga mudah disusupi oleh penjajah.

Pada waktu itu, muncullah inisiatif Syekh Hasan al-‘Attar, pemimpin tertinggi al-Azhar waktu itu untuk mengirim beberapa guru di Al-Azhar untuk belajar ke Barat, termasuk Prancis, negara yang pernah menjajah negeri Mesir sendiri.

Program ini direalisasikan pertama kali ketika Syekh Rifa’ah Thahtawi dan Muhammad ‘Ali Thanthawi yang masing-masing pergi ke Paris dan Leningard, Rusia dalam rangka menjelaskan tentang makna nilai-nilai modern dan ilmu-ilmu yang ada di Barat yang sesuai dengan Islam.

Rifa’ah Thahtawi misalnya, ketika kembali ke Mesir menginisiasi upaya penerjemahan buku-buku keilmuan Prancis dan dari bahasa-bahasa Eropa lain kedalam bahasa Arab. Untuk  Dimulai dari sini, kesadaran akan perlunya menghadirkan penjelasan-penjelasan ilmiah, dengan berbasis ilmu alam dalam menafsirkan populer kembali. Hasilnya, muncullah peradaban Mesir yang mencoba berinteraksi, bercengkerama dengan dunia modern. Termasuk dalam upaya ini adalah apa yang masyhur sekarang dengan nama tafsir ‘ilmi

Tantawi Jauhari lahir pada tahun 1840. Ia memulai masa belajarnya di kampungnya sendiri, layaknya anak-anak Mesir lainnya dengan menghafal Alquran. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan Tsanawiyah di Al-Azhar. Ia pernah kembali ke kampungnya ketika terjadi sebuah revolusi di Mesir karena terjadi kekacauan di pusat kota, namun ia kemudian kembali dan melanjutkan pendidikannya di Kulliyatu Dar al-‘Ulum, di bawah Universitas Mesir (al-Jami’ah al-Mishriyyah).

Perkuliahan di sanalah yang menyebabkannya begitu tertarik dengan ilmu bernafaskan sains, dan bagaimana relasinya dengan penafsiran Alquran. Ilmu yang diajarkan di Dar al-‘Ulum seperti sains dan astronomi, menurutnya tidak diajarkan di Al-Azhar. Ia mengakui, bahwa pada masa inilah ia bisa membaca apa yang diinginkan oleh jiwanya (Kuntu fi hadzihi al-madrasati aqra’u maa yarwii dhama’a ruuhii).

Sebagai orang yang gandrung dengan keilmuan, ia terus mengajar setelah menamatkan pendidikannya dari Dar al-‘Ulum. Ulama yang menguasai bahasa Inggris dengan baik – terbukti ia pernah menerjemahkan karangan Lord Arberry dan beberapa syair Arab serta mengikutkan pendapat para pakar Barat ketika menulis tafsir – ini pernah di Madrasah Ibtidaiyyah di Damanhur, kemudian berpindah-pindah ke sekolah lain selama 10 tahun (1900-1910) sampai akhirnya mengajar di Dar al-‘Ulum di tahun 1911.

Baca Juga :  Abdullah Yusuf Ali dan Tafsir Rujukan di Barat

Ketika Inggris menjajah Mesir, ia ikut melawan lewat karya tulis. Ia terhitung pernah ditangkap oleh pihak Inggris karena ia memiliki kecenderungan nasionalis lewat tulisannya tahun 1919 di koran al-Liwa bertema “bangsa yang diperbudak, dilemahkan, dan bagaimana melakukan reformasi” (al-Umam al-Musta’badah wa al-Umam al-Mustadh’afah wa Wasai’il al-Ishlaah).

Ia dikenal sebagai aktivis perdamaian. Ia memiliki gagasan bahwa ilmu-ilmu yang “bersumber” dari Barat, seperti arsitektur, teknik, matematika, Astronomi, dan ilmu berbasis logika dan bukti empirik harus digunakan sebagai sarana mewujudkan perdamaian.

Untuk soal ini, ia pernah menulis dua buku tentang “mimpinya” mengenai fungsi ilmu pengetahuan sebagai jalan perdamaian, yaitu “Dimana Manusia ?” (Ayna al-Insan) dan   Di tahun 1935, ia pernah menjadi kandidat penerima Nobel perdamaian

Tantawi Jauhari dan Jawahir al-Alquran

Al-Jawahir fi Tafsir al-Qur’an diakui sebagai tafsir pertama yang paling lengkap menghadirkan penafsiran setiap ayat al-Alquran dengan menggunakan penjelasan filosofis, sains, historis, dan ilmu-ilmu lain.

Saya diciptakan untuk menggandrungi keajaiban-keajaiban alam, mengagumi pencitaan alam, serta rindu akan keindahan-keindahan alam yang ada di langit, kesempurnaan dan keelokan sesuatu yang ada di bumi, tanda-tanda yang jelas, matahari yang berputar dan bulan yang beredar, bintang yang bersinar, serta awan yang muncul dan menghilang (al-Jauhari: 1/2), begitulah motivasi awalnya menulis tafsir ini.

Selain itu, ia menyadari bahwa para ulama di masanya jarang menjelasan keindahan alam semesta ketika menjelaskan ayat-ayat kauniyyah (alam semesta). Padahal menurutnya, ayat-ayat yang berbicara tentang ilmu pengetahuan –termasuk keindahan alam– berjumlah 750 ayat. Sangat mungkin umat Muslim bersaing dengan orang Eropa (al-Faranjah)– yang sedang mengalami kemajuan dalam berbagai ilmu- sementara dengan ayat Alquran yang berisi tentang hukum hanya 150 ayat.

Baca Juga :  Speaker Masjid yang Bidah Dalalah dan Intoleran

Tafsir setebal 25 jilid ini mulai ditulis ketika ia mengajar di Dar al-‘Ulum, almamaternya sendiri. Di kampus ini ia pernah mengajar Tafsir, Hadis, serta memberikan kuliah umum khusus dibidang Filsafat Islam. Ketika dimulainya penjajahan Inggris atas Mesir, ia dipindahkan ke Iskandariyah dan mengajar di Madrasah al-‘Abbasiyyah al-Malikiyyah.

Di kota ini juga, ia meneruskan pengajar tafsirnya lewat terbitan di majalah al-Abbasiyyah dan mendirikan perkumpulan al-Jam’iyyah al-Jawhariyyah bersama para pelajar disana untuk media menyampaikan gagasannya mengenai tafsir. Di tahun 1922, ia sudah tidak lagi mengajar, namun hingga 1935 ia meneruskan penulisan tafsir ini hingga tuntas menjadi 25 jilid. Sampai beliau wafat di tahun 1940, tafsir ini telah dicetak dua kali oleh penerbit Mustafa al-Bab al-Halabi di Mesir.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here